Tanganku terulur dengan cepat meraih headsetku, menyalakan musik, melepaskan sepatu yang ku gunakan, mengangkat kedua lututku hingga sejajar dengan dada lalu memeluk lututku, kemudian menenggelamkan wajahku disana. Bahu ku berguncang...perlahan...hingga guncangan itu semakin besar. Isakanku tak tertahankan di dalam ruang kamarku yang sempit ini. Setelah beberapa menit, aku mengangkat kepalaku. Melarikan jemari-jemariku pada rambutku, mengenggam beberapa helai rambutku lalu aku menariknya..
Aku berteriak. Berteriak sekeras-kerasnya. Suara ku bergema di dalam ruangan ini. Aku tidak peduli jika ada yang mendengar teriakanku. Terlalu lelah untuk memikirkan orang lain saat ini.
Sebut aku gila tapi inilah yang bisa aku lakukan untuk meluapkan emosi yang selama ini tertahankan dalam hatiku. Yang selama ini ku kunci di dalam sana. Kali ini saja, aku mohon. Biarkan aku terpuruk selama beberapa jam. Biarkan aku meluapkannya. Biarkan. Aku tidak akan merepotkan siapa-siapa hanya karena terpuruk dan jangan pernah bertanya ''kenapa''. Kau hanya membuatku mengingat apa yang tidak ingin ku ingat. Katakan saja, ''ceritakan bila kau siap''.
Aku sudah mencapai dasar dalam diriku sendiri yang paling dalam. Aku sudah...tidak kuat lagi. Hatiku sudah terlalu penuh dengan rasa sesak. Kau juga pasti pernah merasakan apa yang kurasakan, saat kau sudah tidak bisa menahan luapan yang ingin keluar dalam hatimu. Saat kata ''sabar'' sudah tidak mampu lagi untuk menenangkanmu. Saat orang-orang disekitarmu tidak lagi bisa menghiburku. Dan pada akhirnya kesendirianlah pilihan yang paling tepat saat itu. Pernah, kah?
Aku membaringkan tubuhku pada lantai kamarku yang dingin. Kembali memeluk lututku. Meringkuk bagaikan seorang bayi. Isakanku semakin besar. Terkesan aku berteriak.
Sebut aku lemah. Tapi ini batasan ku bisa menahan semuanya. Sudah ku katakan, kali ini saja. KALI INI SAJA! Jadi mungkin dan semoga saja ini adalah hari terakhir aku seperti ini.
Semoga saja...
Memori-memori menyakitkan itu kembali berputar dalam batok kepalaku. Seolah memang ada rekaman khusus yang akan memutarnya jika aku ingin.
Saat aku menyalahgunakan kepercayaannya yang membawaku dalam masalah besar..
yang membuatku harus melepaskan seseorang yang penting dalam hidupku, membiarkan orang itu membenciku tanpa mendengarkan cerita dari sudut pandangku. Tak bisakah kau mendengarkan dari sudut pandangku juga karena kau hanya mendengarkan cerita itu dari satu pihak? Ah! Aku lupa. Memang seperti ini yang aku inginkan.
Dan tak lama setelah itu, aku harus merasakan ditinggalkan oleh seseorang yang penting karena kecerobohan ku sendiri. Apa yang aku bisa perbuat? Hanya memohon, mencoba menjelaskan, dan hasilnya? Gagal! Karma, kah? Aku melepaskan seseorang yang penting dalam hidupku dan tak lama kemudian aku orang yang juga di campakkan. Tapi sebenarnya aku melepaskan seseorang itu demi seseorang yang mencampakkan ku. Apa ini adil untukku? Mungkin, iya. Kehilangan dua orang yang paling penting dalam hidup dalam waktu yang hampir bersamaan. Bisa kau bayangkan itu?
Hari itu adalah masa dimana yang paling kelam dalam hidupku. Masa dimana aku merasa bahwa aku-lah orang yang paling terpuruk didunia ini. Sangat menyakitkan.
Ku pejamkan mataku, membakar rekaman menyakitkan di masa lalu ku tersebut. Aku-Tidak-Ingin-Mengingat-Ingatnya-Lagi! Mengingatnya hanya akan membawakanku ke dalam penyesalan kembali. Hari ini.. hari terakhir aku seperti ini.. dan hari dimana aku harus memulai cerita hidupku dibuku yang baru. Karena kata Selamat Tinggal telah ku ucapkan untuk seseorang di masa laluku.
Aku menghapus sisa-sisa air mata di pipiku dengan punggung tanganku. Mengubah posisiku menjadi duduk dan bersandar pada dinding kamarku. Lalu..
Sudut-sudut bibirku terangkat, berbentuk menjadi sebuah senyuman.
Aku sudah memutuskannya kali ini..
Selamat tinggal:)
by: abstrack xoxo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar