Aku sedang berada ditempat ini, tempat yang entah berantah dan tak kuketahui namanya. Aku kehilanga arah tujuan, aku tersesat dan memerlukan bantuanmu. Sayangnya, kamu tak pernah ada disampingku, aku saja yang selalu menginginkan untuk menunggu... dan selalu menunggu dirimu hingga akhirnya aku menemukan titik jenuh, lelah bahkan kebosanan yang sekarang ku rasakan.
Entah mengapa saat ini aku membencimu, tapi memang aku juga tak menyengkal bahwa aku masih mecintaimu dan diam-diam tetap memiliki harapan lalu. Walaupun semua itu tak kuungkapkan dan hanya tersimpan dan tertata rapi di lubuk hati ini. Terlalu munafik bagiku jika mengatakan dengan lantang bahwa saat ini aku sangat membencimu dan tak memiliki perasaan apapun lagi karena memang semua itu butuh proses dan sekaranglah aku mencapai proses itu. Proses dimana aku mulai belajar lambat laun untuk membencimu dan tak lagi mengagumimu bahkan mencintaimu.
Apakah kamu tahu alasanku membencimu dan tak ingin mempertahankan perasaanku lagi? Apakah kamu ingin mengetahui sebabnya? Memang aku melakukan semua ini bukan tanpa alasan, alasanku adalah karena kamu tak menghargai seseorang yang sedang mencintaimu juga, dan aku merelakanmu untuk dia yang terlebih dulu mencintaimu ketimbang aku. Dia yang mengenalmu dan memiliki rasa cinta kepadamu jauh sebelum aku mengenalmu dan jatuh cinta denganmu, wahai sesosok pria yang meluluhkan hatiku dan hatinya.
Aku merelakanmu, aku melepaskanmu, untuk dia. Aku lebih memilih untuk mengorbankan perasaanku, mematikan segalanya, dan membuang jauh-jauh rasa ini agar Wanita itu dapat memilikimu seutuhnya. Aku rela melakukannya karena aku tahu rasanya disakiti. Aku tahu rasanya jadi wanita itu jika tak dianggap olehmu. Aku memilih pergi karena aku tak ingin menyakiti wanita itu. Aku tak ingin melihat wanita itu merasakan apa yang kurasakan juga. Biarkan hanya aku yang tersakiti, biarlah aku rela kok.
Kini. Kamu harus mempertahankan wanita itu, jangan pernah memikirkanku bahkan melirikku lagi. Aku titipkan rasa cinta dan sayangku pada wanita itu. Biarkan segala perhatianmu hanya tertuju pada wanita itu saja. Jadi, mulai dari sekarang cobalah untuk tidak menyakiti wanita itu tapi ingat! jangan lakukan itu semua dengan alasan aku tapi cobalah untuk tulus mencintainya tanpa ada embel-embel aku yang memintamu.
Selamat tinggal kamu dan wanita itu. Semoga saja aku tidak menjadi perusak hubungan kalian. Karena aku tahu, aku memang tak pantas berada diantara kalian berdua. Iyakan? Pernah, aku berharap tak bertemu denganmu agar aku tak memiliki rasa itu. Dan kini, lihatlah aku menyesal memiliki rasa itu karena aku tahu wanita itu begitu tersakiti dengan kehadiranku. Wahai wanita yang mencintai dia, aku titipkan dia untukmu, jagalah dia dan jangan sekalipun kamu menyakitinya.
Dari seseorang yang merelakan perasaannya kepada wanita lain.
By: Unknown~
Minggu, 20 Oktober 2013
Kekecewaanku
Sadarkah kamu? Aku hanya meminta sedikit pertolongan darimu, tak banyak kok. Bahkan mungkin menurutmu itu tak ada artinya tapi mengapa kamu tak memberikannya? Apakah aku tak layak untuk diberikan pertolongan? Tak pernah aku menyangka bahwa kamu sejahat itu kepadaku.
Aku percaya kepadamu, tapi kamu menyia-nyiakan kepercayaan yang kuberikan! Mengapa? Tolong jelaskan kepadaku! Seburuk itukah aku dimatamu? Tak pernahkah kamu sedikit saja menghargaiku? Aku tak meminta banyak hal darimu.
Awalnya aku mengira kamu begitu baik padaku, kamu menganggapku ada, kamu yang menjadi sandaranku saat aku lelah, kamu yang bukan fantasi khayalanku, kamu yang benar-benar nyata. Tapi entah mengapa sekarang kepercayaan yang kupupuk untukmu telah mati dan mungkin saja takkan tumbuh lagi walaupun dipupuk untuk kesekian kalinya lagi.
Maaf telah memberikan kepercayaanku kepadamu. Aku mungkin salah menilaimu, aku selah mengira dirimu sebagai seorang yang baik dimataku tapi ternyata tidak... aku takkan memberikanmu kepercayaanku begitu saja lagi.
Maaf, karena untuk saat ini aku takkan menganggapmu ada. Ku akui, aku cukup sabar menghadapi semua sikapmu kepadaku. Tapi kini semuanya telah terlewat batas. Aku yang terlalu baik kepadamu mungkin, selalu memberikanmu perhatian, menyisihkan waktuku yang berharga untukmu, dan itulah pengorbananku! Sekarang aku balik bertanya kepadamu? Pengorbananmu selama ini untukku apa? Kenapa kamu malah melakukan sebaliknya kepadaku. Kamu menghancurkan kepercayaanku padamu. Kamu telah mengecewakanku.
Dari seseorang yang telah kecewe dengan sikapmu
By: Unknown
Aku percaya kepadamu, tapi kamu menyia-nyiakan kepercayaan yang kuberikan! Mengapa? Tolong jelaskan kepadaku! Seburuk itukah aku dimatamu? Tak pernahkah kamu sedikit saja menghargaiku? Aku tak meminta banyak hal darimu.
Awalnya aku mengira kamu begitu baik padaku, kamu menganggapku ada, kamu yang menjadi sandaranku saat aku lelah, kamu yang bukan fantasi khayalanku, kamu yang benar-benar nyata. Tapi entah mengapa sekarang kepercayaan yang kupupuk untukmu telah mati dan mungkin saja takkan tumbuh lagi walaupun dipupuk untuk kesekian kalinya lagi.
Maaf telah memberikan kepercayaanku kepadamu. Aku mungkin salah menilaimu, aku selah mengira dirimu sebagai seorang yang baik dimataku tapi ternyata tidak... aku takkan memberikanmu kepercayaanku begitu saja lagi.
Maaf, karena untuk saat ini aku takkan menganggapmu ada. Ku akui, aku cukup sabar menghadapi semua sikapmu kepadaku. Tapi kini semuanya telah terlewat batas. Aku yang terlalu baik kepadamu mungkin, selalu memberikanmu perhatian, menyisihkan waktuku yang berharga untukmu, dan itulah pengorbananku! Sekarang aku balik bertanya kepadamu? Pengorbananmu selama ini untukku apa? Kenapa kamu malah melakukan sebaliknya kepadaku. Kamu menghancurkan kepercayaanku padamu. Kamu telah mengecewakanku.
Dari seseorang yang telah kecewe dengan sikapmu
By: Unknown
Inikah permainanmu ?
Hari berlalu begitu saja, belakangan ini aku merasakan perubahan pada dirimu terulang kembali. Awalnya kamu menuturkan janji-janji manismu yang membuat hatiku terbuai oleh rayuanmu itu, rayuan gombal yang entah mengapa membisikan relung hatiku agar mau menerimamu kembali kedalam kehidupanku ini. Tapi kini, kamu mengulangi kesalahan yang telah kamu lakukan sebelumnya, sebelum kita kembali mengikat janji untuk bersama lagi.
Hanya fase ini saja yang selalu terjadi didalam hubungan kita. Aku dan kamu mengikat janji dalam sebuah hubungan yang beratas namakan pacaran, lalu kita menjalani hari-hari bersama, berbulan-bulan bahkan bermingu-minggu belakangan terjadi perubahan dalam sikapmu terhadapku dan aku menyadari akan hal tersebut. Okelah aku memaklumi sikapmu diawalnya, tapi semakin lama sikapmu malah semakin menjadi-jadi dan tak menganggapku lagi. Tak memberikan kabar sedikitpun, tak pernat tepat waktu saat kita berencana melakukan aktivitas apapun itu bahkan hingga meninggalkanku ditengah keramaian sendirian tanpa sandaran apabila aku lelah. Hingga akhirnya kamu membuat keputusan sepihak untuk mengakhiri semuanya. Tak sadarkah dirimu? Kamu adalah penyebab masalah dalam hubungan kita, bukan aku ! Ataukah aku saja yang terlalu bodoh untuk tak mempermainkanmu juga? Aku mencoba untuk mempertahankan hubungan ini tapi? Entahlah hingga kini aku masih tak mengerti dengan keputusanmu itu.
2 bulan telah berlalu sejak kamu mengakhiri secara sepihak tentang hubungan kita. Namun kamu datang kembali dan memintaku untuk memaafkan kesalahan yang telah kamu lakukan dan memintaku untuk kembali kepadamu. Mungkin aku yang terlalu lugu ataukah memang dirimu begitu berpengalaman dalam hal menarik hati seoang wanita hingga kamu kembali mencuri hatiku. Aku menerimamu kembali dan menjalankan hubungan kita seperti sedia dulu kala. Tapi apa yang terjadi? Kini kamu mengulanginya kembali dan untuk kali ini takkan ku maklumi kesalahanmu. Takkan ku maafkan dirimu yang telah melukaiku untuk kesekian kalinya. Ingat, aku sudah tak bisa menghitung sudah berapa kali kamu melakukan hal ini kepadaku hingga berkali-kali pula aku telah jatuh sakit hanya karena memikirkan masalah kita yang tak kunjung kamu selesaikan.
Tak mengertikah kamu dengan kesalahan yang kamu perbuat? Atau aku harus menarik kesimpulan dan menceritakannya didepan matamu sendiri hal apa saja yang menjadi masalahmu selama ini dan membuatku jenuh untuk kembali lagi kepadamu? Baiklah, aku akan menceritakannya kesimpulan yang selama ini kudapatkan darimu!
Kamu selalu menceritakan dan berbicara tentang cinta sejati yang akan kita lalui dalam hubungan itu. Berjanji untuk sehidup semati, tapi entah mengapa dan aku juga tidak mengetahui alasanmu secara jelas kamu selalu datang dan pergi sesuka hatimu bahkan sampai-sampai kamu seringkali lupa untuk kembali. Kapankah kamu menyadarinya? Menyadari bahwa akulah satu-satunya wanita yang bisa mencintaimu secara utuh? Akulah satu-satunya wanita yang selalu mempertahankan hubungan ini dikala kamu membuat masalah dan memili untuk mengakhirinya. Akulah satu-satunya wanita yang bisa menerimamu apa adanya walaupun kamu telah menyakitiku berulang kali. Apakah hubungan kita ini yang dinamakan cinta? Jika hanya menimbulkan luka? Tapi sekarang. Aku lelah, aku sudah tak bisa mentolerir kesalahanmu.
Terima kasih atas cintamu yang datang semaunya saja, datang dan pergi sesuka hatimu. Terima kasih telah menjadikanku wanita yang kuat dan bertahan apapun cobaan yang diberikan oleh Tuhan melalui perantaraan dirimu. Terima kasih atas segalanya.
Dari seseorang yang telah lelah dan berhenti untuk mencintaimu
By: Unknown~
Hanya fase ini saja yang selalu terjadi didalam hubungan kita. Aku dan kamu mengikat janji dalam sebuah hubungan yang beratas namakan pacaran, lalu kita menjalani hari-hari bersama, berbulan-bulan bahkan bermingu-minggu belakangan terjadi perubahan dalam sikapmu terhadapku dan aku menyadari akan hal tersebut. Okelah aku memaklumi sikapmu diawalnya, tapi semakin lama sikapmu malah semakin menjadi-jadi dan tak menganggapku lagi. Tak memberikan kabar sedikitpun, tak pernat tepat waktu saat kita berencana melakukan aktivitas apapun itu bahkan hingga meninggalkanku ditengah keramaian sendirian tanpa sandaran apabila aku lelah. Hingga akhirnya kamu membuat keputusan sepihak untuk mengakhiri semuanya. Tak sadarkah dirimu? Kamu adalah penyebab masalah dalam hubungan kita, bukan aku ! Ataukah aku saja yang terlalu bodoh untuk tak mempermainkanmu juga? Aku mencoba untuk mempertahankan hubungan ini tapi? Entahlah hingga kini aku masih tak mengerti dengan keputusanmu itu.
2 bulan telah berlalu sejak kamu mengakhiri secara sepihak tentang hubungan kita. Namun kamu datang kembali dan memintaku untuk memaafkan kesalahan yang telah kamu lakukan dan memintaku untuk kembali kepadamu. Mungkin aku yang terlalu lugu ataukah memang dirimu begitu berpengalaman dalam hal menarik hati seoang wanita hingga kamu kembali mencuri hatiku. Aku menerimamu kembali dan menjalankan hubungan kita seperti sedia dulu kala. Tapi apa yang terjadi? Kini kamu mengulanginya kembali dan untuk kali ini takkan ku maklumi kesalahanmu. Takkan ku maafkan dirimu yang telah melukaiku untuk kesekian kalinya. Ingat, aku sudah tak bisa menghitung sudah berapa kali kamu melakukan hal ini kepadaku hingga berkali-kali pula aku telah jatuh sakit hanya karena memikirkan masalah kita yang tak kunjung kamu selesaikan.
Tak mengertikah kamu dengan kesalahan yang kamu perbuat? Atau aku harus menarik kesimpulan dan menceritakannya didepan matamu sendiri hal apa saja yang menjadi masalahmu selama ini dan membuatku jenuh untuk kembali lagi kepadamu? Baiklah, aku akan menceritakannya kesimpulan yang selama ini kudapatkan darimu!
Kamu selalu menceritakan dan berbicara tentang cinta sejati yang akan kita lalui dalam hubungan itu. Berjanji untuk sehidup semati, tapi entah mengapa dan aku juga tidak mengetahui alasanmu secara jelas kamu selalu datang dan pergi sesuka hatimu bahkan sampai-sampai kamu seringkali lupa untuk kembali. Kapankah kamu menyadarinya? Menyadari bahwa akulah satu-satunya wanita yang bisa mencintaimu secara utuh? Akulah satu-satunya wanita yang selalu mempertahankan hubungan ini dikala kamu membuat masalah dan memili untuk mengakhirinya. Akulah satu-satunya wanita yang bisa menerimamu apa adanya walaupun kamu telah menyakitiku berulang kali. Apakah hubungan kita ini yang dinamakan cinta? Jika hanya menimbulkan luka? Tapi sekarang. Aku lelah, aku sudah tak bisa mentolerir kesalahanmu.
Terima kasih atas cintamu yang datang semaunya saja, datang dan pergi sesuka hatimu. Terima kasih telah menjadikanku wanita yang kuat dan bertahan apapun cobaan yang diberikan oleh Tuhan melalui perantaraan dirimu. Terima kasih atas segalanya.
Dari seseorang yang telah lelah dan berhenti untuk mencintaimu
By: Unknown~
Senin, 14 Oktober 2013
Ketidak-paham-anku
Melihat wajahmu dengan penuh senyuman menciptakan suasana nyaman yang takkan terhitung:) aku menyukaimu hingga sekarang. Aku tetap mencintaiimu walaupun kamu telah menyakitiku. Senyummu menjadi alasanku untuk bahagia pula.
"Ketidakpahamanku" adalah sebuah pemikiran yang tak terbendung dalam sisi hatiku saat ini. Aku tak tahu mengapa dan kenapa kamu melakukan itu semua kepadaku. Aku tak tahu mengapa kamu begitu teganya melakukan ini semua kepadaku. Aku yang seringkali terluka oleh sikapmu, bahkan perkataanmu. Aku tetap mencintaimu walaupun kamu tetap menyakitiku.
Aku mengerti segala sikap dan tindakanmu terhadapku, tapi aku tak bisa untuk memahami segalanya.
Aku telah mencoba dan terus mencoba membaca arti sikap dan tindakanmu yang kamu berikan kepadaku, tapi aku tetap saja tidak mengerti dengan segalanya. Maafkan aku, bila tak bisa berpaling darimu, mungkinkah ini hanya sesaat(?) aku tak tahu. Yang pasti hingga kini aku tak bisa membencimu.
Setiap kali aku memandangmu, aku selalu berfikir apakah yang kurasakan ini hanya kekaguman belaka atau memang aku mencintaimu lebih dari.... Memang hingga kini aku tak mengerti apa yang sebenarnya aku rasakan. Jadi jangan tanyakan padaku mengapa aku memiliki rasa ini.
By: Unknown~
Jumat, 11 Oktober 2013
Menyadari...
Ku hentakkan sepatu ku dengan keras pada jalan aspal. Membungkukkan badanku dan meletakkan tanganku pada perutku. Nafasku naik-turun. Aku mencoba mengatur nafasku dan menoleh sedikit kebelakang. Sudah tidak ada lagi yang mengejarku. Aku bukan pencuri yang sedang dikejar oleh para warga. Nanti ku ceritakan.
Beberapa mata memandangiku aneh, apa peduli ku? Aku sedang kesal dan aku tidak perduli dengan orang-orang yang ingin tahu itu. Kenapa tidak ada yang ingin membiarkanku untuk bahagia barang sebentar saja? Seakan-akan aku hidup hanya untuk bersedih. Keinginan ku jarang dipenuhi. Selalu ada batasan-batasan yang tidak ku mengerti apa alasannya. Mereka juga tidak pernah ingin memberitahuku dan aku tidak ingin repot-repot untuk memaksa mereka memberitahuku. Melalui barang-barang itu aku bisa tersenyum, memamerkan pada teman-temanku, dan yeah.. rasa bangga akan muncul. Menjadi yang terbelakang adalah mimpi buruk bagiku (yang berusaha terus ku jauhkan). Dan sekarang mereka mencoba membuatku menjadi yang terbelakang. Oh, tidak! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
Kaki ku terus melangkah tanpa arah, aku membiarkan sepasang kaki ku melangkah kemanapun mereka inginkan. Selama sepasang kakiku sibuk menentukan arah, kepalaku sibuk untuk berpikir menentukan cara agar keinginan ku bisa terpenuhi. Aku masih kecil, aku memiliki banyak kebutuhan yang kuinginkan dan merasakan penolakan adalah hal terakhir yang ingin kucapai, beberapa teman sebaya ku juga memiliki pemikiran yang sama denganku. Penolakan adalah hal yang kami benci.
Indra penciumanku...menghirup udara yang...asing. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku beberapa kali. Memperhatikan sekitarku. Kenapa aku bisa disini?
Sepasang manik mataku menjelajah sekitarku. Aku harus lari. Aku harus lari. Aku harus lari. Ku ucapkan kalimat tersebut berulang kali dalam hati, memerintahkan tubuhku. Tetapi tak sedikitpun bagian dari tubuhku yang bergerak. Hanya manik mataku yang masih mengawasi sekitar. Berjaga-jaga.
Kemudian giliran indra pendengaranku yang menajam, aku mendengar suara tawa yang terdengar begitu ceria. Sepasang manik mataku berhenti diasal suara tersebut.
Tawa-tawa ceria itu...Senyum-senyum bahagia itu...dan mata yang berbinar-binar tetapi terlihat menyimpan begitu banyak cerita.
Aku tertegun.
Tangan-tangan mungil itu kotor dengan tanah, baju mereka terlihat begitu kusam bahkan terlihat tak pantas untuk digunakan, wajah lucu mereka tertutupi oleh debu, dan kulit mereka menghitam karena terlalu lama diterpa terik matahari. Mereka tidak memperdulikannya.
Tapi... kenapa mereka tampak begitu bahagia?
Aku menundukkan kepalaku, memperhatikan pakaian yang ku gunakan sendiri lalu beralih memandang pada mereka lagi. Bisakah aku bahagia dengan seperti itu?Aku...aku tidak yakin.
Mereka berlari-lari kecil menuju sebuah rumah. Bukan, bukan rumah. Aku juga tidak tahu, apa yang kau namakan untuk kardus-kardus yang disusun menjadi kotak?
Mereka semua duduk di atas kardus, seseorang yang lebih tua dari mereka muncul membawakan dua bungkus plastik. Aku melangkah lebih mendekat, mencoba melihat lebih jelas isi dari dua bungkus plastik tersebut. Oh, nasi bungkus. Tapi tak ada lauk. Hanya nasi. Seseorang yang lebih tua dari mereka membagi dua bungkus nasi menjadi beberapa bagian hingga semuanya mendapatkan nasi mereka pada plastik putih. Tidak ada piring.
Mereka semua menundukkan kepala. Berdoa? Ya, mereka memang berdoa. Aku bisa mendengar mereka serempak berucap ''Amin'' setelahnya. Lalu tangan-tangan kotor itu mulai menyentuh nasi masing-masing. Memakannya seolah-olah yang mereka makan saat ini adalah nasi dengan lauk yang begitu lezat. Bergantian mereka saling menatap dan tersenyum. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa mereka tersenyum? Hatiku rasanya ngilu. Aku meringis. Tanpa kusadari sudah banyak titik-titik air mata mengalir pada pipiku tanpa bisa kucegah.
Aku menyadari sesuatu.
Tidak seharusnya aku seperti ini. Tidak seharusnya aku menuntut pada hal-hal yang tidak benar-benar aku butuhkan. Tidak seharusnya aku menjadi seseorang yang begitu bangga dengan apa yang kumiliki. Tidak seharusnya aku menjadi seseorang yang begitu tutup mata pada hal-hal yang seharusnya dari awal sudah kulihat. Tidak seharusnya aku menjadi seseorang yang... Ya ampun! Aku begitu malu dengan diriku sendiri.
Sebuah tepukan pada bahuku membawaku kembali pada kesadaranku. Aku menoleh. Orang itu tersenyum penuh makna padaku, aku berusaha membalasnya. Ia mengangguk dan menuntunku berjalan pulang. Selama dijalan, orang itu membisikan ku sebuah alasan atas semua keinginanku yang tidak bisa dipenuhi. Aku mengerti dan aku sudah menyadarinya sebelum aku diberitahukan.
Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi seseorang yang lebih baik setelah ini. Karena Tuhan sudah menyadarkan ku dengan caranya sendiri dan aku bersyukur Tuhan memilih cara seperti ini untuk menyadarkanku.
Menyadari bahwa...
Kebahagiakan itu sederhana jika kau menginginkannya. Bersyukur dengan apa yang kau miliki maka kebahagian itu sendiri datang padamu tanpa kau sadari. Tidak perlu menuntut. Hanya bersyukur.
Jangan tutup matamu terhadap hal-hal kecil. Buka terus. Lihat apa yang ada diluar sana. Orang-orang yang membutuhkan. Kau beruntung, salah! Sangat beruntung. Diluar sana, banyak yang lebih kekurangan. Kau menyadarinya, bukan?
Lalu alasan apa yang membuat mu enggan untuk bersyukur? Enggan untuk mengulurkan tangan?
Can i get an answer? Haha i'm just kidding but if u don't mind, please send your answer on twitter(if u know who i am) but i guess no one will send me an answer. It's ok.. tulisan ini hanya tulisan biasa. Banyak yang berpikiran kesini. But i tried to make it look a little different. Did i succeed?
P.S : i hope u can get something or learn something from my writing:) love yaaaa...
by: abstrack xoxo
Beberapa mata memandangiku aneh, apa peduli ku? Aku sedang kesal dan aku tidak perduli dengan orang-orang yang ingin tahu itu. Kenapa tidak ada yang ingin membiarkanku untuk bahagia barang sebentar saja? Seakan-akan aku hidup hanya untuk bersedih. Keinginan ku jarang dipenuhi. Selalu ada batasan-batasan yang tidak ku mengerti apa alasannya. Mereka juga tidak pernah ingin memberitahuku dan aku tidak ingin repot-repot untuk memaksa mereka memberitahuku. Melalui barang-barang itu aku bisa tersenyum, memamerkan pada teman-temanku, dan yeah.. rasa bangga akan muncul. Menjadi yang terbelakang adalah mimpi buruk bagiku (yang berusaha terus ku jauhkan). Dan sekarang mereka mencoba membuatku menjadi yang terbelakang. Oh, tidak! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
Kaki ku terus melangkah tanpa arah, aku membiarkan sepasang kaki ku melangkah kemanapun mereka inginkan. Selama sepasang kakiku sibuk menentukan arah, kepalaku sibuk untuk berpikir menentukan cara agar keinginan ku bisa terpenuhi. Aku masih kecil, aku memiliki banyak kebutuhan yang kuinginkan dan merasakan penolakan adalah hal terakhir yang ingin kucapai, beberapa teman sebaya ku juga memiliki pemikiran yang sama denganku. Penolakan adalah hal yang kami benci.
Indra penciumanku...menghirup udara yang...asing. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku beberapa kali. Memperhatikan sekitarku. Kenapa aku bisa disini?
Sepasang manik mataku menjelajah sekitarku. Aku harus lari. Aku harus lari. Aku harus lari. Ku ucapkan kalimat tersebut berulang kali dalam hati, memerintahkan tubuhku. Tetapi tak sedikitpun bagian dari tubuhku yang bergerak. Hanya manik mataku yang masih mengawasi sekitar. Berjaga-jaga.
Kemudian giliran indra pendengaranku yang menajam, aku mendengar suara tawa yang terdengar begitu ceria. Sepasang manik mataku berhenti diasal suara tersebut.
Tawa-tawa ceria itu...Senyum-senyum bahagia itu...dan mata yang berbinar-binar tetapi terlihat menyimpan begitu banyak cerita.
Aku tertegun.
Tangan-tangan mungil itu kotor dengan tanah, baju mereka terlihat begitu kusam bahkan terlihat tak pantas untuk digunakan, wajah lucu mereka tertutupi oleh debu, dan kulit mereka menghitam karena terlalu lama diterpa terik matahari. Mereka tidak memperdulikannya.
Tapi... kenapa mereka tampak begitu bahagia?
Aku menundukkan kepalaku, memperhatikan pakaian yang ku gunakan sendiri lalu beralih memandang pada mereka lagi. Bisakah aku bahagia dengan seperti itu?Aku...aku tidak yakin.
Mereka berlari-lari kecil menuju sebuah rumah. Bukan, bukan rumah. Aku juga tidak tahu, apa yang kau namakan untuk kardus-kardus yang disusun menjadi kotak?
Mereka semua duduk di atas kardus, seseorang yang lebih tua dari mereka muncul membawakan dua bungkus plastik. Aku melangkah lebih mendekat, mencoba melihat lebih jelas isi dari dua bungkus plastik tersebut. Oh, nasi bungkus. Tapi tak ada lauk. Hanya nasi. Seseorang yang lebih tua dari mereka membagi dua bungkus nasi menjadi beberapa bagian hingga semuanya mendapatkan nasi mereka pada plastik putih. Tidak ada piring.
Mereka semua menundukkan kepala. Berdoa? Ya, mereka memang berdoa. Aku bisa mendengar mereka serempak berucap ''Amin'' setelahnya. Lalu tangan-tangan kotor itu mulai menyentuh nasi masing-masing. Memakannya seolah-olah yang mereka makan saat ini adalah nasi dengan lauk yang begitu lezat. Bergantian mereka saling menatap dan tersenyum. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa mereka tersenyum? Hatiku rasanya ngilu. Aku meringis. Tanpa kusadari sudah banyak titik-titik air mata mengalir pada pipiku tanpa bisa kucegah.
Aku menyadari sesuatu.
Tidak seharusnya aku seperti ini. Tidak seharusnya aku menuntut pada hal-hal yang tidak benar-benar aku butuhkan. Tidak seharusnya aku menjadi seseorang yang begitu bangga dengan apa yang kumiliki. Tidak seharusnya aku menjadi seseorang yang begitu tutup mata pada hal-hal yang seharusnya dari awal sudah kulihat. Tidak seharusnya aku menjadi seseorang yang... Ya ampun! Aku begitu malu dengan diriku sendiri.
Sebuah tepukan pada bahuku membawaku kembali pada kesadaranku. Aku menoleh. Orang itu tersenyum penuh makna padaku, aku berusaha membalasnya. Ia mengangguk dan menuntunku berjalan pulang. Selama dijalan, orang itu membisikan ku sebuah alasan atas semua keinginanku yang tidak bisa dipenuhi. Aku mengerti dan aku sudah menyadarinya sebelum aku diberitahukan.
Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi seseorang yang lebih baik setelah ini. Karena Tuhan sudah menyadarkan ku dengan caranya sendiri dan aku bersyukur Tuhan memilih cara seperti ini untuk menyadarkanku.
Menyadari bahwa...
Kebahagiakan itu sederhana jika kau menginginkannya. Bersyukur dengan apa yang kau miliki maka kebahagian itu sendiri datang padamu tanpa kau sadari. Tidak perlu menuntut. Hanya bersyukur.
Jangan tutup matamu terhadap hal-hal kecil. Buka terus. Lihat apa yang ada diluar sana. Orang-orang yang membutuhkan. Kau beruntung, salah! Sangat beruntung. Diluar sana, banyak yang lebih kekurangan. Kau menyadarinya, bukan?
Lalu alasan apa yang membuat mu enggan untuk bersyukur? Enggan untuk mengulurkan tangan?
Can i get an answer? Haha i'm just kidding but if u don't mind, please send your answer on twitter(if u know who i am) but i guess no one will send me an answer. It's ok.. tulisan ini hanya tulisan biasa. Banyak yang berpikiran kesini. But i tried to make it look a little different. Did i succeed?
P.S : i hope u can get something or learn something from my writing:) love yaaaa...
by: abstrack xoxo
Kamis, 10 Oktober 2013
Sebuah kehancuran yang tak kuinginkan
Kenapa harus kamu? Kamu yang menghadirkan sebuah tanda tanya besar dan kebisuan yang datang dengan santainya. Kenapa harus kamu? Kamu yang selama ini menjadi sahabat baikku tiba-tiba saja masuk seenaknya kedalam hatiku tanpa permisi. Kenapa harus kamu? yang dapat membuatku jatuh cinta hingga merasakan luka yang begitu tak tertahankan. Apakah tak ada orang lain selain kamu?
Aku masih tetap saja tak mengerti, mengapa harus kamu? yang mengisyaratkan hatiku untuk menyimpan perasaan ini. Kenapa harus kamu? Kamu yang memaksa pikiranku agar tak berhenti tersenyum sendiri ketika memikirkan kebersamaan kita.
Kenapa harus persahabatan kita yang merasakan semua ini? Kenapa bukan mereka atau orang lain saja? Kenapa aku bertanya kepadamu? Dan kenapa pula kamu tak menjawab pertanyaan dariku? Kenapa kamu tak pernah memberikanku sebuah isyarat atau "kode" yang membuatku peka?
Aku lelah, aku bosan melawan rasa takutku hanya untuk mencintaimu. Lalu kenapa harus kamu? Yang mampu mengubah rasa takut yang kurasakan menjadi sebuah keberanian kecil. Mengubah pola pikirku terhadap pria.
Jangan biarkan aku terus bertanya-tanya. Jangan biarkan aku terus mencari kebenaran yang sebenarnya hasilnya akan nihil. Jangan biarkan aku terus merasakan perasaan yang sebenarnya hanya halusinasi belakaku. Jangan biarkan aku terus menuggu. Jangan biarkan waktu yang kumiliki terbuang percuma. Jangan hanya karena kamu yang sulit kulupakan.
Kenapa harus aku? aku yang untuk pertama kalinya mengetahui isi hatimu yang sebenarnya. Kenapa harus aku? aku yang ternyata selama ini ada dihatimu juga. Lalu, kenapa selama ini kamu tak memberikanku kepastian yang jelas? Apakah kamu malu untuk mengakuinya? Ataukah kamu takut aku tak memiliki perasaan yang sama denganmu? Kamu salah besar jika berspekulasi seperti itu. Kenapa kamu tidak mencoba untu mengatakan yang sejujurnya kepadaku? Mengapa?
Seminggu terasa cepat berlalu. Malam ini kamu mengajakku makan malam disebuah tempat sederhana, aku tahu kamu memiliki sifat yang sangat sederhana dan tak menyukai hal-hal yang berbau boros. Disana kamu menjawab semua pertanyaan yang terus mengalir diotakku dengan sebuah pernyataan cinta. Tak tahu harus berkata apa-apa, aku begitu terkejut sekaligus senang mendengarnya. Tak berpikir lama, akupun menjawab dengan anggukan yang mantap.
Kita melalui kebersamaan ini selama hampir empat bulan berjalan, tiba-tiba saja kamu mengatakan hal yang tak pernah terpikirkan diotakku selama belakangan ini. Kamu meminta agar hubungan kita berakhir disini saja. Kamu mengakhirinya tanpa alasan yang jelas. Aku tak dapat berbuat banyak dengan keputusan yang kamu ambil. Aku tak bisa menahanmu disini dan tetap mencintaiku, aku tak bisa melakukan semua itu. Dengan berat hati aku mengikhlaskan hubungan ini berakhir.
Setelah hubungan ini berakhir, kamu mulai berubah. Walaupun persahabatan kita masih terjalin, tapi persahabatan kita rentan terhadap kehancuran dan ketidakharmonisan. Aku menginginkan kamu yang dulu, kamu yang tetap menjadi sahabatku selalu ada saat suka maupun dukaku, kamu yang selalu membuatku tersenyum dikala aku bersedih, kamu yang bisa membuat semangatku kembali lagi hanya dengan kata-kata indah yang kamu rangkain. Tapi sekarang? Aku tak dapat mengharapkan semua itu. Itu hanya akan menjadi sebuah mimpi. Kini kamu berbeda, dan aku tak mengetahui penyebabnya. Kita hanya seperti dua orang asing yang tak saling mengenal saat kita berpapasan. Aku tetap menganggapmu sebagai sahabatku walaupun aku tahu kamu tak lagi menganggapku.
Hingga kini. Harapan itu masih ada, dan akan terus ada hingga akhirnya aku memulai kembali menjalin sebuah pertemanan denganmu dan tak mengungkit segala kenangan yang terjadi diantara kita dimasa lalu. Semoga segalanya dapat kembali seperti sedia kala. Aku merindukan persahabat kita yang terjalin hingga bertahu-tahun lamanya.
Kenapa harus kamu? yang mampu membuatku putus asa dengan segalanya. Kenapa harus kamu? Yang menjadi sebab air mataku terjatuh. Inilah kesalahan terbesarku. Mengapa harus aku? aku yang membuat persahabatan diantara kita berdua menjadi hancur tak tersisakan.
By: Unknown~
Aku masih tetap saja tak mengerti, mengapa harus kamu? yang mengisyaratkan hatiku untuk menyimpan perasaan ini. Kenapa harus kamu? Kamu yang memaksa pikiranku agar tak berhenti tersenyum sendiri ketika memikirkan kebersamaan kita.
Kenapa harus persahabatan kita yang merasakan semua ini? Kenapa bukan mereka atau orang lain saja? Kenapa aku bertanya kepadamu? Dan kenapa pula kamu tak menjawab pertanyaan dariku? Kenapa kamu tak pernah memberikanku sebuah isyarat atau "kode" yang membuatku peka?
Aku lelah, aku bosan melawan rasa takutku hanya untuk mencintaimu. Lalu kenapa harus kamu? Yang mampu mengubah rasa takut yang kurasakan menjadi sebuah keberanian kecil. Mengubah pola pikirku terhadap pria.
Jangan biarkan aku terus bertanya-tanya. Jangan biarkan aku terus mencari kebenaran yang sebenarnya hasilnya akan nihil. Jangan biarkan aku terus merasakan perasaan yang sebenarnya hanya halusinasi belakaku. Jangan biarkan aku terus menuggu. Jangan biarkan waktu yang kumiliki terbuang percuma. Jangan hanya karena kamu yang sulit kulupakan.
Kenapa harus aku? aku yang untuk pertama kalinya mengetahui isi hatimu yang sebenarnya. Kenapa harus aku? aku yang ternyata selama ini ada dihatimu juga. Lalu, kenapa selama ini kamu tak memberikanku kepastian yang jelas? Apakah kamu malu untuk mengakuinya? Ataukah kamu takut aku tak memiliki perasaan yang sama denganmu? Kamu salah besar jika berspekulasi seperti itu. Kenapa kamu tidak mencoba untu mengatakan yang sejujurnya kepadaku? Mengapa?
Seminggu terasa cepat berlalu. Malam ini kamu mengajakku makan malam disebuah tempat sederhana, aku tahu kamu memiliki sifat yang sangat sederhana dan tak menyukai hal-hal yang berbau boros. Disana kamu menjawab semua pertanyaan yang terus mengalir diotakku dengan sebuah pernyataan cinta. Tak tahu harus berkata apa-apa, aku begitu terkejut sekaligus senang mendengarnya. Tak berpikir lama, akupun menjawab dengan anggukan yang mantap.
Kita melalui kebersamaan ini selama hampir empat bulan berjalan, tiba-tiba saja kamu mengatakan hal yang tak pernah terpikirkan diotakku selama belakangan ini. Kamu meminta agar hubungan kita berakhir disini saja. Kamu mengakhirinya tanpa alasan yang jelas. Aku tak dapat berbuat banyak dengan keputusan yang kamu ambil. Aku tak bisa menahanmu disini dan tetap mencintaiku, aku tak bisa melakukan semua itu. Dengan berat hati aku mengikhlaskan hubungan ini berakhir.
Setelah hubungan ini berakhir, kamu mulai berubah. Walaupun persahabatan kita masih terjalin, tapi persahabatan kita rentan terhadap kehancuran dan ketidakharmonisan. Aku menginginkan kamu yang dulu, kamu yang tetap menjadi sahabatku selalu ada saat suka maupun dukaku, kamu yang selalu membuatku tersenyum dikala aku bersedih, kamu yang bisa membuat semangatku kembali lagi hanya dengan kata-kata indah yang kamu rangkain. Tapi sekarang? Aku tak dapat mengharapkan semua itu. Itu hanya akan menjadi sebuah mimpi. Kini kamu berbeda, dan aku tak mengetahui penyebabnya. Kita hanya seperti dua orang asing yang tak saling mengenal saat kita berpapasan. Aku tetap menganggapmu sebagai sahabatku walaupun aku tahu kamu tak lagi menganggapku.
Hingga kini. Harapan itu masih ada, dan akan terus ada hingga akhirnya aku memulai kembali menjalin sebuah pertemanan denganmu dan tak mengungkit segala kenangan yang terjadi diantara kita dimasa lalu. Semoga segalanya dapat kembali seperti sedia kala. Aku merindukan persahabat kita yang terjalin hingga bertahu-tahun lamanya.
Kenapa harus kamu? yang mampu membuatku putus asa dengan segalanya. Kenapa harus kamu? Yang menjadi sebab air mataku terjatuh. Inilah kesalahan terbesarku. Mengapa harus aku? aku yang membuat persahabatan diantara kita berdua menjadi hancur tak tersisakan.
By: Unknown~
Jangan pernah katakan "Rindu"
Aku menulis cerita ini bertepatan dengan rasa sakit yang kurasakan dan tak benar-benar kamu mengerti. Aku memperhatikan laptopku dengan tatapan kosong dan berakhir dengan perasaan yang tak berhasil keterka. Pahamilah kamu, bahwa perjuanganku juga butuh kepedulianmu! Perasaanku bahkan perjuanganku ini akan sia-sia jika hanya satu pihak yang berjuang tanpa adanya pihak satu lagi yang mendukung ataupun berjuang juga.
Entahlah, aku tak tahu. Apakah kamu terlalu bodoh untuk menilai perasaanku, atau terlalu egois untuk memikirkan dan memaklumiku. Aku telah berusaha untuk sabar, berusahan sabar menghadapimu, segala ketidak-peduli-anmu, dan segala ketidak-pasti-anmu. Aku mencoba bertahan,, mencoba mempertahankanmu yang semestinya aku tinggalkan. Aku sudah terlalu sabar untuk menunggu terlalu lama, mengharapkan pengertian dan perhatianmu untuk menuju kearahku. Tetapi, segalanya tak kunjung datang menghampiri. Kamu tetap saja dengan sikapmu, dengan segala perkataanmu, dan dengan perlakuanmu yang takkan pernah berubah.
Apakah segala kesabaran dan perjuangan yang kulakukan kepadamu tak pernah terlihat dimata indahmu? Kamu sebenarnya mengetahui segalannyakan? Mengapa kamu hanya diam membisu di hari-hari kebersamaan kita?
Kamu begitu jauh disana, sangat terbatas yang kamu lakukan untukku selain mengirimkan pesan singkat ataupun menyapaku melalui percakapan kita diujung telepon. Kita hanya bisa saling merindukan. Rasa sakit ini semakin dalam terasa, membuat luka yang mungkin sangat sulit untuk sembuh. Semakin jarang aku melihatmu, semakin besar pula ketakutan yang kumiliki disini.
Apakah aku harus membandingkanmu dengan pria-pria lain yang lebih cerdas dan cerdik dalam meluangkan waktunya untukku daripada kamu yang hanya meluangkan sedikit waktumu untukku? Kamu tak pernah peduli dengan rasa sakit, rasa perih, dan rasa sedih yang selalu bahkan setiap hari kurasakan. Kamu membiarkan aku menyelesaikan permasalahan ini sendirian tanpa ada kata "kita" didalamnya. Apakah ini bentuk kepedulianmu terhadapku? kepedulian yang sering menjadi bahan per-cekcok-an diantara kita? Sebenarnya kepedulianmu mana? kehadiranmu disisiku mana? Semuanya KOSONG! Nol Besar!
Jangan pernah katakan "Rindu" jika kamu tak berada disini dan membuktikan segalanya dengan sikap dan perbuatan!
By: Unknown~
Caraku Mencintaimu
Aku mengetahui bahwa kamu tak suka diperlakukan layaknya anak yang masih dibawah umur yang dipenuhi oleh banyak pertanyaan karena pergi ke suatu tempat. Aku juga tahu bahwa kamu bosan diperlakukan dengan caraku yang tak bisa lagi ditolerir oleh akal fikiranmu. Ketika para pria yang lain bebes untuk melangkah kemanapun yang mereka inginkan, tapi aki selalu melarangmu untuk melangkah kemanapun, meskipun kamu tak sedang bersamaku, kamu ingin bebas berpergian.
Inilah caraku melindungimu. Cara yang mungkin tak pernah kamu harapkan dan tak kamu impikan. Mengekangmu dan membatasi lingkungan yang harus menjadi tempatmu. Mengontrolmu layaknya anak kecil yang belum mampu melakukan apapun, tak boleh kemanapun kecuali aku menemanimu ataupun seseorang menemanimu. Beginilah kegilaanku yang selalu mencemaskanmu, walaupun aku tahu bahwa kamu dapat menjaga dirimu sendiri, kamu bisa melawan apapun yang membuatmu terancam atau dalam bahaya.
Selalu saja kupertanyakan siapa saja wanita yang menghubungimu setiap menitnya, siapa wanita yang mencoba mendekatimu setiap jamnya, bahkan siapa wanita yang sedang kamu temani di jejaring sosial. Aku tahu bahwa kamu sangat tak nyaman dengan perlakuanku ini yang bahkan terkesan menjijikkan. Posesif memang, tapi inilah caraku untuk mengungkapkan segala perasaanku bahwa aku mencintaimu.
Kamu selalu memaksaku untuk menjelaskan sedetail mungkin terhadap setiap perlakuanku yang membuatmu merasa bosan. Aku merasakan cemburu buta yang tak pernah mendasar, sedangkan aku merasa begitu posesif karena tak memikirkan perasaanmu dalam segala tindakanku. Kamu selalu membandingkanku dengan wanita yang dulu pernah mengisi hari-harimu.
Beberapa wanita yang dulu menjalin hubungan denganmu, mereka berjanji membahagiakanmu dan takkan menyakitimu tapi buktinya? Mereka malah menyakitimu dan bahkan meninggalkanmu. Lihat?sekarang kamu memiliki diriku bukan! bahkan dengan segala keterbatasan dan kekuranganku malahan. Mulai sekarang, bisakah kamu mengerti diriku dan sikapku sedikit saja? Bahwa aku juga memiliki banyak kelebihan, tapi aku juga memiliki kekurangan, kekuranganku yang tak kamu sukai yaitu melindungimu dengan cara yang salah. Tapi sayang, aku selalu berharap dan mengimpikan bahwa aku tak pernah mencintai dirimu dengan cara yang salah.
By: Unknown~
Inilah caraku melindungimu. Cara yang mungkin tak pernah kamu harapkan dan tak kamu impikan. Mengekangmu dan membatasi lingkungan yang harus menjadi tempatmu. Mengontrolmu layaknya anak kecil yang belum mampu melakukan apapun, tak boleh kemanapun kecuali aku menemanimu ataupun seseorang menemanimu. Beginilah kegilaanku yang selalu mencemaskanmu, walaupun aku tahu bahwa kamu dapat menjaga dirimu sendiri, kamu bisa melawan apapun yang membuatmu terancam atau dalam bahaya.
Selalu saja kupertanyakan siapa saja wanita yang menghubungimu setiap menitnya, siapa wanita yang mencoba mendekatimu setiap jamnya, bahkan siapa wanita yang sedang kamu temani di jejaring sosial. Aku tahu bahwa kamu sangat tak nyaman dengan perlakuanku ini yang bahkan terkesan menjijikkan. Posesif memang, tapi inilah caraku untuk mengungkapkan segala perasaanku bahwa aku mencintaimu.
Kamu selalu memaksaku untuk menjelaskan sedetail mungkin terhadap setiap perlakuanku yang membuatmu merasa bosan. Aku merasakan cemburu buta yang tak pernah mendasar, sedangkan aku merasa begitu posesif karena tak memikirkan perasaanmu dalam segala tindakanku. Kamu selalu membandingkanku dengan wanita yang dulu pernah mengisi hari-harimu.
Beberapa wanita yang dulu menjalin hubungan denganmu, mereka berjanji membahagiakanmu dan takkan menyakitimu tapi buktinya? Mereka malah menyakitimu dan bahkan meninggalkanmu. Lihat?sekarang kamu memiliki diriku bukan! bahkan dengan segala keterbatasan dan kekuranganku malahan. Mulai sekarang, bisakah kamu mengerti diriku dan sikapku sedikit saja? Bahwa aku juga memiliki banyak kelebihan, tapi aku juga memiliki kekurangan, kekuranganku yang tak kamu sukai yaitu melindungimu dengan cara yang salah. Tapi sayang, aku selalu berharap dan mengimpikan bahwa aku tak pernah mencintai dirimu dengan cara yang salah.
By: Unknown~
Selasa, 08 Oktober 2013
Harapan palsu
Aku tak pernah menyesali perasaan ini dan aku tak pernah menyalahi siapapun atas perasaan ini, tapi tidak pernahkah kau sadari bahwa aku ada di sampingmu? ketahuilah aku yang selalu menghawatirkanmu tanpa sepengetahuanmu. Aku rindu, bahkan sangat sangat rindu saat itu dimana kita saling tertawa bersama, berjalan bersama diantara lambaian kerumunan pohon di sekitar kita. Jujur, yang paling kurindukan adalah perhatianmu, perhatian itu masih selalu membayang-bayangiku saat malam datang dan lelap tidurku.
Tapi kenapa setelah aku mengatakannya kau sangat berubah, mungkin kau berubah menjadi orang yang tak pernah ku kenal. Yah sempat aku ingin melupakan semuanya tapi entah kenapa kau selalu muncul di depanku dan memberiku perhatian lagi, aku tak mengerti perasaan mu bahkan tak mengerti sifatmu. Kau itu sebenarnya siapa? datang dan pergi sesuka hatimu, kau hanya orang yang memberi perhatian tanpa alasan. Ataukah mungkin aku hanya mengaggapnya berlebihan? ah entahlah, mungkin kau menganggapnya hanya sebatas hubungan kakakadik yang kakak seharusnya memperhatikan dan menyanyangi adiknya tapi mungkin aku salah, Iya aku yang salah yang menanggapnya benar-benar sungguhan .
By: SECRET-
Tapi kenapa setelah aku mengatakannya kau sangat berubah, mungkin kau berubah menjadi orang yang tak pernah ku kenal. Yah sempat aku ingin melupakan semuanya tapi entah kenapa kau selalu muncul di depanku dan memberiku perhatian lagi, aku tak mengerti perasaan mu bahkan tak mengerti sifatmu. Kau itu sebenarnya siapa? datang dan pergi sesuka hatimu, kau hanya orang yang memberi perhatian tanpa alasan. Ataukah mungkin aku hanya mengaggapnya berlebihan? ah entahlah, mungkin kau menganggapnya hanya sebatas hubungan kakakadik yang kakak seharusnya memperhatikan dan menyanyangi adiknya tapi mungkin aku salah, Iya aku yang salah yang menanggapnya benar-benar sungguhan .
By: SECRET-
Kisah dan cerita
Ini dia sepenggal kisah dan cerita para anak muda yang dinamakan 4biji
Pertama Nurhaliza alias Ija ini kisah cintanya cukup tragis, dimulai dengan kedekatannya dengan seorang pria yang jauh di suatu tempat.
Mereka menjalani hari-harinya dengan cukup indah bagaikan adik-kakak
yang saling menyayangi satu sama lain, hari demi hari berlalu ternyata
liza memendam rasa kepada pria tersebut tapi di tengah kebahagiaan
mereka, ada seseorang yang datang dan merusak hubungan mereka hingga
akhirnya komunikasi antara mereka terputus hingga saat ini-
Kedua, Andi Sriwaru usman alias jensol. Kisah cintanya cukup menyedihkan, diawali saat duduk di bangku SMP dia menjalani hubungan dengan seorang pria yang sekarang sudah menjadi pemain sepak bola profesional di luar sana. Di perjalanan keberhasilan si pria tersebut, selalu di dampingi dengan semangat dari si gadis ini. Hingga akhirnya mereka mengakhiri hubungannya entah kenapa dan bagaimana, tapi si Jens masih menyimpan harapan untuk bersamanya walaupun pria tersebut sudah memiliki orang lain:')-
Ketiga, NurPatimah alias Imeng. Kisah cintanya dipenuhi dengan dilema dan ketidakpastian, diawali dengan sebuah tatapan dari sang pemilik mata indah yaitu salah satu senior di sekolahnya. Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu, ia memendam perasaann kagumnya kepada senior tersebut. Hingga tiba waktu dimana ia harus jujur tentang perasaannya.. ia mengatakan semuanya, semuanya tentang isi hatinya. Tetapi jawaban dari senior tersebut tidak menunjukkan reaksi positif dan negatif. Ia masih terus menunggu dan menunggu hingga sekarang-
By : SECRET-
Kali ini..
Tanganku terulur dengan cepat meraih headsetku, menyalakan musik, melepaskan sepatu yang ku gunakan, mengangkat kedua lututku hingga sejajar dengan dada lalu memeluk lututku, kemudian menenggelamkan wajahku disana. Bahu ku berguncang...perlahan...hingga guncangan itu semakin besar. Isakanku tak tertahankan di dalam ruang kamarku yang sempit ini. Setelah beberapa menit, aku mengangkat kepalaku. Melarikan jemari-jemariku pada rambutku, mengenggam beberapa helai rambutku lalu aku menariknya..
Aku berteriak. Berteriak sekeras-kerasnya. Suara ku bergema di dalam ruangan ini. Aku tidak peduli jika ada yang mendengar teriakanku. Terlalu lelah untuk memikirkan orang lain saat ini.
Sebut aku gila tapi inilah yang bisa aku lakukan untuk meluapkan emosi yang selama ini tertahankan dalam hatiku. Yang selama ini ku kunci di dalam sana. Kali ini saja, aku mohon. Biarkan aku terpuruk selama beberapa jam. Biarkan aku meluapkannya. Biarkan. Aku tidak akan merepotkan siapa-siapa hanya karena terpuruk dan jangan pernah bertanya ''kenapa''. Kau hanya membuatku mengingat apa yang tidak ingin ku ingat. Katakan saja, ''ceritakan bila kau siap''.
Aku sudah mencapai dasar dalam diriku sendiri yang paling dalam. Aku sudah...tidak kuat lagi. Hatiku sudah terlalu penuh dengan rasa sesak. Kau juga pasti pernah merasakan apa yang kurasakan, saat kau sudah tidak bisa menahan luapan yang ingin keluar dalam hatimu. Saat kata ''sabar'' sudah tidak mampu lagi untuk menenangkanmu. Saat orang-orang disekitarmu tidak lagi bisa menghiburku. Dan pada akhirnya kesendirianlah pilihan yang paling tepat saat itu. Pernah, kah?
Aku membaringkan tubuhku pada lantai kamarku yang dingin. Kembali memeluk lututku. Meringkuk bagaikan seorang bayi. Isakanku semakin besar. Terkesan aku berteriak.
Sebut aku lemah. Tapi ini batasan ku bisa menahan semuanya. Sudah ku katakan, kali ini saja. KALI INI SAJA! Jadi mungkin dan semoga saja ini adalah hari terakhir aku seperti ini.
Semoga saja...
Memori-memori menyakitkan itu kembali berputar dalam batok kepalaku. Seolah memang ada rekaman khusus yang akan memutarnya jika aku ingin.
Saat aku menyalahgunakan kepercayaannya yang membawaku dalam masalah besar..
yang membuatku harus melepaskan seseorang yang penting dalam hidupku, membiarkan orang itu membenciku tanpa mendengarkan cerita dari sudut pandangku. Tak bisakah kau mendengarkan dari sudut pandangku juga karena kau hanya mendengarkan cerita itu dari satu pihak? Ah! Aku lupa. Memang seperti ini yang aku inginkan.
Dan tak lama setelah itu, aku harus merasakan ditinggalkan oleh seseorang yang penting karena kecerobohan ku sendiri. Apa yang aku bisa perbuat? Hanya memohon, mencoba menjelaskan, dan hasilnya? Gagal! Karma, kah? Aku melepaskan seseorang yang penting dalam hidupku dan tak lama kemudian aku orang yang juga di campakkan. Tapi sebenarnya aku melepaskan seseorang itu demi seseorang yang mencampakkan ku. Apa ini adil untukku? Mungkin, iya. Kehilangan dua orang yang paling penting dalam hidup dalam waktu yang hampir bersamaan. Bisa kau bayangkan itu?
Hari itu adalah masa dimana yang paling kelam dalam hidupku. Masa dimana aku merasa bahwa aku-lah orang yang paling terpuruk didunia ini. Sangat menyakitkan.
Ku pejamkan mataku, membakar rekaman menyakitkan di masa lalu ku tersebut. Aku-Tidak-Ingin-Mengingat-Ingatnya-Lagi! Mengingatnya hanya akan membawakanku ke dalam penyesalan kembali. Hari ini.. hari terakhir aku seperti ini.. dan hari dimana aku harus memulai cerita hidupku dibuku yang baru. Karena kata Selamat Tinggal telah ku ucapkan untuk seseorang di masa laluku.
Aku menghapus sisa-sisa air mata di pipiku dengan punggung tanganku. Mengubah posisiku menjadi duduk dan bersandar pada dinding kamarku. Lalu..
Sudut-sudut bibirku terangkat, berbentuk menjadi sebuah senyuman.
Aku sudah memutuskannya kali ini..
Selamat tinggal:)
by: abstrack xoxo
Aku berteriak. Berteriak sekeras-kerasnya. Suara ku bergema di dalam ruangan ini. Aku tidak peduli jika ada yang mendengar teriakanku. Terlalu lelah untuk memikirkan orang lain saat ini.
Sebut aku gila tapi inilah yang bisa aku lakukan untuk meluapkan emosi yang selama ini tertahankan dalam hatiku. Yang selama ini ku kunci di dalam sana. Kali ini saja, aku mohon. Biarkan aku terpuruk selama beberapa jam. Biarkan aku meluapkannya. Biarkan. Aku tidak akan merepotkan siapa-siapa hanya karena terpuruk dan jangan pernah bertanya ''kenapa''. Kau hanya membuatku mengingat apa yang tidak ingin ku ingat. Katakan saja, ''ceritakan bila kau siap''.
Aku sudah mencapai dasar dalam diriku sendiri yang paling dalam. Aku sudah...tidak kuat lagi. Hatiku sudah terlalu penuh dengan rasa sesak. Kau juga pasti pernah merasakan apa yang kurasakan, saat kau sudah tidak bisa menahan luapan yang ingin keluar dalam hatimu. Saat kata ''sabar'' sudah tidak mampu lagi untuk menenangkanmu. Saat orang-orang disekitarmu tidak lagi bisa menghiburku. Dan pada akhirnya kesendirianlah pilihan yang paling tepat saat itu. Pernah, kah?
Aku membaringkan tubuhku pada lantai kamarku yang dingin. Kembali memeluk lututku. Meringkuk bagaikan seorang bayi. Isakanku semakin besar. Terkesan aku berteriak.
Sebut aku lemah. Tapi ini batasan ku bisa menahan semuanya. Sudah ku katakan, kali ini saja. KALI INI SAJA! Jadi mungkin dan semoga saja ini adalah hari terakhir aku seperti ini.
Semoga saja...
Memori-memori menyakitkan itu kembali berputar dalam batok kepalaku. Seolah memang ada rekaman khusus yang akan memutarnya jika aku ingin.
Saat aku menyalahgunakan kepercayaannya yang membawaku dalam masalah besar..
yang membuatku harus melepaskan seseorang yang penting dalam hidupku, membiarkan orang itu membenciku tanpa mendengarkan cerita dari sudut pandangku. Tak bisakah kau mendengarkan dari sudut pandangku juga karena kau hanya mendengarkan cerita itu dari satu pihak? Ah! Aku lupa. Memang seperti ini yang aku inginkan.
Dan tak lama setelah itu, aku harus merasakan ditinggalkan oleh seseorang yang penting karena kecerobohan ku sendiri. Apa yang aku bisa perbuat? Hanya memohon, mencoba menjelaskan, dan hasilnya? Gagal! Karma, kah? Aku melepaskan seseorang yang penting dalam hidupku dan tak lama kemudian aku orang yang juga di campakkan. Tapi sebenarnya aku melepaskan seseorang itu demi seseorang yang mencampakkan ku. Apa ini adil untukku? Mungkin, iya. Kehilangan dua orang yang paling penting dalam hidup dalam waktu yang hampir bersamaan. Bisa kau bayangkan itu?
Hari itu adalah masa dimana yang paling kelam dalam hidupku. Masa dimana aku merasa bahwa aku-lah orang yang paling terpuruk didunia ini. Sangat menyakitkan.
Ku pejamkan mataku, membakar rekaman menyakitkan di masa lalu ku tersebut. Aku-Tidak-Ingin-Mengingat-Ingatnya-Lagi! Mengingatnya hanya akan membawakanku ke dalam penyesalan kembali. Hari ini.. hari terakhir aku seperti ini.. dan hari dimana aku harus memulai cerita hidupku dibuku yang baru. Karena kata Selamat Tinggal telah ku ucapkan untuk seseorang di masa laluku.
Aku menghapus sisa-sisa air mata di pipiku dengan punggung tanganku. Mengubah posisiku menjadi duduk dan bersandar pada dinding kamarku. Lalu..
Sudut-sudut bibirku terangkat, berbentuk menjadi sebuah senyuman.
Aku sudah memutuskannya kali ini..
Selamat tinggal:)
by: abstrack xoxo
Untuk seseorang yang takkan pernah membaca tulisanku ini
Aku capek dengan pertengkaran kecil dan pertengkaran yang cukup besar yang selalu mengisi ketika aku bangun pagi hari hingga tidur malamku. Di mana kamu selalu ingin menjadi yang terbaik, sebagai pemenang. Kamu selalu ingin menjadi peran aktor utama. Sedangkan aku, hanya menjadi seorang pemain penghibur yang tak memiliki hak untuk melawanmu, kedudukanku disini hanya seorang yang non-aktif yang berusaha untuk mengerti semua kelakuanmu terhadapku meskipun banyak niat untuk melawanmu.
Selalu saja ada hal-hal kecil yang kamu jadikan sebagai sebuah acuan untuk memperkeruh suasana, untuk menimbulkan masalah, dan untuk membuat kita agar berdebat panjang. Kamu selalu melebih-lebihkan masalah komunikasi, masalah perhatian, dan masalah-masalah lainnya yang sepertinya itu semua menjadi besar ketika kamu yang menyebutkannya. Apakah kamu mengira bahwa aku ini hanya sebatas tempat keluh kesahmu saja? hanya kamu anggap sebagai tempat sampah? Kamu mengira aku adalah tempat untukmu meluapkan segala kekesalan dan amarahmu ketika kamu merasa dunia sedang menganiayamu? Apakah kamu tak pernah berpikir bahwa aku sama seperti dia yang butuh perhatian dan juga memiliki perasaan? Apakah kamu pernah berpikir? Memikirkan betapa sulitnya menjadi aku yang selalu kamu perlakukan seenaknya saja.
Terkadang aku merasa tak nyaman dengan segala perlakuanmu terhadap diriku. Sehari saja kamu melakukannya, aku merasa itu semua terjadi selama seminggu bahkan sebulan. Terkadang aku diam, diam melihat semua kelakuanmu yang seenaknya tanpa persetujuan dan keinginanku. Terkadang aku ingin pergi jauh dan lepas darimu, namun aku merasa penahan ini semakin kuat saja. Aku bosan untuk menjalin sebuah hubungan yang hanya berjalan ditempat tanpa ada perkembangan yang lebih lanjut, dimana hanya satu orang saja yang berkorban demi satu orang lainnya yang tidak mau mengerti akan orang tadi tersebut. Dimana hanya ada aku, aku yang sudah tak cukup kuat untuk mempertahankan dan menjaga apa yang seharusnya kutinggalkan.
Sedangkan untuk kamu! Seorang pria yang dulu pernah ada didalam hatiku, pernah menjadi tempat berlabuhnya hatiku, pernah kucintai dan kukagumi sebelum akhirnya aku bertemu dengannya yang sekarang bersamaku. Jika aku boleh jujur, aku sangat merindukan kehadiran sosok pria sepertimu. Sosok dewasa yang dulu pernah menjadi tempat diriku untuk berjuang melawan dunia yang seakan tanpa hentinya menyerangku, yang dulu pernah menopang dan menegakkan langkah kakiku yang seakan kaku pada satu titik. Aku begitu merindukanmu, merindukan sosok sederhanamu, sosok yang memiliki suara sangat lembut untuk diterima ditelingaku, sosok yang sangat terstruktur tutur kata indahnya ketika kamu berbicara denganku. Sekarang, aku merasakan rasanya sehari-hari tanpamu. Aku benar-benar sangat merasakan kehilangan sosokmu yang begitu berarti. Aku sangat takut untuk kehilangan dirimu saat aku juga merasakan kehilangan sebagian dari hidupku.
Rasanya, ingin sekali untuk kembali kemasa lalu. Kemasa, dimana aku masih tetap bisa tersenyum saat terbangun dari tidurku. Ketika kamu masih mengaggapku lebih dari sekedar teman, saat perkataanmu yang begitu jujurnya mengatakan bahwa kerinduanmu terhadapku sangat besar. Hingga kini, aku masih saja selalu memperhatikan nomor handphonemu yang masih tersimpan rapi dikontakku, aku ingin mengirimkanmu sebuah pesan singkat tapi kuurungkan kembali. Aku takut, mungkin sekarang kamu sudah terlalu sibuk dengan urusanmu hingga tak memiliki kesempatan hanya untuk sekedar menanyakan kabarku.
Saat ini, kantuk tak juga menyergap mataku, rasa kantuk ini tidak berarti sebelum aku menuliskan tulisan ini. Hingga aku bisa merasakan kembali kehadiranmu disisiku. Hingga aku bisa menikmati kembali kehadiranmu lewat kebersamaan kita. Akankah semua itu dapat terulang kembali? Aku bingung. Aku stress. Aku membutuhkan kehadiranmu sekarang. Dimanakah dirimu berada? Sejak jauh-jauh hari sebelumnya aku telah mencarimu. Hubunganku dengan dia yang saat ini menjalankan status "pasangan" sedang berada diujung tanduk! Tolonglah, selamatkan aku dari segala ketidakpastian dan omong kosong belaka ini.
Untukmu wahai seseorang yang sangat berti dan takkan pernah membaca tulisan ini
By: Unknown~
Senin, 07 Oktober 2013
Terlihat tapi takkan pernah tersentuh
Entah telah beberapa bulan berjalan ini, aku menyukai dan mengagumi lukisanmu. Sunggu, aku sangat tertarik dengan hasil karya-karya tangan lihaimu itu. Aku selalu menyukai cara kamu menuangkan imajinasi yang kamu miliki menjadi goresan-goresan sempurna yang merayuku agar terus memperhatikan lukisan sederhana itu hingga sedetai-detailnya.
Kamu tentu akrab dengan hal-hal berbau cinta, karena lukisan itu akan selalu memiliki cinta yang lebih disetiap pembuatannya. Cinta bisa datang dari mana saja, bahkan dari goresan-goresan sederhana yang terlihat bernyawa berlukiskan wajahmu. Aku... salahkan aku jika jatuh cinta kepadamu hanya karena lukisanmu. Aku ingin menjadi bagian dalam pikiranmu agar aku dapat mengetahui setiap detail-detail pemikiran yang sedang ingin kamu tuangkan dalam selembar kanvas. Aku tak pernah mengira hal ini akan terjadi, bahwa ternyata lukisanmu dapat membuatku memiliki rasa cinta terhadapmu. Bagaimana mungkin kamu sapat membuatku terlalu cepat untuk terjatuh tanpa pernah sekalipun kamu menolongku untuk bangkit?
Dalam diamku, aku membiarkan jejakmu untuk menghantui otakku. Kamu meramaikan pkiranku, menyisakan jejak-jejak kerinduan yang tetap berlarian mengitari otakku. Aku tak juga dapat menemukanmu. Kamu siapa yang berani mengacaukan dan mengganggu isi pikiran dan hatiku? Dan mencoba menguasai setiap malamku dengan lukisanmu. Kamu dapat membantuku mengendalikan perasaan ini melalui lukisanmu. Kamu merelakanku untuk selalu menebak-nebak rupamu dalam dunia nyata, bukan malah dalam sebuah karya lukisan yang mengajariku cara berkomunikasi denganmu. Aku ingin mengenalmu secara nyata, aku menginginkan suaramu terdengar oleh telinga ini, sungguh aku sangat menginginkannya.
Dalam lukisanmu ini, aku menarik kesimpulan bahwa kamu senang dengan hal-hal yang berkaitan dengan alam dan sedang menunggu seseorang. Haha, maafkan ke-sok-anku yang kuperlihatkan kepadamu. Betapa sangat beruntungnya wanita yang sedang kamu tunggu. Betapa beruntungnya wanita itu, wanita yang bisa membuatmu tersenyum dan tertawa dalam kesunyian yang menurutku kamu sangat bahagia dengan kehadirannya. Seandainya saja, wanita itu adalah diriku, aku takkan membuatmu menunggu. Aku kan membuatmu melupakan bagaimana rasanya menangis. Aku takkan membiarkanmu tertawa tanpa adanya tempat berbagi kebahagiaan. Aku tidak akan memberikanmu dambaan semu terhadap cinta yang selalu kaujaga agar tak terluka dan tak ternoda. Perhatikanlah, anak seumuran diriku yang masih kecil telah membicarakan tentang cinta! Begitu lucukan, bahkan tak masuk dinalar fikiran kita.
Aku menyadarinya. Kita bahkan tak pernah sekalipun bertemu, banyanganmu begitu beranekaragam di pikiranku yang begitu saja menyatu dalam kenyataan ini bahkan mengisi kehidupan nyataku. Ada bermacam-macam rupamu yang tergambarkan dibenakku hingga aku tak mengetahui rupamu yang sebenar-benarnya.
Memiliki rasa ini tak cukup hanya dengan menatap lukisan hasil karyamu yang terpajang di kamarku. Mencintaimu? tak akan cukup dengan menyentuh lukisanmu. Aku berharap kepadamu pria sang penikmat seni, aku mengajakmu sekarang! Masuklah dalam dunia nyataku ini, perhatikan setiap detail isi dari hatiku kini, hanya kamu yang hingga saat ini menghiasi ruang-ruang indah ini yang sebelumnya hanya wujud ruang-ruang tak berwarna dan kosong didalamnya.
By: Unknown~
Kamu tentu akrab dengan hal-hal berbau cinta, karena lukisan itu akan selalu memiliki cinta yang lebih disetiap pembuatannya. Cinta bisa datang dari mana saja, bahkan dari goresan-goresan sederhana yang terlihat bernyawa berlukiskan wajahmu. Aku... salahkan aku jika jatuh cinta kepadamu hanya karena lukisanmu. Aku ingin menjadi bagian dalam pikiranmu agar aku dapat mengetahui setiap detail-detail pemikiran yang sedang ingin kamu tuangkan dalam selembar kanvas. Aku tak pernah mengira hal ini akan terjadi, bahwa ternyata lukisanmu dapat membuatku memiliki rasa cinta terhadapmu. Bagaimana mungkin kamu sapat membuatku terlalu cepat untuk terjatuh tanpa pernah sekalipun kamu menolongku untuk bangkit?
Dalam diamku, aku membiarkan jejakmu untuk menghantui otakku. Kamu meramaikan pkiranku, menyisakan jejak-jejak kerinduan yang tetap berlarian mengitari otakku. Aku tak juga dapat menemukanmu. Kamu siapa yang berani mengacaukan dan mengganggu isi pikiran dan hatiku? Dan mencoba menguasai setiap malamku dengan lukisanmu. Kamu dapat membantuku mengendalikan perasaan ini melalui lukisanmu. Kamu merelakanku untuk selalu menebak-nebak rupamu dalam dunia nyata, bukan malah dalam sebuah karya lukisan yang mengajariku cara berkomunikasi denganmu. Aku ingin mengenalmu secara nyata, aku menginginkan suaramu terdengar oleh telinga ini, sungguh aku sangat menginginkannya.
Dalam lukisanmu ini, aku menarik kesimpulan bahwa kamu senang dengan hal-hal yang berkaitan dengan alam dan sedang menunggu seseorang. Haha, maafkan ke-sok-anku yang kuperlihatkan kepadamu. Betapa sangat beruntungnya wanita yang sedang kamu tunggu. Betapa beruntungnya wanita itu, wanita yang bisa membuatmu tersenyum dan tertawa dalam kesunyian yang menurutku kamu sangat bahagia dengan kehadirannya. Seandainya saja, wanita itu adalah diriku, aku takkan membuatmu menunggu. Aku kan membuatmu melupakan bagaimana rasanya menangis. Aku takkan membiarkanmu tertawa tanpa adanya tempat berbagi kebahagiaan. Aku tidak akan memberikanmu dambaan semu terhadap cinta yang selalu kaujaga agar tak terluka dan tak ternoda. Perhatikanlah, anak seumuran diriku yang masih kecil telah membicarakan tentang cinta! Begitu lucukan, bahkan tak masuk dinalar fikiran kita.
Aku menyadarinya. Kita bahkan tak pernah sekalipun bertemu, banyanganmu begitu beranekaragam di pikiranku yang begitu saja menyatu dalam kenyataan ini bahkan mengisi kehidupan nyataku. Ada bermacam-macam rupamu yang tergambarkan dibenakku hingga aku tak mengetahui rupamu yang sebenar-benarnya.
Memiliki rasa ini tak cukup hanya dengan menatap lukisan hasil karyamu yang terpajang di kamarku. Mencintaimu? tak akan cukup dengan menyentuh lukisanmu. Aku berharap kepadamu pria sang penikmat seni, aku mengajakmu sekarang! Masuklah dalam dunia nyataku ini, perhatikan setiap detail isi dari hatiku kini, hanya kamu yang hingga saat ini menghiasi ruang-ruang indah ini yang sebelumnya hanya wujud ruang-ruang tak berwarna dan kosong didalamnya.
By: Unknown~
Belajar tuk melepaskan
Ketika kita pertama kalinya diperkenalkan oleh teman kita, disitulah awal kita saling mengenal. Kamu memperkenalkan namamu begitu saja yang disertai uluran tangan dan suara lembut nan tegas yang kamu miliki berlalu tanpa tak pernah kuingat-ingat sekarang. Awalnya, semua berjalan begitu sederhana. Kita saling bercanda, saling tertawa, bahkan saling membicarakan hal-hal berbau manis antara kita berdua walaupun semua percakapan itu hanya kita lakukan melalui pesan singkat ataupu BBM. Perhatian yang mengalir bagai air darimu yang hanya kamu tujukan kepadaku, pembicaraan manis yang kala itu hanya kuanggap sebagai hal yang tak perlu dikagum-kagumkan.
Kehadiranmu disisiku membawa hidupku menjadi lebih berwarna. Kamu menawarkan padaku hal berbeda yang turut membuka mata dan hatiku dengan sangat lebarnya. Aku tak mengetahui bahwa kamu datang dengan membawa perasaan yang aneh. Hati ini merasa kehilangan jika kamu tak menyapaku atau mengabariku melalui pesan singkat dengan dentingan suara yang hanya ku khususkan untukmu. Setiap hati pasti ada saja hal-hal menarik yang selalu kita bicarakan, dan sampai pada akhirnya topik itu mengalir tanpa kita sadari telah menyentuh pembicaraan mengenai hal yang paling menyentuh dalam kodrat kita sebagai kaum Adam dan Hawa; cinta.
Ketika kamu membicarakan tentang mantan kekasihmu yang telah sekial lama lalu meningalkanmu begitu saja, aku bisa merasakan perasaan apa yang kamu rasakan saat menceritakan kisah itu. Aku berusaha memahami kerinduanmu akan rasa perhatian seorang wanita yang selalu berada disisimu. Sebenarnya, aku telah memberikanmu perhatian itu hanya saja kamu tak mengetahuinya. Apakah perhatian dan kepedulian yang selalu saja kuberikan kepadamu ini tak terasakan olehmu? Aku hanya akan tetap menjadi pendengar setiamu. Hanya saja hati ini selalu mempunya pertanyaan yang tak kunjung mendapatkan jawaban "seorang pria hanya menceritakan perasaannya kepada wanita yang benar-benar dekat dengannya".
Aku menaruh harapan besar kepadamu saat itu. Apakah kamu telah menganggapku sebagai wanita spesial di hatimu meskipun kamu tak kunjung memberikan penjelasan dan status yang jelas? Sesimpul senyumpun tercipta dalam diamku, berjalan begitu saja, dan tanpa kusadari ada perasaan lain yang tercipta dari kedekatan kita ini yang mungkin saja tak kuinginkan untuk hadir.
Saat kita bertemu, tak banyak kata yang terucapkan diantara kita, tak pernah ada pembicaraan yang panjang. Hanya saja ada senyum yang tercipta yang memiliki arti mendalam. Ketika melalui pesan singkat dimulai, kita berdua begitu semangat untuk tetap melanjutkan tanpa ada niat untuk mengakhiri percakapan ini, aku juga bisa merasakan semangat yang kamu miliki itu melalui tulisanmu. Sungguh, hingga saat ini aku masih tidak memercayai segalanya bisa berjalan secepat ini. Aku selalu saja meyakinkan diriku bahwa ini bukan cinta, melainkan hanya ketertarikan sesaat yang semata-mata tercipta karena aku ada sesuatu yang baru didalam dirimu yang selalu bersamaku. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa semua yang kamu lakukan, candaanmu, perhatianmu, bahkan caramu mengungkapkan segala pikiranmu hanya atas dasar hubungan pertemanan diantara kita. Benar, ini hanya sebatas teman, aku tak memiliki hak apapun untuk mengharapkan sesuatu yang lebih dari sekedar hubungan itu.
Aku tak pernah menginginkan untuk mengingat kenangan itu sendirian. Aku tak pernah ingin merasakan sakit seperti ini sendirian. Tapi nyatanya yang terjadi......
Perasaan yang kupupuk agar tidak tumbuh ini malah melakukan sebaliknya, perasaan ini tumbuh semakin cepat, bahkan tak dapat kukendalikan lagi. Siapakah yang bisa mengendalikan perasaanku ini? Apakah ada yang bisa membantuku mengendalikannya? Siapakah yang bisa menebak perasaan cinta bisa hadir pada orang yang tepat ataupun salah? Aku tak sepandai itu untuk menerka-nerka jawaban yang harus kuucapkan untuk menjawabnya. Aku hanya manusia biasa yang secara tak sengaja merasakan ada kenyamanan yang tersimpan ketika kamu hadir di dalam hidupku. Aku hanya manusia yang takut untuk merasakan kehilangan seseorang walaupun orang itu tak sepenuhnya menjadi milikku.
Apakah aku salah jika mengartikan segala tindakanmu ini sebagai wujud dari perasaan cinta? Tapi, bukankah benar jika aku mengharapkan bahwa kamu memiliki perasaan yang sama? Kamu telah menjadi alasan tawa dan senyumku saat ini. Aku percaya kamu takkan melukaiku, membuatku sedih dan kamu takkan menjadi alasan air mataku ini.Aku percaya bahwa kamulah kebahagiaan baru yang saat ini kurasakan yang akan melindungiku dari kesedihan-kesedihanku yang lalu. Aku sangat memercayaimu, bahkan sangat-sangat memercayaimu! Dan, aku mulai sadar, itulah kebodohan terbesar yang seharusnya kusesali.
Ternyata ketakutan yang selama ini menjadi pertanyaanku telah terjawab sudah, kamu menjauh dariku tanpa ada alasan yang jelas. Kamu meninggalkanku tanppa berpamitan, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku sangat tak percaya dengan keputusan yang kamu ambil tanpa menyampaikannya kepadaku, tetapi timbul pertanyaan dibenakku. Apakah aku pantas untuk marah kepadamu? Aku tak pernah menjadi siapa-siapa bagimu, aku tak pernah berarti bagimu, mungkinkah aku hanya tempat persinggahan sementara untukmu bukan untuk menjadi tujuan akhirnya? Asal kamu tahu saja, aku telah selesai merancang mimpi-mimpi yang begitu indah, yang akan kuwujudkan saat bersamamu. Mungkin saja, jika Tuhan mengizinkan kita berdua pasti akan bisa untuk saling membahagiakan, saling memiliki jika benar kita berjodoh, aku percaya Tuhan, dan aku percaya bahwa keajaiban itu selalu ada.
Aku tak memiliki hak untuk memintamu agar kembali kesisiku, juga tak memiliki wewenang untuk memintamu agar kembali pulang dan tidak untuk meninggalkanku lagi. Masih adakah yang perlu kupaksakan jika dimatamu aku tak lebih dari seorang teman? Aku tak menampik rasa kehilanganku ini. Dulu, aku telah terbiasa dengan perhatian dan candaanmu, namun semuanya telah hilang bagaikan asap rokok yang hilang oleh hembusan angin yang menerpanya.
Sesungguhnya ini telah menjadi kesalahanku, yang tetap berusaha bertahan dalam diam ini walaupun aku memiliki perasaan yang sangat dalam dan kuat. Ini memang bukan salahmu, juga bukan kesalahan orang lain. Tapi mata yang kamu miliki tak mungkin buta dan hatimu tak akan cacat untuk mengetahui bahwa aku mencintaimu.
Aku harus belajar untuk tak memperdulikamu lagi. Aku juga akan belajar untuk memaafkan dan merelakanmu pergi dari hidupku yang selama ini berwarna karena dirimu.
By: Unknown~
Minggu, 06 Oktober 2013
Pengorbanan yang lebih bernilai
Tuhan! Aku bukan seseorang yang sempurna, tapi perbolehkanlah aku untuk menjadi sesosok wanita yang kuat dalam menghadapi segala perasaan yang sedang menghantui pikiranku. Aku hanya seorang wanita yang seringkali melupakanMu dan menyakiti orang-orang yang kusayangi.
Tuhan, tahukah dirimu bahwa saat ini aku sedang memendam rasa cinta yang teramat sangat dalam kepada si pria pemilik senyum terindah? Tahukah dirimu bahwa sebenanya perasaan ini adalah perasaan yang terlarang? Semua itu benar adanya, perasaan ini terlarang! Iya bahkan sangat terlarang sebab perasaann ini juga dimiliki oleh sahabatku sendiri, yang setiap malamnya menceritakan kepadaku dengan topik yang sama, topik pembicaraan yang hanya menceritakan tentang si pria yang telah merebut hati kami berdua walaupun sahabatku tidak mengetahui kebenaran bahwa aku juga memiliki rasa yang sama seperti apa yang ia rasakan kepada si pria tersebut. Bahkan perasaan yang kurasakan ini melebihi rasa cinta dia kepadanya. Terasa sakit memang mendengar ocehan dari sahabatku sendiri yang mengeluh-eluhkan namanya disetiap waktu.
Mungkin aku harus membuat pilihan yang terbaik agar aku tak menyakiti siapapun. Aku memilih untuk menghindarimu wahai pria bersenyum manis. Aku tak bisa memiliki perasaan ini karena jika aku melakukannya, aku hanya akan menyakiti sahabat yang sangat kusayangi. Aku tak menginginkan persahabatan kami runtuh hanya karena mencintai seorang pria yang sama. Aku memilih untuk mengalah. Aku lebih memilih untuk belajar melupakan dan merelakanmu hanya untuk seseorang, yaitu sahabatku. Jalan yang memang harus kupilih agar tak ada yang tersakiti dalam cerita cinta segitiga ini.
Terkadang aku mulai berfikir jika memiliki hubungan lebih dari sekedar pertemanan. Apakah kita akan tetap bahagia jikalu saja aku tetap bertahan mencintaimu dan kita telah saling memiliki? Apakah antara aku dan sahabatku akan tetap menjalin persahabatan tanpa ada yang tersakiti atau bahkan kami sudah saling tidak mengenal satu sama lain?
Aku takut jatuh cinta kepadamu wahai kaum Adam yang telah memikat hatiku, aku takut jikalau kita telah saling memiliki dan setelah berlalu, kita memilh untuk berpisah dan saling mencari jati diri masing-masing tanpa ada kebersamaan yang kita lakukan selama beberapa bulan terakhir tersebut. Perpisahan yang menghasilkan hubungan baru yang rentan akan keruntuhan dan ketidaknyamanan bila kita sedang berada diruangan yang sama, kita akan saling enggan untuk berbicara, saling enggan untuk menyapa satu sama lain seperti dulu kala sebelum kita menjalin hubungan yang bisa dikatakan lebih dari sekedar teman. Aku tak menginginkan semua hal buruk itu terjadi sayang. Aku akan tetap memilih untuk menghindarimu, menjauhimu, bahkan mencoba untuk terus menerus berusaha tidak mengenalimu, meskipun semua itu menyisakan kepedihan yang sangat menyakitkan. Tapi aku tetap rela melakukan semua itu untuk membahagiakan sahabat terbaikku kepadamu. Aku berharap padamu wahai pria bermata indah agar menjaga sahabatku sebaik-baiknya, sebagaimana kamu menjaga barang yang paling bernilai harganya, jangan biarkan hal sekecil apapun.
Tuhan! Bantulah aku untuk menghapuskan rasa yang semestinya tak ku hadirkan dalam hatiku, meskipun banyak pendapat yang mengatakan bahwa aku sangat cocok untuk menjadi pasanganmu, kamu dan aku memilki banyak perbedaan yang menjadikan kata "kita" terlihat sempurna dimata mereka, begitu katanya.
Saat ini, aku sedang melawan perasaanku. Semakin aku mencoba maka semakin lebar pula lubang yang menganga didalam hatiku ini. Selamat tinggal wahai pria yang telah meluluhkan hatiku. Selamat tinggal juga perasaan yang tak seharusnya kumiliki. Tuhan! Dengar dan kabulkanlah permintaanku ini, aku hanya meminta agar perasaan ini dapat terhapus sepenuhnya dari dalam hatiku.
Dari seseorang yang masih mengharapkan dirinya walau itu tak mungkin
By : Unknown~
Tuhan, tahukah dirimu bahwa saat ini aku sedang memendam rasa cinta yang teramat sangat dalam kepada si pria pemilik senyum terindah? Tahukah dirimu bahwa sebenanya perasaan ini adalah perasaan yang terlarang? Semua itu benar adanya, perasaan ini terlarang! Iya bahkan sangat terlarang sebab perasaann ini juga dimiliki oleh sahabatku sendiri, yang setiap malamnya menceritakan kepadaku dengan topik yang sama, topik pembicaraan yang hanya menceritakan tentang si pria yang telah merebut hati kami berdua walaupun sahabatku tidak mengetahui kebenaran bahwa aku juga memiliki rasa yang sama seperti apa yang ia rasakan kepada si pria tersebut. Bahkan perasaan yang kurasakan ini melebihi rasa cinta dia kepadanya. Terasa sakit memang mendengar ocehan dari sahabatku sendiri yang mengeluh-eluhkan namanya disetiap waktu.
Mungkin aku harus membuat pilihan yang terbaik agar aku tak menyakiti siapapun. Aku memilih untuk menghindarimu wahai pria bersenyum manis. Aku tak bisa memiliki perasaan ini karena jika aku melakukannya, aku hanya akan menyakiti sahabat yang sangat kusayangi. Aku tak menginginkan persahabatan kami runtuh hanya karena mencintai seorang pria yang sama. Aku memilih untuk mengalah. Aku lebih memilih untuk belajar melupakan dan merelakanmu hanya untuk seseorang, yaitu sahabatku. Jalan yang memang harus kupilih agar tak ada yang tersakiti dalam cerita cinta segitiga ini.
Terkadang aku mulai berfikir jika memiliki hubungan lebih dari sekedar pertemanan. Apakah kita akan tetap bahagia jikalu saja aku tetap bertahan mencintaimu dan kita telah saling memiliki? Apakah antara aku dan sahabatku akan tetap menjalin persahabatan tanpa ada yang tersakiti atau bahkan kami sudah saling tidak mengenal satu sama lain?
Aku takut jatuh cinta kepadamu wahai kaum Adam yang telah memikat hatiku, aku takut jikalau kita telah saling memiliki dan setelah berlalu, kita memilh untuk berpisah dan saling mencari jati diri masing-masing tanpa ada kebersamaan yang kita lakukan selama beberapa bulan terakhir tersebut. Perpisahan yang menghasilkan hubungan baru yang rentan akan keruntuhan dan ketidaknyamanan bila kita sedang berada diruangan yang sama, kita akan saling enggan untuk berbicara, saling enggan untuk menyapa satu sama lain seperti dulu kala sebelum kita menjalin hubungan yang bisa dikatakan lebih dari sekedar teman. Aku tak menginginkan semua hal buruk itu terjadi sayang. Aku akan tetap memilih untuk menghindarimu, menjauhimu, bahkan mencoba untuk terus menerus berusaha tidak mengenalimu, meskipun semua itu menyisakan kepedihan yang sangat menyakitkan. Tapi aku tetap rela melakukan semua itu untuk membahagiakan sahabat terbaikku kepadamu. Aku berharap padamu wahai pria bermata indah agar menjaga sahabatku sebaik-baiknya, sebagaimana kamu menjaga barang yang paling bernilai harganya, jangan biarkan hal sekecil apapun.
Tuhan! Bantulah aku untuk menghapuskan rasa yang semestinya tak ku hadirkan dalam hatiku, meskipun banyak pendapat yang mengatakan bahwa aku sangat cocok untuk menjadi pasanganmu, kamu dan aku memilki banyak perbedaan yang menjadikan kata "kita" terlihat sempurna dimata mereka, begitu katanya.
Saat ini, aku sedang melawan perasaanku. Semakin aku mencoba maka semakin lebar pula lubang yang menganga didalam hatiku ini. Selamat tinggal wahai pria yang telah meluluhkan hatiku. Selamat tinggal juga perasaan yang tak seharusnya kumiliki. Tuhan! Dengar dan kabulkanlah permintaanku ini, aku hanya meminta agar perasaan ini dapat terhapus sepenuhnya dari dalam hatiku.
Dari seseorang yang masih mengharapkan dirinya walau itu tak mungkin
By : Unknown~
Sabtu, 05 Oktober 2013
Yang kau abaikan adalah Perjuanganku
Setiap manusia memiliki kisahnya masing-masing. Didalam kisahnya tersebut, ia harus berjuang, berdiam diri, bahkan menunggupun menjadi bagian dari perjuangan kisah ini. Menunggu. Itulah yang selama ini kulakukan, sabagai bukti nyata dari perasaan yang kurasakan yang entah mengapa masih tetap ingin memperjuangkanmu.
Aku tahu, setiap malamku selalu ku isi dengan kenangan dan ingatan. Kenyataan yang harus kuterima bahwa kau tak pernah ada disampingku, entah itu untuk menenangkan kesedihanku dan menjaga bahkan merangkulku disaat kesepianku. Dengan sikapmu yang tidak pernah peka seperti ini, mengapa aku masih saja memperjuangkanmu dan bertahan disini? Aku tak tahu, jadi tolong untuk tidak memberikanku pertanyaan mengapa aku juga bisa mencintaimu dengan cinta yang sebenarnya tak benar-benar kupahami artinya.
Ketika percakapan kita dimulai, ketika suaramu terdengar diujung telepon, ada perasaan rindu yang teramat dalam yang tidak benar-benar aku ungkapkan. Rindu yang tetap saja kudiamkan dilubuk hati ini, terlalu sibuk dalam penantian dan perjuangan hingga hanya berakhir dengan air mata. Apakah dirimu mengetahui hal ini sepenuhnya? Tentu saja tidak, dirimu tak pernah memerdulikanku sedalam aku memerdulikanmu. Tak ada perasaan cinta di matamu, sedalam cinta yang kumiliki. Tetapi, dengan kebisuan dan kebutaan yang kumiliki, aku masih tetap memperjuangkan "kita" yang sebenarnya tak benar-benar memiliki dan hanya membuatkan sakit bagi diriku sendiri.
Kecemasanku, yang tak pernah kuceritakan kepadamu, tentu juga tak pernah terpikirkan olehmu. Doaku yang selalu tersebutkan namamu tentu tak seperti doa yang selalu kamu ucapkan. Perbedaan diantara kita ini yang membuatku sungguh tak mengerti apapun. Kecemasanku membisukan segalanya. Apakah kamu pantas untuk kuperjuangkan sejauh ini? Akankah hubungan dan kebersamaan kita ini punya akhir yang bahagia seperti cerita dongeng yang begitu indah?
Aku takut.. aku takut dengan berbagai hal yang secara diam-diam menusuk kita dari belakang. Kebersamaan kita, yang memang tak berjalan dengan begitu mudahnya ini bahkan telah membuatku cukup lelah. Aku merasa ingin berhenti memperjuangkan dirimu. Aku lelah dihantui oleh bayanganmu yang menodai pencarianku selama ini. Aku hanya menginginkan matahari yang menerangiku, bukan mendung yang hanya membuat kegelapan dalam hidupku seperti ini.
Dimana dirimu ketika aku menginginkan dan membutuhkanmu disini? Kemana kaburnya kamu ketika aku berjuang untuk satu-satunya anak Adam yang kupikir dapat memberiku kebahagiaan yang nyata? Selalu kumaafkan ketidakhadiranmu, selalu kumaklumi kesalahanmu, dan selalu saja kuberikan senyuman terbaikku kepadamu ketika sesungguhnya saat itu aku ingin menangis.
Semua ini adalah perjuanganku untuk mempertahankanmu, apakah segala yang kulakukan ini telah menghilangkan sedikit saja ketidakpekaanmu? Inilah perjuanganku, segalanya kupertahankan walaupun selama ini selalu kau abaikan. Apakah hatimu tersentuh sedikit saja, hingga dirimu ingin datang dan membawaku pergi dari keterpurukan ini?
"Its hard being left behind. (....) It's hard to be one who stays." - Audrey Niffenegger
By: Unknown~
"Its hard being left behind. (....) It's hard to be one who stays." - Audrey Niffenegger
"Tak ada yang tahu perasaan apa yang disimpan di dalam hati seseorang, mungkin itu sebabnya kita sering menebak dan berharap" - Robin Wijaya
By: Unknown~
Mereka yang berjuang...
Sesuatu yang dipersatukan Tuhan pasti tak dapat dipisahkan oleh manusia. Seringkali kita semua menyebutnya dengan jodoh. Ketika kita melakukan apapun, kita akan berada di jalan yang sama. Ketika kita mecoba untuk pergi, jodoh akan menuntun kita untuk kembali ke jalan yang sama. Semua berputar pada jalan yang telaj ditakdirkan, disinilah konsep jodoh menjadi semakin tereksplorasikan. Banyak yang berkata, jika jodoh berarti memiliki banyak kesamaan. Banyak yang bilang, jodoh erat kaitannya dengan hilangnya perbedaan. Dan katanya lagi, jodoh adalah persoalan saling memiliki satu sama lain. Jadi jika itulah yang dinamakan jodoh, bagaimana dengan mereka yang jelas-jelas memiliki banyak perbedaan?
Ketika seseorang jatuh cinta maka menimbulkan banyak rasa juga tanya. Ada yang bertemu, begitu mudah jatuh cinta, lalu kemudian saling memiliki. Ada yang tidak sengaja bertemu, menjalin sebuah persahabatan, lalu saling memiliki rasa saling mencinta. Bahkan ada lagi yang tak pernah merencanakan apapun, tiba-tiba memiliki rasa jatuh cinta namun tak terwujud karena memiliki perbedaan seperti perbedaan agama.
Apakah kita perna melirik sejenak pada kaum Adam dan Hawa yang jatuh cinta walau memiliki perbedaan? Seberapa besarkah perjuangan yang mereka lakukan hanya untuk merasakan jatuh cinta layaknya pasangan-pasangan normal lainnya? Mereka biasanya terpojokkan oleh perbedaan yang orang-orang katakan sangat sulit untuk disatukan, norma Agama... sesuatu yang telah menjadi tumpuan dan tak bisa lagi untuk ditawar. Mereka berbeda dan akan tetap berbeda tapi masih tetap pula untuk memperjuangkannya, mereka terus-menerus menemukan banyak luka tetapi sebisa mungkin berusaha untuk tak terlihat kesakitan di depan publik.
Ketika pasangan yang lain sibuk untuk bermesraan tanpa pernah mengerti arti cinta yang sesungguhnya, mereka hanya sibuk mengeja dan menghapalkan doa yang sama meskipun diucapkan dengan bahasa yang berbeda. Didalam setiap sujud, dalam setiap lipatan tangan, dalam setiap sentuhan Al-Qur'an, dan dalam setiap sentuhan Alkitab mereka saling mendoakan agar tetap dipersatukan, meskipun mereka tahu segalanya tak memungkinkan untuk terjadi.
Segalanya dilalui dengan cara yang berbeda, apakah yang sebenarnya terjadi diantara mereka? apakah salah mereka? Hingga dunia memperhatikan dan menatap mereka layaknya penjahat yang telah melakukan kesalahan yang sangat besar dan tak berhak untuk membela diri mereka. Apa salah mereka, jika mereka tetap sama-sama mengenal Tuhan meskipun memanggil-Nya dengan nama yang berbeda?
Jika Tuhan menginginkan sebuah kesatuan yang utuh, mengapa Tuhan menciptakan perbedaan diantara seluruh kaum di muka bumi ini? Apa artinya cinta dan Bhineka Tunggal Ika yang menjadi semboyan bangsa ini jika semua itu hanya abadi dalam ucapan bibir saja? Kami tak bisa menerka-nerka apa yang ada diluar nalar pikiran kami Tuhan.
By: Unknown~
Ketika seseorang jatuh cinta maka menimbulkan banyak rasa juga tanya. Ada yang bertemu, begitu mudah jatuh cinta, lalu kemudian saling memiliki. Ada yang tidak sengaja bertemu, menjalin sebuah persahabatan, lalu saling memiliki rasa saling mencinta. Bahkan ada lagi yang tak pernah merencanakan apapun, tiba-tiba memiliki rasa jatuh cinta namun tak terwujud karena memiliki perbedaan seperti perbedaan agama.
Apakah kita perna melirik sejenak pada kaum Adam dan Hawa yang jatuh cinta walau memiliki perbedaan? Seberapa besarkah perjuangan yang mereka lakukan hanya untuk merasakan jatuh cinta layaknya pasangan-pasangan normal lainnya? Mereka biasanya terpojokkan oleh perbedaan yang orang-orang katakan sangat sulit untuk disatukan, norma Agama... sesuatu yang telah menjadi tumpuan dan tak bisa lagi untuk ditawar. Mereka berbeda dan akan tetap berbeda tapi masih tetap pula untuk memperjuangkannya, mereka terus-menerus menemukan banyak luka tetapi sebisa mungkin berusaha untuk tak terlihat kesakitan di depan publik.
Ketika pasangan yang lain sibuk untuk bermesraan tanpa pernah mengerti arti cinta yang sesungguhnya, mereka hanya sibuk mengeja dan menghapalkan doa yang sama meskipun diucapkan dengan bahasa yang berbeda. Didalam setiap sujud, dalam setiap lipatan tangan, dalam setiap sentuhan Al-Qur'an, dan dalam setiap sentuhan Alkitab mereka saling mendoakan agar tetap dipersatukan, meskipun mereka tahu segalanya tak memungkinkan untuk terjadi.
Segalanya dilalui dengan cara yang berbeda, apakah yang sebenarnya terjadi diantara mereka? apakah salah mereka? Hingga dunia memperhatikan dan menatap mereka layaknya penjahat yang telah melakukan kesalahan yang sangat besar dan tak berhak untuk membela diri mereka. Apa salah mereka, jika mereka tetap sama-sama mengenal Tuhan meskipun memanggil-Nya dengan nama yang berbeda?
Jika Tuhan menginginkan sebuah kesatuan yang utuh, mengapa Tuhan menciptakan perbedaan diantara seluruh kaum di muka bumi ini? Apa artinya cinta dan Bhineka Tunggal Ika yang menjadi semboyan bangsa ini jika semua itu hanya abadi dalam ucapan bibir saja? Kami tak bisa menerka-nerka apa yang ada diluar nalar pikiran kami Tuhan.
By: Unknown~
Langganan:
Komentar (Atom)