Kubiarkan air mata ku mengalir. Kubiarkan orang-orang
melihat kelemahanku. Kubiarkan aku terlihat begitu terpuruk. Kubiarkan aku
terlihat begitu rapuh. Kubiarkan mereka mendengarkan ceritaku. Kubiarkan aku
mengumbar semuanya. Lalu aku membiarkan bibir mereka menilaiku. Baik dan
burukku. Itulah hak mereka. Hak semua orang untuk saling menilai. Aku tidak
marah, tidak pula tersinggung. Karena yang aku tahu, mereka menilai sesuatu
yang sesungguhnya bukan diriku. Mereka mendengarkan ceritaku yang sesungguhnya hanya
aku ceritakan bagian paling luar. Mereka belum mengetahui apapun tentangku.
Maka tidak apa-apa jika mereka menilaiku. Menilai yang bukan diriku. Aku
tidak akan membiarkan mereka mendengarkan ceritaku sampai ke bagian yang
terdalam. Aku sudah membiarkan diriku begitu lemah dihadapan banyak orang. Aku
tidak ingin membuat diriku tampak lebih lemah lagi. Mereka tidak tahu apa-apa.
Jadi yang kulakukan jika tak sengaja dan mendapatkan firasat bahwa mereka telah menilai. Aku hanya diam. Berpura-pura
tidak mengetahui apa-apa.
Sungguh, ingin sekali aku menceritakan semuanya pada
seseorang. Ingin kubiarkan seseorang mengertiku pada tahap yang benar-benar
mengerti. Bukan hanya dengan ucapan, ‘’Iya, aku mengerti’’ sambil lalu. Aku
ingin, ‘’Iya, aku mengerti’’ dari hati. Lalu.. pada hari itu, aku merasa bahwa
aku benar-benar perlu menceritakan yang sebenar-benarnya pada seseorang. Aku
sudah tidak bisa menampung semuanya sendiri. Aku ingin sekali berbagi. Aku
kebingungan. Tidak mengetahui harus menghubungi siapa. Berbagai nama
berputar-putar dikepalaku. Ku hapus dengan cepat air mata yang tak
henti-hentinya mengalir. Ku tarik nafas secara perlahan untuk menenangkan
diriku. Kemudian hatiku membisikan satu nama dengan lirih. Aku mengangguk,
baiklah, mungkin memang aku harus menceritakan padanya. Aku mencoba menghubungi
satu nama tersebut. Tidak ada balasan sama sekali. Sekali lagi air mataku tidak
ingin berhenti mengalir. Aku hanya punya dia...selain mereka. Beberapa hari
yang lalu aku memohon seseorang untuk kembali lalu aku sudah berniat untuk
melanggar prinsipku dengan ingin menceritakan semuanya pada
satu-satu-nya-seseorang-yang-masih-aku-anggap-peduli-padaku. Tidak ada yang
membalas teriakan-ku. Oh, sungguh?
Sialan! Aku tidak tahan untuk tidak mengumpat. Bukan untuk kedua-orang-yang-ku-anggap-peduli
tersebut tetapi umpatan itu lebih kepada diriku sendiri.
Aku memejamkan mataku. Mengingat-ingat semua yang terjadi
belakangan ini. Tidak lupa aku mengingat-ingat diriku jauh sebelum aku mengenal
mereka-yang-peduli-padaku. Ku buka mataku kembali, menemukan sesuatu yang
mengejutkanku. Ya ampun, kenapa aku bisa sebegini lemahnya? Padahal jauh
sebelum aku mengenal mereka-yang-peduli-padaku. Aku baik-baik saja. Aku adalah
orang yang bisa menyelesaikan masalahku sendiri tanpa perlu merepotkan orang
lain. Aku adalah seseorang yang menjadi tempat orang lain untuk berlari jika
membutuhkan pendapat. Meskipun tetap, aku adalah orang yang begitu mudah
meneteskan airmata namun prinsipku untuk tidak menceritakan masalahku kepada
seseorang yang juga mempunyai masalah. Aku adalah seseorang yang menyemangati
diri sendiri.
Lalu kenapa sekarang aku tidak bisa? Sudah cukup aku mendapatkan
penolakan oleh kedua orang yang aku anggap peduli padaku. Kalaupun aku
lagi-lagi jatuh karena menerima kenyataan penolakan mereka disaat aku
membutuhkan kata-kata semangat dari mereka. Toh, aku bisa sendiri. Bangkit dan
berdiri dengan tegap lagi. Aku baik-baik saja sebelum ada kedua orang itu dan
aku pasti akan baik-baik saja tanpa mereka. Ini hidupku. Aku yang menentukan
semuanya.
‘’Karena yang bisa menyelamatkan dirimu, hanya dirimu
sendiri’’. Hatiku berteriak meminta untuk didengarkan.
Bukan berarti aku tidak butuh orang lain. Hanya saja, semua
rasa terpuruk yang selama ini aku rasakan hanya bisa sembuh jika disembuhkan
oleh diriku sendiri. Seharusnya sejak awal aku menyadari hal tersebut. Aku
harus berdamai. Berdamai pada semua kesalahan yang aku anggap salah dalam
diriku dan atas segala kesalahan yang aku lakukan pada orang lain hingga tidak
dapat memaafkan diri sendiri. Berdamai. Memang tidak akan mudah, yang perlu ku
lakukan adalah percaya pada diriku sendiri.
...Atau lagi-lagi aku menenggelamkan diriku sendiri. Aku
bisa dan aku mampu.
Tuhan, terima kasih.
p.s: all my writing isn't all about myself, as i wrote in my writing entitled ''Mimpi'' that i just want to inspire others. Masih perlu banyak belajar, i know it. Thanks to Laras, for your support. Love you, Yas. And thanks to all my readers though i'm not sure i've got a lot of readers hahahahahahahahahaha
<<<<<<<------------ sudah sok pake bahasa inggris, sok tulisannya banyak yang baca, dan everything ''sok-sok'' is on me hahahahahahaha
-Abstrack-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar