Sabtu, 21 Juni 2014

Berdamai...



Kubiarkan air mata ku mengalir. Kubiarkan orang-orang melihat kelemahanku. Kubiarkan aku terlihat begitu terpuruk. Kubiarkan aku terlihat begitu rapuh. Kubiarkan mereka mendengarkan ceritaku. Kubiarkan aku mengumbar semuanya. Lalu aku membiarkan bibir mereka menilaiku. Baik dan burukku. Itulah hak mereka. Hak semua orang untuk saling menilai. Aku tidak marah, tidak pula tersinggung. Karena yang aku tahu, mereka menilai sesuatu yang sesungguhnya bukan diriku. Mereka mendengarkan ceritaku yang sesungguhnya hanya aku ceritakan bagian paling luar. Mereka belum mengetahui apapun tentangku. Maka tidak apa-apa jika mereka menilaiku. Menilai yang bukan diriku. Aku tidak akan membiarkan mereka mendengarkan ceritaku sampai ke bagian yang terdalam. Aku sudah membiarkan diriku begitu lemah dihadapan banyak orang. Aku tidak ingin membuat diriku tampak lebih lemah lagi. Mereka tidak tahu apa-apa. Jadi yang kulakukan jika tak sengaja dan mendapatkan firasat bahwa mereka telah menilai. Aku hanya diam. Berpura-pura tidak mengetahui apa-apa. 

Sungguh, ingin sekali aku menceritakan semuanya pada seseorang. Ingin kubiarkan seseorang mengertiku pada tahap yang benar-benar mengerti. Bukan hanya dengan ucapan, ‘’Iya, aku mengerti’’ sambil lalu. Aku ingin, ‘’Iya, aku mengerti’’ dari hati. Lalu.. pada hari itu, aku merasa bahwa aku benar-benar perlu menceritakan yang sebenar-benarnya pada seseorang. Aku sudah tidak bisa menampung semuanya sendiri. Aku ingin sekali berbagi. Aku kebingungan. Tidak mengetahui harus menghubungi siapa. Berbagai nama berputar-putar dikepalaku. Ku hapus dengan cepat air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Ku tarik nafas secara perlahan untuk menenangkan diriku. Kemudian hatiku membisikan satu nama dengan lirih. Aku mengangguk, baiklah, mungkin memang aku harus menceritakan padanya. Aku mencoba menghubungi satu nama tersebut. Tidak ada balasan sama sekali. Sekali lagi air mataku tidak ingin berhenti mengalir. Aku hanya punya dia...selain mereka. Beberapa hari yang lalu aku memohon seseorang untuk kembali lalu aku sudah berniat untuk melanggar prinsipku dengan ingin menceritakan semuanya pada satu-satu-nya-seseorang-yang-masih-aku-anggap-peduli-padaku. Tidak ada yang membalas teriakan-ku. Oh, sungguh? Sialan! Aku tidak tahan untuk tidak mengumpat. Bukan untuk kedua-orang-yang-ku-anggap-peduli tersebut tetapi umpatan itu lebih kepada diriku sendiri. 

Aku memejamkan mataku. Mengingat-ingat semua yang terjadi belakangan ini. Tidak lupa aku mengingat-ingat diriku jauh sebelum aku mengenal mereka-yang-peduli-padaku. Ku buka mataku kembali, menemukan sesuatu yang mengejutkanku. Ya ampun, kenapa aku bisa sebegini lemahnya? Padahal jauh sebelum aku mengenal mereka-yang-peduli-padaku. Aku baik-baik saja. Aku adalah orang yang bisa menyelesaikan masalahku sendiri tanpa perlu merepotkan orang lain. Aku adalah seseorang yang menjadi tempat orang lain untuk berlari jika membutuhkan pendapat. Meskipun tetap, aku adalah orang yang begitu mudah meneteskan airmata namun prinsipku untuk tidak menceritakan masalahku kepada seseorang yang juga mempunyai masalah. Aku adalah seseorang yang menyemangati diri sendiri. 

Lalu kenapa sekarang aku tidak bisa? Sudah cukup aku mendapatkan penolakan oleh kedua orang yang aku anggap peduli padaku. Kalaupun aku lagi-lagi jatuh karena menerima kenyataan penolakan mereka disaat aku membutuhkan kata-kata semangat dari mereka. Toh, aku bisa sendiri. Bangkit dan berdiri dengan tegap lagi. Aku baik-baik saja sebelum ada kedua orang itu dan aku pasti akan baik-baik saja tanpa mereka. Ini hidupku. Aku yang menentukan semuanya.
‘’Karena yang bisa menyelamatkan dirimu, hanya dirimu sendiri’’. Hatiku berteriak meminta untuk didengarkan.

Bukan berarti aku tidak butuh orang lain. Hanya saja, semua rasa terpuruk yang selama ini aku rasakan hanya bisa sembuh jika disembuhkan oleh diriku sendiri. Seharusnya sejak awal aku menyadari hal tersebut. Aku harus berdamai. Berdamai pada semua kesalahan yang aku anggap salah dalam diriku dan atas segala kesalahan yang aku lakukan pada orang lain hingga tidak dapat memaafkan diri sendiri. Berdamai. Memang tidak akan mudah, yang perlu ku lakukan adalah percaya pada diriku sendiri.

...Atau lagi-lagi aku menenggelamkan diriku sendiri. Aku bisa dan aku mampu.

Tuhan, terima kasih. 



p.s: all my writing isn't all about myself, as i wrote in my writing entitled ''Mimpi'' that i just want to inspire others. Masih perlu banyak belajar, i know it. Thanks to Laras, for your support. Love you, Yas. And thanks to all my readers though i'm not sure i've got a lot of readers hahahahahahahahahaha


<<<<<<<------------ sudah sok pake bahasa inggris, sok tulisannya banyak yang baca, dan everything ''sok-sok'' is on me hahahahahahaha



-Abstrack-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar