Kamis, 26 Juni 2014

Berbeda...



Aku berjalan menyusuri perumahan yang baru beberapa bulan ini aku tinggali. Untuk pertama kalinya aku keluar rumah untuk berjalan-jalan melihat sekitar setelah akhir-akhir ini hanya duduk dikamar berhadapan dengan laptop untuk menyelesaikan skripsi yang masih rampung 50%. Aku melakukan ini karena terpaksa. Pertama, aku sedang mengalihkan pikiranku setelah baru saja bertengkar dengan kekasih tercinta. Kedua, aku sedang malas bertemu Ibu tiriku yang menyebalkan. Ketiga, aku sedang marah pada kehidupanku yang penuh dengan masalah. Kekanak-kanakan? Yah, kadang-kadang kau harus kabur dari beberapa masalahmu, bukan? 

Kuperhatikan rumah-rumah tetanggaku yang cukup mewah dengan berlantai dua bergaya minimalis. Di depan beberapa rumah ada anak-anak SD dalam bentuk kelompok sedang bermain dan ada juga yang hanya sedang membahas tentang guru-guru disekolah mereka yang mengundang tawa. Ahh, kadang-kadang aku merindukan masa-masa menjadi anak kecil. Ketika kita hanya mengenal kata bersenang-senang tanpa perlu begitu khawatir dengan nilai sekolah. Sepasang kaki-ku membawa diriku pada sebuah taman perumahan yang cukup ramai oleh anak-anak sore ini. Tanpa melupakan sepasang kekasih bertetanggayang masih remaja, of course terlihat dimabuk cinta. Aku tertawa dalam hati, sepasang kekasih bertetangga? C’mon. Sounds so dandutan. Aku menghentikan langkahku tidak jauh dari kerumunan remaja SMAkalau aku tidak salah tebak dari postur tubuh mereka. Aku sebut kerumunan karena mereka memang sedang membuat lingkaran yang hanya fokus pada satu pusat ditengah-tengah mereka. Aku sedikit mendekat karena penasaran apa yang menjadi pusat fokus mereka. Ah, ternyata ada satu gadis remaja bersyal yang berusaha menutupi wajahnya. Beberapa dari remaja yang mengurubungi gadis bersyal tersebut mengatakan ‘’Buruk rupa’’ sambil tertawa-tawa tidak jelas. Eh? Ini tindakan bully ya? Aku melongo untuk beberapa saat. Aku tahu bahwa bully hal yang tabu tetapi yang aku tahu tindakan itu hanya berlaku disekolah tidak diperumahan yang dapat ku kategorikan sebagai perumahan elit seperti ini. Apa aku saja yang tidak tahu trend baru bully? (Lupakanlah). Salah satu dari kerumunan mencoba menarik-narik syal yang menutupi sebagian wajah gadis bersyal tersebut. Ckckck... aku berdecak. Mereka sudah cukup dewasa untuk melakukan aksi bully seperti ini. Yang lebih memperhatinkan tidak ada yang peduli dengan kejadian ini seakan apa yang sekarang kuliat adalah hal yang biasa. Aku tidak heran banyak generasi-generasi muda Indonesia yang tidak memiliki moral dan semakin tidak peduli satu sama lain :)
 
Bukan bermaksud menjadi seseorang yang paling benar. Tidak kok. Bahkan aku tidak tahu harus melakukan apa untuk menyelematkan gadis bersyal yang terlihat tetap berusaha mempertahankan syalnya dari gadis yang berusaha merebutnya. Untuk membela diri, aku hanya tidak mau menjadi orang baru yang ikut campur urusan orang lain dan untuk beberapa orang yang disekitar taman ini—yang juga sudah lama tinggal disini— seharusnya mereka mempunyai tindakan (Aku memang pintar ngeles) untuk membantu gadis bersyal itu dong. 

‘’Hentikan!’’

JRENGG...JRENGG...JRENGG

Tiba-tiba saja seorang cowok remaja datang entah darimana(?) menerobos kerumunan gadis-gadis remaja tersebut. Kuperhatikan wajah gadis-gadis remaja itu yang terkejut dan ketakutan, mungkin? Entahlah. Aku tidak begitu pandai mengenali ekspresi wajah seseorang tapi yang kutangkap seperti itulah. Cowok remaja itu memandangi tajam seakan menelanjangi para gadis-gadis remaja tukang bully itu.

‘’Ikut aku’’kata cowok remaja pada gadis bersyal. Gadis bersyal tidak juga beraksi ketika si cowok telah melangkah. Si cowok terlihat mendengus, ia kembali pada gadis bersyal dan merangkulnya. Uhuuuu, aku bagaikan sedang menonton potongan sinetron romantis yang selalu ada di TV. Tau, kan? Adegan ketika pemeran protagonis mulai terdesak dan *simsalabim* muncul-lah penolong seorang cowok tampan dengan mata setajam elang. Asikk! Aku seperti harus menarik perkataanku tentang generasi muda Indonesia yang tidak memiliki moral dan tidak peduli satu sama lain karena sepertinya si cowok ini generasi muda Indonesia yang akan membanggakan tanah airnya :) (Hehehe...)

Si cowok dan si gadis bersyal meninggalkan kerumunan lalu berjalan disudut yang paling sepi dibagian taman tersebut. Loh? Ngomong-ngomong aku ini mengikuti mereka loh. Aku tidak bisa menyalahkan rasa ingin tahuku yang sudah melekat sejak aku baru lahir di dunia ini dan menghirup udara segar yang dinamakan kehidupan (Alah, bahasanya!). Oke, lebih baik kita fokus pada si cowok dan si gadis bersyal yang sekarang duduk berdampingan di bangku taman.

‘’Kenapa kamu membiarkan mereka mengolok-olok mu?’’tanya si cowok pada gadis bersyal yang terus menunduk disampingnya. Aku semakin penasaran, kenapa gadis bersyal itu sangat malu memperlihatkan wajanya pada orang-orang?

‘’...’’

Tidak ada jawaban dari gadis bersyal. Si cowok terlihat berusaha menahan sabar.

‘’Kenapa kau menutupi wajahnmu?’’si cowok pantang menyerah sepertinya.

‘’...’’

Lagi-lagi tidak ada jawaban. Aku memutar bola mataku, jadi aku yang tidak sabaran. Penasaran euyy.
‘’Lepaskan syalmu!’’
Itu perintah, bukan lagi pertanyaan. Kulihat si gadis bersyal menggelengkan kepalanya. Si cowok dengan cepat menarik syal yang menutupi wajah si gadis kemudian saat itu juga si gadis semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam.

‘’Angkat kepalamu!’’
Sekali lagi, si cowok memerintah. Aku jengah mendengar nada bossy itu. Kemudian...

JRENGG...JRENGG...JRENGG... (Again!)

Si gadis memenuhi perintah si cowok dengan mengangkat kepalanya. Aku melongo untuk kedua kalinya dan aku bisa melihat si cowok tampak terkejut. Namun si cowok lebih bisa menguasai dirinya dengan mencoba kembali mengekspresikan wajah datar sementara aku yang menonton mereka berusaha keras untuk kembali menutup mulutku yang menganga selebar-lebarnya sebelum ada lalat yang mampir. Sekarang aku mengerti mengapa tadi ada gadis yang mengatakan ‘’Buruk rupa’’ pada gadis bersyal itu. Bukan bermaksud ikut mengolok-olok tetapi gadis itu memiliki bekas luka dibagian dagu dan pipi kanan yang (ehmm, maaf) cukup mengerikan bagiku. Kutebak itu bukan luka bakar, menurutku penyebab luka itu...bagaimana menjelaskannya ya... hmm.. seperti wajahnya baru saja diparuk di aspal. Nah, berarti itu bekas kecelakaan! Kembali aku memperhatikan keduanya.
Si gadis tersenyum getir, ‘’Jelek, ya?’’
‘’Itu..kenapa?’’tanya si cowok tidak memperdulikan pertanyaan si gadis sebelumnya.
‘’Aku...aku tertabrak ketika menolong adik-ku. Jelek, ya?’’si gadis kembali menanyakan hal yang sama. Si cowok kali ini tersenyum. Tersenyum dengan penuh makna.
Si cowok menggeleng, ‘’Tidak, wajahmu cantik karena wajah itu penolong’’

DUAAAAARRRRR..... (Asli, bosan pake Jrengg...jrengg...jrengg)

Aku bagaikan tertampar, menyadari banyak hal dalam beberapa detik setelah ucapan si cowok. Ahh, Pernahkah aku tidak menilai seseorang dari luarnya? Tidak mungkin. Bahkan dari luarlah semuanya berawal sebelum kita ingin menilai seseorang dari dalam maka itulah alasan mengapa aku tidak menyukai Ibu tiriku yang berpenampilan ‘’waw’’. Pernahkah aku mencoba memahami alasan seseorang ketika berbuat salah padaku dan aku begitu kalap sampai tidak mau mendengarnya? Tidak pernah. Aku bahkan selalu emosi maka dari itu aku suka sekali bertengkar dengan sang kekasih. Lalu kenapa aku harus marah pada kehidupanku yang dinilai dari sudut pandang manapun aku masih lebih beruntung dari gadis bersyal tersebut? Aku tidak pernah di bully dan wajahku baik-baik saja. Aku harus berhenti bersikap bitchy hanya karena masalah sepela dan berhenti mendramatisir hidup sendiri bagaikan hanya satu-satunya manusia dimuka bumi ini yang punya masalah. Aku sadar bahwa diluar sana masih banyak orang yang lebih memiliki masalah lebih serius. Aduhhh, si cowok ini kalau saja seumuran ku sudah aku pacari yaa (Otaknya tetap tidak benar :( hehe). Aku menyadari seharusnya aku mulai berhenti menilai sesuatu dari luarnya saja dan aku harus berhenti tidak mendengarkan alasan-alasan dahulu sebelum menilai atau marah pada seseorang. Aku ini sudah kuliah tetapi otak masih seperti anak kecil. Aku tersenyum kemudian mulai melangkah pulang kerumah. Aku sekarang siap untuk menyelesaikan masalahku satu per satu, tidak lupa berucap syukur dalam hati aku disadarkan dengan cara luar biasa oleh Tuhan.  



p.s : maaf tulisan berantakan.


-Abstrack-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar