Senin, 07 Oktober 2013
Belajar tuk melepaskan
Ketika kita pertama kalinya diperkenalkan oleh teman kita, disitulah awal kita saling mengenal. Kamu memperkenalkan namamu begitu saja yang disertai uluran tangan dan suara lembut nan tegas yang kamu miliki berlalu tanpa tak pernah kuingat-ingat sekarang. Awalnya, semua berjalan begitu sederhana. Kita saling bercanda, saling tertawa, bahkan saling membicarakan hal-hal berbau manis antara kita berdua walaupun semua percakapan itu hanya kita lakukan melalui pesan singkat ataupu BBM. Perhatian yang mengalir bagai air darimu yang hanya kamu tujukan kepadaku, pembicaraan manis yang kala itu hanya kuanggap sebagai hal yang tak perlu dikagum-kagumkan.
Kehadiranmu disisiku membawa hidupku menjadi lebih berwarna. Kamu menawarkan padaku hal berbeda yang turut membuka mata dan hatiku dengan sangat lebarnya. Aku tak mengetahui bahwa kamu datang dengan membawa perasaan yang aneh. Hati ini merasa kehilangan jika kamu tak menyapaku atau mengabariku melalui pesan singkat dengan dentingan suara yang hanya ku khususkan untukmu. Setiap hati pasti ada saja hal-hal menarik yang selalu kita bicarakan, dan sampai pada akhirnya topik itu mengalir tanpa kita sadari telah menyentuh pembicaraan mengenai hal yang paling menyentuh dalam kodrat kita sebagai kaum Adam dan Hawa; cinta.
Ketika kamu membicarakan tentang mantan kekasihmu yang telah sekial lama lalu meningalkanmu begitu saja, aku bisa merasakan perasaan apa yang kamu rasakan saat menceritakan kisah itu. Aku berusaha memahami kerinduanmu akan rasa perhatian seorang wanita yang selalu berada disisimu. Sebenarnya, aku telah memberikanmu perhatian itu hanya saja kamu tak mengetahuinya. Apakah perhatian dan kepedulian yang selalu saja kuberikan kepadamu ini tak terasakan olehmu? Aku hanya akan tetap menjadi pendengar setiamu. Hanya saja hati ini selalu mempunya pertanyaan yang tak kunjung mendapatkan jawaban "seorang pria hanya menceritakan perasaannya kepada wanita yang benar-benar dekat dengannya".
Aku menaruh harapan besar kepadamu saat itu. Apakah kamu telah menganggapku sebagai wanita spesial di hatimu meskipun kamu tak kunjung memberikan penjelasan dan status yang jelas? Sesimpul senyumpun tercipta dalam diamku, berjalan begitu saja, dan tanpa kusadari ada perasaan lain yang tercipta dari kedekatan kita ini yang mungkin saja tak kuinginkan untuk hadir.
Saat kita bertemu, tak banyak kata yang terucapkan diantara kita, tak pernah ada pembicaraan yang panjang. Hanya saja ada senyum yang tercipta yang memiliki arti mendalam. Ketika melalui pesan singkat dimulai, kita berdua begitu semangat untuk tetap melanjutkan tanpa ada niat untuk mengakhiri percakapan ini, aku juga bisa merasakan semangat yang kamu miliki itu melalui tulisanmu. Sungguh, hingga saat ini aku masih tidak memercayai segalanya bisa berjalan secepat ini. Aku selalu saja meyakinkan diriku bahwa ini bukan cinta, melainkan hanya ketertarikan sesaat yang semata-mata tercipta karena aku ada sesuatu yang baru didalam dirimu yang selalu bersamaku. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa semua yang kamu lakukan, candaanmu, perhatianmu, bahkan caramu mengungkapkan segala pikiranmu hanya atas dasar hubungan pertemanan diantara kita. Benar, ini hanya sebatas teman, aku tak memiliki hak apapun untuk mengharapkan sesuatu yang lebih dari sekedar hubungan itu.
Aku tak pernah menginginkan untuk mengingat kenangan itu sendirian. Aku tak pernah ingin merasakan sakit seperti ini sendirian. Tapi nyatanya yang terjadi......
Perasaan yang kupupuk agar tidak tumbuh ini malah melakukan sebaliknya, perasaan ini tumbuh semakin cepat, bahkan tak dapat kukendalikan lagi. Siapakah yang bisa mengendalikan perasaanku ini? Apakah ada yang bisa membantuku mengendalikannya? Siapakah yang bisa menebak perasaan cinta bisa hadir pada orang yang tepat ataupun salah? Aku tak sepandai itu untuk menerka-nerka jawaban yang harus kuucapkan untuk menjawabnya. Aku hanya manusia biasa yang secara tak sengaja merasakan ada kenyamanan yang tersimpan ketika kamu hadir di dalam hidupku. Aku hanya manusia yang takut untuk merasakan kehilangan seseorang walaupun orang itu tak sepenuhnya menjadi milikku.
Apakah aku salah jika mengartikan segala tindakanmu ini sebagai wujud dari perasaan cinta? Tapi, bukankah benar jika aku mengharapkan bahwa kamu memiliki perasaan yang sama? Kamu telah menjadi alasan tawa dan senyumku saat ini. Aku percaya kamu takkan melukaiku, membuatku sedih dan kamu takkan menjadi alasan air mataku ini.Aku percaya bahwa kamulah kebahagiaan baru yang saat ini kurasakan yang akan melindungiku dari kesedihan-kesedihanku yang lalu. Aku sangat memercayaimu, bahkan sangat-sangat memercayaimu! Dan, aku mulai sadar, itulah kebodohan terbesar yang seharusnya kusesali.
Ternyata ketakutan yang selama ini menjadi pertanyaanku telah terjawab sudah, kamu menjauh dariku tanpa ada alasan yang jelas. Kamu meninggalkanku tanppa berpamitan, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku sangat tak percaya dengan keputusan yang kamu ambil tanpa menyampaikannya kepadaku, tetapi timbul pertanyaan dibenakku. Apakah aku pantas untuk marah kepadamu? Aku tak pernah menjadi siapa-siapa bagimu, aku tak pernah berarti bagimu, mungkinkah aku hanya tempat persinggahan sementara untukmu bukan untuk menjadi tujuan akhirnya? Asal kamu tahu saja, aku telah selesai merancang mimpi-mimpi yang begitu indah, yang akan kuwujudkan saat bersamamu. Mungkin saja, jika Tuhan mengizinkan kita berdua pasti akan bisa untuk saling membahagiakan, saling memiliki jika benar kita berjodoh, aku percaya Tuhan, dan aku percaya bahwa keajaiban itu selalu ada.
Aku tak memiliki hak untuk memintamu agar kembali kesisiku, juga tak memiliki wewenang untuk memintamu agar kembali pulang dan tidak untuk meninggalkanku lagi. Masih adakah yang perlu kupaksakan jika dimatamu aku tak lebih dari seorang teman? Aku tak menampik rasa kehilanganku ini. Dulu, aku telah terbiasa dengan perhatian dan candaanmu, namun semuanya telah hilang bagaikan asap rokok yang hilang oleh hembusan angin yang menerpanya.
Sesungguhnya ini telah menjadi kesalahanku, yang tetap berusaha bertahan dalam diam ini walaupun aku memiliki perasaan yang sangat dalam dan kuat. Ini memang bukan salahmu, juga bukan kesalahan orang lain. Tapi mata yang kamu miliki tak mungkin buta dan hatimu tak akan cacat untuk mengetahui bahwa aku mencintaimu.
Aku harus belajar untuk tak memperdulikamu lagi. Aku juga akan belajar untuk memaafkan dan merelakanmu pergi dari hidupku yang selama ini berwarna karena dirimu.
By: Unknown~
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar