Jumat, 30 Mei 2014

Unknown~

Mengapa harus sesuatu yang sama dengan memori kebersamaan kita? Mengapa? Mengapa harus disaat seperti itu, disaat yang sama saat aku menandai bahwa pada saat itu kamu menjadi milikku.

Mungkin saatnya aku berlari, menjauh darimu. Mennyadarkan diriku bahwa kamu tak lagi menjadi milikku, tak lagi sepenuhnya kumiliki. Entah penyesalan ini tak berarti apa-apa, andai saja aku menjauhimu sedari dulu, andai saja aku menyadari bahwa selama ini tak pernah kamu lihat diriku. “Berandailah kawan, semua takkan kembali seperti semula” batinku berkata.

Disatu sisi, aku merasa sangat senang bahwa kamu dengan cepat dan mudahnya mendapat penggantiku di sudut terpenting dirimu. Tapi disisi yang lain, aku masih berharap kamu mau kembali kepadaku. Tapi sekali lagi, perasaan senang akan selalu mengiringiku untuk mendoakanmu dengannya. Selamat!

Kini kamu tlah dengannya, dengan orang lain. Sekarang kamu miliknya, milik si dia yang memiliki senyum semanis senyummu. Harusnya sedari dulu..harusnya begitu. Tapi mau dikata apa, sekarang aku merasakan sendiri penyesalan akibat sikap gegabahku sendiri. Harusnya juga aku memikirkan sejak jauh-jauh hari, memikirkan bahwa “Bagaimana rasanya bila kamu menjadi milik yang lain” tapi pemikiran itu tak pernah terlintas di pikiranku belakangan ini. Harusnya aku memikirkan hal ini sejak pertama kali bertemu, membentuk sebuah hubungan, hingga kita memutuskan hubungan yang kita buat sendiri. Oh maaf! Mungkin kata yang tepat bukan “kita” tapi “aku”, karena aku terlalu menginginkanmu, terlalu mendambakan hubungan aku dan kamu yang lalu. Sejak kita berpisah, aku pikir kamu belum bisa lepas sepenuhnya dari bayangku, seperti aku yang hanya bisa termenung, memikirkan kisah aku dan kamu yang lalu dapat kembali menjadi sebuah kata yang indah “kita”.

Aku mencoba mengingat kepingan kenangan yang masih terekam dengan jelas di hati dan fikiranku, 2 bulan yang lalu saat sebelum kita memutuskan untuk kembali menjalankan kehidupan aku-kamu masing-masing tanpa ada kata indah. Akan kuingatkan kembali kebiasaan aku-kamu sebelum peristiwa yang tak kuinginkan menimpa kita, saat tutur sapaan mesra masih menjadi rutinitas utama aku-kamu, saat kekosongan yang kurasakan kini dulu selalu terisi oleh kehadiranmu, saat senyum ini hanya aku tujukan kepada kamu. Jujur kukatakan, perasaan ini masih ada, masih tak tersentu oleh orang lain. Perasaan rindu, cinta, sayang, perasaan untuk memilikimu. Mungkin itu memang sebuah kesalahan fatal yang kulakukan terhadap pria yang telah dimiliki orang lain. Tapi sekarang kepingan kenangan indah itu telah kususun, kusimpan rapi agar tak teringat kembali. Tlah ku sembunyikan kenangan itu ditempat antah berantah yang takkan pernah kuingat kembali posisinya, susunannya, hingga seluruh hal terkecilpun!

Ketika kekosongan melanda, aku menunggumu, menyanyikan kisah tentang kita yang lalu. Denting suara hati memaksaku memutar kembali masa lalu, untaian makna yang tercinta tlah kuabadikan di tempat yang terindah. Tuhan kembalikan seperti sedia kala, izinkan aku memeluknya untuk sekali lagi agar aku dapat mengenang masa ini selamanya. Saat malam dihari jadi kita yang ke 2 tahun,  aku menyadari bahwa kamu takkan kembali.

Aku terlalu sibuk memikirkan hal-hal lain, dan melupakan hal yang paling mendasar saat ini. Dan sekarang aku merasakannya, “Aku belum siap!!!!” hatiku dengan seenaknya menghujat pemikiranku sendiri.  Kurasakan, ada guncangan hebat didalam diri ini yang memaksaku untuk mengeluarkan semuanya  tanpa terkecuali. Entah mengapa, hati ini tidak ingin bekerja sama dengan pikiran untuk mempermudah segalanya. Hati ini membuatnya semakin sukar untuk dijabarkan! “Ugh!” aku membatin.

Selalu celaan dari pikiran ini menghujat hatiku. Ini diluar batas pemikiranku! Tak kusadari bahwa sesulit  ini saat menerima kenyataan bahwa kamu yang dulu menjadi milikku, kini telah memupuk hubungan baru dengan dia. Ahhhh! Batinku memberontak! Memaksaku untuk melakukan yang tak seharusnya kulakukan.
“Apakah dia mencintaimu seperti aku?”, “Apakah dia mengagumimu seperti aku?”, “Apakah dia menginginkanmu seperti aku?”, “Apakah dia mendambakanmu seperti aku?”, “Apakah dia merindukanmu seperti aku?”, “Apakah dia rela membuang air matanya untukmu seperti aku?”, “Apakah dia selalu menghadirkan bayanganmu difikirannya seperti aku?”, “Apakah dia selalu berharap bahwa sosokmu akan muncul di mimpinya setiap hari?”, “Apakah dia selalu bercita-cita membahagiakanmu seperti aku?”, “Apakah dia selalu mengucap namamu setiap dia melakukan sebuah percakapan dengan Tuhan seperti aku? “. Semua pertanyaan itulah yang muncul dibenakku disaat kamu berhasil menggantikan posisiku dengan dia.

Tolonglah aku, tolong lukislah sebuah kenangan buruk di pikiranku yang membuatku membencimu, membuatku muak untuk memikirkanmu. Karena itu tak semestinya kulakukan, tak semestinya aku memikirkan kamu saat kamu telah dimiliki olehnya. Buatkan aku kenangan buruk wahai kamu! Aku tak dapat mendengar jawabanmu, tapi aku harap kamu bisa mempertimbangkannya dan melakukan permintaan terakhirku.


Waktunya aku untuk membuka lembaran baru seperti yang kamu lakukan. Doa akan selalu terucap, baik untukku maupun untuk hubungan kalian. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar