Sabtu, 05 Oktober 2013

Mereka yang berjuang...

Sesuatu yang dipersatukan Tuhan pasti tak dapat dipisahkan oleh manusia. Seringkali kita semua menyebutnya dengan jodoh. Ketika kita melakukan apapun, kita akan berada di jalan yang sama. Ketika kita mecoba untuk pergi, jodoh akan menuntun kita untuk kembali ke jalan yang sama. Semua berputar pada jalan yang telaj ditakdirkan, disinilah konsep jodoh menjadi semakin tereksplorasikan. Banyak yang berkata, jika jodoh berarti memiliki banyak kesamaan. Banyak yang bilang, jodoh erat kaitannya dengan hilangnya perbedaan. Dan katanya lagi, jodoh adalah persoalan saling memiliki satu sama lain. Jadi jika itulah yang dinamakan jodoh, bagaimana dengan mereka yang jelas-jelas memiliki banyak perbedaan?

Ketika seseorang jatuh cinta maka menimbulkan banyak rasa juga tanya. Ada yang bertemu, begitu mudah jatuh cinta, lalu kemudian saling memiliki. Ada yang tidak sengaja bertemu, menjalin sebuah persahabatan, lalu saling memiliki rasa saling mencinta. Bahkan ada lagi yang tak pernah merencanakan apapun, tiba-tiba memiliki rasa jatuh cinta namun tak terwujud karena memiliki perbedaan seperti perbedaan agama.

Apakah kita perna melirik sejenak pada kaum Adam dan Hawa yang jatuh cinta walau memiliki perbedaan? Seberapa besarkah perjuangan yang mereka lakukan hanya untuk merasakan jatuh cinta layaknya pasangan-pasangan normal lainnya? Mereka biasanya terpojokkan oleh perbedaan yang orang-orang katakan sangat sulit untuk disatukan, norma Agama... sesuatu yang telah menjadi tumpuan dan tak bisa lagi untuk ditawar. Mereka berbeda dan akan tetap berbeda tapi masih tetap pula untuk memperjuangkannya, mereka terus-menerus menemukan banyak luka tetapi sebisa mungkin berusaha untuk tak terlihat kesakitan di depan publik.

Ketika pasangan yang lain sibuk untuk bermesraan tanpa pernah mengerti arti cinta yang sesungguhnya, mereka hanya sibuk mengeja dan menghapalkan doa yang sama meskipun diucapkan dengan bahasa yang berbeda. Didalam setiap sujud, dalam setiap lipatan tangan, dalam setiap sentuhan Al-Qur'an, dan dalam setiap sentuhan Alkitab mereka saling mendoakan agar tetap dipersatukan, meskipun mereka tahu segalanya tak memungkinkan untuk terjadi.

Segalanya dilalui dengan cara yang berbeda, apakah yang sebenarnya terjadi diantara mereka? apakah salah mereka? Hingga dunia memperhatikan dan menatap mereka layaknya penjahat yang telah melakukan kesalahan yang sangat besar dan tak berhak untuk membela diri mereka. Apa salah mereka, jika mereka tetap sama-sama mengenal Tuhan meskipun memanggil-Nya dengan nama yang berbeda?

Jika Tuhan menginginkan sebuah kesatuan yang utuh, mengapa Tuhan menciptakan perbedaan diantara seluruh kaum di muka bumi ini? Apa artinya cinta dan Bhineka Tunggal Ika yang menjadi semboyan bangsa ini jika semua itu hanya abadi dalam ucapan bibir saja? Kami tak bisa menerka-nerka apa yang ada diluar nalar pikiran kami Tuhan.

By: Unknown~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar