Kamis, 10 Oktober 2013

Sebuah kehancuran yang tak kuinginkan

    Kenapa harus kamu? Kamu yang menghadirkan sebuah tanda tanya besar dan kebisuan yang datang dengan santainya. Kenapa harus kamu? Kamu yang selama ini menjadi sahabat baikku tiba-tiba saja masuk seenaknya kedalam hatiku tanpa permisi. Kenapa harus kamu? yang dapat membuatku jatuh cinta hingga merasakan luka yang begitu tak tertahankan. Apakah tak ada orang lain selain kamu?

    Aku masih tetap saja tak mengerti, mengapa harus kamu? yang mengisyaratkan hatiku untuk menyimpan perasaan ini. Kenapa harus kamu? Kamu yang memaksa pikiranku agar tak berhenti tersenyum sendiri ketika memikirkan kebersamaan kita.

    Kenapa harus persahabatan kita yang merasakan semua ini? Kenapa bukan mereka atau orang lain saja? Kenapa aku bertanya kepadamu? Dan kenapa pula kamu tak menjawab pertanyaan dariku? Kenapa kamu tak pernah memberikanku sebuah isyarat atau "kode" yang membuatku peka?

    Aku lelah, aku bosan melawan rasa takutku hanya untuk mencintaimu. Lalu kenapa harus kamu? Yang mampu mengubah rasa takut yang kurasakan menjadi sebuah keberanian kecil. Mengubah pola pikirku terhadap pria.

    Jangan biarkan aku terus bertanya-tanya. Jangan biarkan aku terus mencari kebenaran yang sebenarnya hasilnya akan nihil. Jangan biarkan aku terus merasakan perasaan yang sebenarnya hanya halusinasi belakaku. Jangan biarkan aku terus menuggu. Jangan biarkan waktu yang kumiliki terbuang percuma. Jangan hanya karena kamu yang sulit kulupakan.

    Kenapa harus aku? aku yang untuk pertama kalinya mengetahui isi hatimu yang sebenarnya. Kenapa harus aku? aku yang ternyata selama ini ada dihatimu juga. Lalu, kenapa selama ini kamu tak memberikanku kepastian yang jelas? Apakah kamu malu untuk mengakuinya? Ataukah kamu takut aku tak memiliki perasaan yang sama denganmu? Kamu salah besar jika berspekulasi seperti itu. Kenapa kamu tidak mencoba untu mengatakan yang sejujurnya kepadaku? Mengapa?

    Seminggu terasa cepat berlalu. Malam ini kamu mengajakku makan malam disebuah tempat sederhana, aku tahu kamu memiliki sifat yang sangat sederhana dan tak menyukai hal-hal yang berbau boros. Disana kamu menjawab semua pertanyaan yang terus mengalir diotakku dengan sebuah pernyataan cinta. Tak tahu harus berkata apa-apa, aku begitu terkejut sekaligus senang mendengarnya. Tak berpikir lama, akupun menjawab dengan anggukan yang mantap.

    Kita melalui kebersamaan ini selama hampir empat bulan berjalan, tiba-tiba saja kamu mengatakan hal yang tak pernah terpikirkan diotakku selama belakangan ini. Kamu meminta agar hubungan kita berakhir disini saja. Kamu mengakhirinya tanpa alasan yang jelas. Aku tak dapat berbuat banyak dengan keputusan yang kamu ambil. Aku tak bisa menahanmu disini dan tetap mencintaiku, aku tak bisa melakukan semua itu.  Dengan berat hati aku mengikhlaskan hubungan ini berakhir.

   Setelah hubungan ini berakhir, kamu mulai berubah. Walaupun persahabatan kita masih terjalin, tapi persahabatan kita rentan terhadap kehancuran dan ketidakharmonisan. Aku menginginkan kamu yang dulu, kamu yang tetap menjadi sahabatku selalu ada saat suka maupun dukaku, kamu yang selalu membuatku tersenyum dikala aku bersedih, kamu yang bisa membuat semangatku kembali lagi hanya dengan kata-kata indah yang kamu rangkain. Tapi sekarang? Aku tak dapat mengharapkan semua itu. Itu hanya akan menjadi sebuah mimpi. Kini kamu berbeda, dan aku tak mengetahui penyebabnya. Kita hanya seperti dua orang asing yang tak saling mengenal saat kita berpapasan. Aku tetap menganggapmu sebagai sahabatku walaupun aku tahu kamu tak lagi menganggapku.

    Hingga kini. Harapan itu masih ada, dan akan terus ada hingga akhirnya aku memulai kembali menjalin sebuah pertemanan denganmu dan tak mengungkit segala kenangan yang terjadi diantara kita dimasa lalu. Semoga segalanya dapat kembali seperti sedia kala. Aku merindukan persahabat kita yang terjalin hingga bertahu-tahun lamanya.

    Kenapa harus kamu? yang mampu membuatku putus asa dengan segalanya. Kenapa harus kamu? Yang menjadi sebab air mataku terjatuh. Inilah kesalahan terbesarku. Mengapa harus aku? aku yang membuat persahabatan diantara kita berdua menjadi hancur tak tersisakan.

By: Unknown~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar