Ku hentakkan sepatu ku dengan keras pada jalan aspal. Membungkukkan badanku dan meletakkan tanganku pada perutku. Nafasku naik-turun. Aku mencoba mengatur nafasku dan menoleh sedikit kebelakang. Sudah tidak ada lagi yang mengejarku. Aku bukan pencuri yang sedang dikejar oleh para warga. Nanti ku ceritakan.
Beberapa mata memandangiku aneh, apa peduli ku? Aku sedang kesal dan aku tidak perduli dengan orang-orang yang ingin tahu itu. Kenapa tidak ada yang ingin membiarkanku untuk bahagia barang sebentar saja? Seakan-akan aku hidup hanya untuk bersedih. Keinginan ku jarang dipenuhi. Selalu ada batasan-batasan yang tidak ku mengerti apa alasannya. Mereka juga tidak pernah ingin memberitahuku dan aku tidak ingin repot-repot untuk memaksa mereka memberitahuku. Melalui barang-barang itu aku bisa tersenyum, memamerkan pada teman-temanku, dan yeah.. rasa bangga akan muncul. Menjadi yang terbelakang adalah mimpi buruk bagiku (yang berusaha terus ku jauhkan). Dan sekarang mereka mencoba membuatku menjadi yang terbelakang. Oh, tidak! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
Kaki ku terus melangkah tanpa arah, aku membiarkan sepasang kaki ku melangkah kemanapun mereka inginkan. Selama sepasang kakiku sibuk menentukan arah, kepalaku sibuk untuk berpikir menentukan cara agar keinginan ku bisa terpenuhi. Aku masih kecil, aku memiliki banyak kebutuhan yang kuinginkan dan merasakan penolakan adalah hal terakhir yang ingin kucapai, beberapa teman sebaya ku juga memiliki pemikiran yang sama denganku. Penolakan adalah hal yang kami benci.
Indra penciumanku...menghirup udara yang...asing. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku beberapa kali. Memperhatikan sekitarku. Kenapa aku bisa disini?
Sepasang manik mataku menjelajah sekitarku. Aku harus lari. Aku harus lari. Aku harus lari. Ku ucapkan kalimat tersebut berulang kali dalam hati, memerintahkan tubuhku. Tetapi tak sedikitpun bagian dari tubuhku yang bergerak. Hanya manik mataku yang masih mengawasi sekitar. Berjaga-jaga.
Kemudian giliran indra pendengaranku yang menajam, aku mendengar suara tawa yang terdengar begitu ceria. Sepasang manik mataku berhenti diasal suara tersebut.
Tawa-tawa ceria itu...Senyum-senyum bahagia itu...dan mata yang berbinar-binar tetapi terlihat menyimpan begitu banyak cerita.
Aku tertegun.
Tangan-tangan mungil itu kotor dengan tanah, baju mereka terlihat begitu kusam bahkan terlihat tak pantas untuk digunakan, wajah lucu mereka tertutupi oleh debu, dan kulit mereka menghitam karena terlalu lama diterpa terik matahari. Mereka tidak memperdulikannya.
Tapi... kenapa mereka tampak begitu bahagia?
Aku menundukkan kepalaku, memperhatikan pakaian yang ku gunakan sendiri lalu beralih memandang pada mereka lagi. Bisakah aku bahagia dengan seperti itu?Aku...aku tidak yakin.
Mereka berlari-lari kecil menuju sebuah rumah. Bukan, bukan rumah. Aku juga tidak tahu, apa yang kau namakan untuk kardus-kardus yang disusun menjadi kotak?
Mereka semua duduk di atas kardus, seseorang yang lebih tua dari mereka muncul membawakan dua bungkus plastik. Aku melangkah lebih mendekat, mencoba melihat lebih jelas isi dari dua bungkus plastik tersebut. Oh, nasi bungkus. Tapi tak ada lauk. Hanya nasi. Seseorang yang lebih tua dari mereka membagi dua bungkus nasi menjadi beberapa bagian hingga semuanya mendapatkan nasi mereka pada plastik putih. Tidak ada piring.
Mereka semua menundukkan kepala. Berdoa? Ya, mereka memang berdoa. Aku bisa mendengar mereka serempak berucap ''Amin'' setelahnya. Lalu tangan-tangan kotor itu mulai menyentuh nasi masing-masing. Memakannya seolah-olah yang mereka makan saat ini adalah nasi dengan lauk yang begitu lezat. Bergantian mereka saling menatap dan tersenyum. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa mereka tersenyum? Hatiku rasanya ngilu. Aku meringis. Tanpa kusadari sudah banyak titik-titik air mata mengalir pada pipiku tanpa bisa kucegah.
Aku menyadari sesuatu.
Tidak seharusnya aku seperti ini. Tidak seharusnya aku menuntut pada hal-hal yang tidak benar-benar aku butuhkan. Tidak seharusnya aku menjadi seseorang yang begitu bangga dengan apa yang kumiliki. Tidak seharusnya aku menjadi seseorang yang begitu tutup mata pada hal-hal yang seharusnya dari awal sudah kulihat. Tidak seharusnya aku menjadi seseorang yang... Ya ampun! Aku begitu malu dengan diriku sendiri.
Sebuah tepukan pada bahuku membawaku kembali pada kesadaranku. Aku menoleh. Orang itu tersenyum penuh makna padaku, aku berusaha membalasnya. Ia mengangguk dan menuntunku berjalan pulang. Selama dijalan, orang itu membisikan ku sebuah alasan atas semua keinginanku yang tidak bisa dipenuhi. Aku mengerti dan aku sudah menyadarinya sebelum aku diberitahukan.
Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi seseorang yang lebih baik setelah ini. Karena Tuhan sudah menyadarkan ku dengan caranya sendiri dan aku bersyukur Tuhan memilih cara seperti ini untuk menyadarkanku.
Menyadari bahwa...
Kebahagiakan itu sederhana jika kau menginginkannya. Bersyukur dengan apa yang kau miliki maka kebahagian itu sendiri datang padamu tanpa kau sadari. Tidak perlu menuntut. Hanya bersyukur.
Jangan tutup matamu terhadap hal-hal kecil. Buka terus. Lihat apa yang ada diluar sana. Orang-orang yang membutuhkan. Kau beruntung, salah! Sangat beruntung. Diluar sana, banyak yang lebih kekurangan. Kau menyadarinya, bukan?
Lalu alasan apa yang membuat mu enggan untuk bersyukur? Enggan untuk mengulurkan tangan?
Can i get an answer? Haha i'm just kidding but if u don't mind, please send your answer on twitter(if u know who i am) but i guess no one will send me an answer. It's ok.. tulisan ini hanya tulisan biasa. Banyak yang berpikiran kesini. But i tried to make it look a little different. Did i succeed?
P.S : i hope u can get something or learn something from my writing:) love yaaaa...
by: abstrack xoxo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar