Senin, 07 Oktober 2013

Terlihat tapi takkan pernah tersentuh

Entah telah beberapa bulan berjalan ini, aku menyukai dan mengagumi lukisanmu. Sunggu, aku sangat tertarik dengan hasil karya-karya tangan lihaimu itu. Aku selalu menyukai cara kamu menuangkan imajinasi yang kamu miliki menjadi goresan-goresan sempurna yang merayuku agar terus memperhatikan lukisan sederhana itu hingga sedetai-detailnya.

Kamu tentu akrab dengan hal-hal berbau cinta, karena lukisan itu akan selalu memiliki cinta yang lebih disetiap pembuatannya. Cinta bisa datang dari mana saja, bahkan dari goresan-goresan sederhana yang terlihat bernyawa berlukiskan wajahmu. Aku... salahkan aku jika jatuh cinta kepadamu hanya karena lukisanmu. Aku ingin menjadi bagian dalam pikiranmu agar aku dapat mengetahui setiap detail-detail pemikiran yang sedang ingin kamu tuangkan dalam selembar kanvas. Aku tak pernah mengira hal ini akan terjadi, bahwa ternyata lukisanmu dapat membuatku memiliki rasa cinta terhadapmu. Bagaimana mungkin kamu sapat membuatku terlalu cepat untuk terjatuh tanpa pernah sekalipun kamu menolongku untuk bangkit?

Dalam diamku, aku membiarkan jejakmu untuk menghantui otakku. Kamu meramaikan pkiranku, menyisakan jejak-jejak kerinduan yang tetap berlarian mengitari otakku. Aku tak juga dapat menemukanmu. Kamu siapa yang berani mengacaukan dan mengganggu isi pikiran dan hatiku? Dan mencoba menguasai setiap malamku dengan lukisanmu. Kamu dapat membantuku mengendalikan perasaan ini melalui lukisanmu. Kamu merelakanku untuk selalu menebak-nebak rupamu dalam dunia nyata, bukan malah dalam sebuah karya lukisan yang mengajariku cara berkomunikasi denganmu. Aku ingin mengenalmu secara nyata, aku menginginkan suaramu terdengar oleh telinga ini, sungguh aku sangat menginginkannya.

Dalam lukisanmu ini, aku menarik kesimpulan bahwa kamu senang dengan hal-hal yang berkaitan dengan alam dan sedang menunggu seseorang. Haha, maafkan ke-sok-anku yang kuperlihatkan kepadamu. Betapa sangat beruntungnya wanita yang sedang kamu tunggu. Betapa beruntungnya wanita itu, wanita yang bisa membuatmu tersenyum dan tertawa dalam kesunyian yang menurutku kamu sangat bahagia dengan kehadirannya. Seandainya saja, wanita itu adalah diriku, aku takkan membuatmu menunggu. Aku kan membuatmu melupakan bagaimana rasanya menangis. Aku takkan membiarkanmu tertawa tanpa adanya tempat berbagi kebahagiaan. Aku tidak akan memberikanmu dambaan semu terhadap cinta yang selalu kaujaga agar tak terluka dan tak ternoda. Perhatikanlah, anak seumuran diriku yang masih kecil telah membicarakan tentang cinta! Begitu lucukan, bahkan tak masuk dinalar fikiran kita.

Aku menyadarinya. Kita bahkan tak pernah sekalipun bertemu, banyanganmu begitu beranekaragam di pikiranku yang begitu saja menyatu dalam kenyataan ini bahkan mengisi kehidupan nyataku. Ada bermacam-macam rupamu yang tergambarkan dibenakku hingga aku tak mengetahui rupamu yang sebenar-benarnya.

Memiliki rasa ini tak cukup hanya dengan menatap lukisan hasil karyamu yang terpajang di kamarku. Mencintaimu? tak akan cukup dengan menyentuh lukisanmu. Aku berharap kepadamu pria sang penikmat seni, aku mengajakmu sekarang! Masuklah dalam dunia nyataku ini, perhatikan setiap detail isi dari hatiku kini, hanya kamu yang hingga saat ini menghiasi ruang-ruang indah ini yang sebelumnya hanya wujud ruang-ruang tak berwarna dan kosong didalamnya.

By: Unknown~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar