Entahlah, aku tak tahu. Apakah kamu terlalu bodoh untuk menilai perasaanku, atau terlalu egois untuk memikirkan dan memaklumiku. Aku telah berusaha untuk sabar, berusahan sabar menghadapimu, segala ketidak-peduli-anmu, dan segala ketidak-pasti-anmu. Aku mencoba bertahan,, mencoba mempertahankanmu yang semestinya aku tinggalkan. Aku sudah terlalu sabar untuk menunggu terlalu lama, mengharapkan pengertian dan perhatianmu untuk menuju kearahku. Tetapi, segalanya tak kunjung datang menghampiri. Kamu tetap saja dengan sikapmu, dengan segala perkataanmu, dan dengan perlakuanmu yang takkan pernah berubah.
Apakah segala kesabaran dan perjuangan yang kulakukan kepadamu tak pernah terlihat dimata indahmu? Kamu sebenarnya mengetahui segalannyakan? Mengapa kamu hanya diam membisu di hari-hari kebersamaan kita?
Kamu begitu jauh disana, sangat terbatas yang kamu lakukan untukku selain mengirimkan pesan singkat ataupun menyapaku melalui percakapan kita diujung telepon. Kita hanya bisa saling merindukan. Rasa sakit ini semakin dalam terasa, membuat luka yang mungkin sangat sulit untuk sembuh. Semakin jarang aku melihatmu, semakin besar pula ketakutan yang kumiliki disini.
Apakah aku harus membandingkanmu dengan pria-pria lain yang lebih cerdas dan cerdik dalam meluangkan waktunya untukku daripada kamu yang hanya meluangkan sedikit waktumu untukku? Kamu tak pernah peduli dengan rasa sakit, rasa perih, dan rasa sedih yang selalu bahkan setiap hari kurasakan. Kamu membiarkan aku menyelesaikan permasalahan ini sendirian tanpa ada kata "kita" didalamnya. Apakah ini bentuk kepedulianmu terhadapku? kepedulian yang sering menjadi bahan per-cekcok-an diantara kita? Sebenarnya kepedulianmu mana? kehadiranmu disisiku mana? Semuanya KOSONG! Nol Besar!
Jangan pernah katakan "Rindu" jika kamu tak berada disini dan membuktikan segalanya dengan sikap dan perbuatan!
By: Unknown~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar