Rabu, 18 Juni 2014

Mimpi...



Aku ingin sekali menjadi seorang penulis. Terkenal dan cerita yang ku tulis menginspirasi orang lain. Aku masih ragu dengan mimpi yang kumiliki. Bukan apa-apa. Semua orang tahu, kebanyakan seorang penulis senang membaca tulisan orang lain. Aku pun begitu. Sering membaca tulisan orang lain dan beberapa yang kubaca memiliki tulisan yang begitu bagus, yang memikatku, yang membuatku ingin membacanya terus-menurus, dan yang membuatku menjadi tidak percaya diri dengan tulisan yang kumiliki. Banyak sekali inspirasi dalam kepalaku, ku buka laptopku, jemariku menari-nari diatas keyboard namun hanya beberapa kata yang bisa aku rangkai. Aku kebingungan. Kubaca ulang karanganku dan aku ragu dengan diri sendiri. Benarkah aku ingin menjadi penulis? Aku bertanya-tanya pada diri sendiriyang sungguh sia-sia karena harusnya pertanyaan itu ku pertanyakan kepada seseorang agar ada jawaban yang bisa kutemukan namun kepada siapa? Bukannya aku tidak punya teman yang bisa kutanyakan hal tersebut. Aku juga tidak tahu mengapa aku tidak ingin bertanya kepada teman yang kumiliki. Mungkin saja karena aku sudah tahu apa yang mereka jawab. Mungkin.

Hanya satu orang yang ingin ku pertanyaan tentang hal ini. Tentang mimpi yang masih aku ragukan. Tetapi bagaimana? Bukan. Seseorang itu belum meninggal dunia, kalau kau berpikir begitu. Dia masih sehat bahkan seseorang itu juga sedang berjalan meraih impiannya. Hanya saja aku tidak tahu ingin bertanya bagaimana, sudah sejak lama kami tidak berkomunikasi. Lama sekali. Aku bahkan sudah dilupakan. Memang, lucu sekali. Mengapa mimpi yang kumiliki harus bergantung kepada seseorang. Toh itu mimpiku. Aku sendiri yang memutuskannya. Hanya saja, aku jenis orang yang senang sekali diberikan dorongan terdahulu sebelum bergerak maju. Aku juga jenis orang yang ragu dengan diri sendiri sehingga butuh seseorang untuk membuatku yakin. Kau tidak perlu terkejut ketika masuk kedalam kamarku dan mendapati beberapa kata tertempel didinding untuk menyemangati diri sendiri. Itulah yang kulakukan. Cara agar aku tidak mengemis kepada seseorang yang mungkin sudah melupakanku agar memberiku kata-kata ajaibnya yang selalu kusukai. Sekarang... aku sedang butuh keyakinan tentang mimpiku sendiri. Aku sudah bergulat dengan pikiranku sendiri sejak lama tetapi aku masih tidak juga yakin dengan mimpiku sendiri. Lucu. Sungguh lucu. Aku tidak akan berhenti menertawakan diriku sendiri. Terlalu banyak yang berubah sejak kesalahan kecil dimasa lalu itu mengubah hidupku yang tidak akan dimengerti siapapun. Karena mereka hanya mendengar point-nya saja. Jauh didalam hatiku. Aku marah. Marah pada diri sendiri. Aku ragu pada mimpiku sendiri.

Menginspirasi orang lain? Yang benar saja!



-Abstrack-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar