Aku ingin sekali menjadi seorang penulis. Terkenal dan
cerita yang ku tulis menginspirasi orang lain. Aku masih ragu dengan mimpi yang
kumiliki. Bukan apa-apa. Semua orang tahu, kebanyakan seorang penulis senang
membaca tulisan orang lain. Aku pun begitu. Sering membaca tulisan orang lain
dan beberapa yang kubaca memiliki tulisan yang begitu bagus, yang memikatku,
yang membuatku ingin membacanya terus-menurus, dan yang membuatku menjadi tidak
percaya diri dengan tulisan yang kumiliki. Banyak sekali inspirasi dalam
kepalaku, ku buka laptopku, jemariku menari-nari diatas keyboard namun hanya beberapa kata yang bisa aku rangkai. Aku
kebingungan. Kubaca ulang karanganku dan aku ragu dengan diri sendiri. Benarkah
aku ingin menjadi penulis? Aku bertanya-tanya pada diri sendiri—yang
sungguh sia-sia karena harusnya pertanyaan itu ku pertanyakan kepada seseorang
agar ada jawaban yang bisa kutemukan namun kepada siapa? Bukannya aku tidak
punya teman yang bisa kutanyakan hal tersebut. Aku juga tidak tahu mengapa aku
tidak ingin bertanya kepada teman yang kumiliki. Mungkin saja karena aku sudah
tahu apa yang mereka jawab. Mungkin.
Hanya satu orang yang ingin ku pertanyaan tentang hal ini.
Tentang mimpi yang masih aku ragukan. Tetapi bagaimana? Bukan. Seseorang itu
belum meninggal dunia, kalau kau berpikir begitu. Dia masih sehat bahkan
seseorang itu juga sedang berjalan meraih impiannya. Hanya saja aku tidak tahu
ingin bertanya bagaimana, sudah sejak lama kami tidak berkomunikasi. Lama
sekali. Aku bahkan sudah dilupakan. Memang, lucu sekali. Mengapa mimpi yang
kumiliki harus bergantung kepada seseorang. Toh itu mimpiku. Aku sendiri yang
memutuskannya. Hanya saja, aku jenis orang yang senang sekali diberikan
dorongan terdahulu sebelum bergerak maju. Aku juga jenis orang yang ragu dengan
diri sendiri sehingga butuh seseorang untuk membuatku yakin. Kau tidak perlu
terkejut ketika masuk kedalam kamarku dan mendapati beberapa kata tertempel
didinding untuk menyemangati diri sendiri. Itulah yang kulakukan. Cara agar aku
tidak mengemis kepada seseorang yang mungkin
sudah melupakanku agar memberiku kata-kata ajaibnya yang selalu kusukai.
Sekarang... aku sedang butuh keyakinan tentang mimpiku sendiri. Aku sudah
bergulat dengan pikiranku sendiri sejak lama tetapi aku masih tidak juga yakin
dengan mimpiku sendiri. Lucu. Sungguh lucu. Aku tidak akan berhenti
menertawakan diriku sendiri. Terlalu banyak yang berubah sejak kesalahan kecil
dimasa lalu itu mengubah hidupku yang tidak akan dimengerti siapapun. Karena
mereka hanya mendengar point-nya
saja. Jauh didalam hatiku. Aku marah. Marah pada diri sendiri. Aku ragu pada
mimpiku sendiri.
Menginspirasi orang lain? Yang benar saja!
-Abstrack-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar