Aku berjalan menyusuri perumahan yang baru beberapa bulan
ini aku tinggali. Untuk pertama kalinya aku keluar rumah untuk berjalan-jalan
melihat sekitar setelah akhir-akhir ini hanya duduk dikamar berhadapan dengan
laptop untuk menyelesaikan skripsi yang masih rampung 50%. Aku melakukan ini
karena terpaksa. Pertama, aku sedang mengalihkan pikiranku setelah baru saja
bertengkar dengan kekasih tercinta. Kedua, aku sedang malas bertemu Ibu tiriku
yang menyebalkan. Ketiga, aku sedang marah pada kehidupanku yang penuh dengan
masalah. Kekanak-kanakan? Yah, kadang-kadang kau harus kabur dari beberapa
masalahmu, bukan?
Kuperhatikan rumah-rumah tetanggaku yang cukup mewah dengan
berlantai dua bergaya minimalis. Di depan beberapa rumah ada anak-anak SD dalam
bentuk kelompok sedang bermain dan ada juga yang hanya sedang membahas tentang
guru-guru disekolah mereka yang mengundang tawa. Ahh, kadang-kadang aku
merindukan masa-masa menjadi anak kecil. Ketika kita hanya mengenal kata
bersenang-senang tanpa perlu begitu khawatir dengan nilai sekolah. Sepasang
kaki-ku membawa diriku pada sebuah taman perumahan yang cukup ramai oleh
anak-anak sore ini. Tanpa melupakan sepasang kekasih bertetangga—yang
masih remaja, of course— terlihat dimabuk cinta. Aku
tertawa dalam hati, sepasang kekasih bertetangga? C’mon. Sounds so dandutan.
Aku menghentikan langkahku tidak jauh dari kerumunan remaja SMA—kalau
aku tidak salah tebak dari postur tubuh mereka. Aku sebut kerumunan karena mereka
memang sedang membuat lingkaran yang hanya fokus pada satu pusat ditengah-tengah
mereka. Aku sedikit mendekat karena penasaran apa yang menjadi pusat fokus
mereka. Ah, ternyata ada satu gadis remaja bersyal yang berusaha menutupi
wajahnya. Beberapa dari remaja yang mengurubungi gadis bersyal tersebut
mengatakan ‘’Buruk rupa’’ sambil tertawa-tawa tidak jelas. Eh? Ini tindakan bully ya? Aku melongo untuk beberapa
saat. Aku tahu bahwa bully hal yang
tabu tetapi yang aku tahu tindakan itu hanya berlaku disekolah tidak
diperumahan yang dapat ku kategorikan sebagai perumahan elit seperti ini. Apa
aku saja yang tidak tahu trend baru bully? (Lupakanlah). Salah satu dari
kerumunan mencoba menarik-narik syal yang menutupi sebagian wajah gadis bersyal
tersebut. Ckckck... aku berdecak. Mereka sudah cukup dewasa untuk melakukan
aksi bully seperti ini. Yang lebih
memperhatinkan tidak ada yang peduli dengan kejadian ini seakan apa yang
sekarang kuliat adalah hal yang biasa. Aku tidak heran banyak generasi-generasi
muda Indonesia yang tidak memiliki moral dan semakin tidak peduli satu sama
lain :)
Bukan bermaksud menjadi seseorang yang paling benar. Tidak kok.
Bahkan aku tidak tahu harus melakukan apa untuk menyelematkan gadis bersyal
yang terlihat tetap berusaha mempertahankan syalnya dari gadis yang berusaha
merebutnya. Untuk membela diri, aku hanya tidak mau menjadi orang baru yang
ikut campur urusan orang lain dan untuk beberapa orang yang disekitar taman
ini—yang juga sudah lama tinggal disini— seharusnya mereka mempunyai tindakan
(Aku memang pintar ngeles) untuk membantu gadis bersyal itu dong.
‘’Hentikan!’’
JRENGG...JRENGG...JRENGG
Tiba-tiba saja seorang cowok remaja datang entah darimana(?) menerobos
kerumunan gadis-gadis remaja tersebut. Kuperhatikan wajah gadis-gadis remaja
itu yang terkejut dan ketakutan, mungkin? Entahlah. Aku tidak begitu pandai
mengenali ekspresi wajah seseorang tapi yang kutangkap seperti itulah. Cowok
remaja itu memandangi tajam seakan menelanjangi para gadis-gadis remaja tukang bully itu.
‘’Ikut aku’’kata cowok remaja pada gadis bersyal. Gadis bersyal
tidak juga beraksi ketika si cowok telah melangkah. Si cowok terlihat
mendengus, ia kembali pada gadis bersyal dan merangkulnya. Uhuuuu, aku bagaikan
sedang menonton potongan sinetron romantis yang selalu ada di TV. Tau, kan?
Adegan ketika pemeran protagonis mulai terdesak dan *simsalabim* muncul-lah
penolong seorang cowok tampan dengan mata setajam elang. Asikk! Aku seperti
harus menarik perkataanku tentang generasi muda Indonesia yang tidak memiliki
moral dan tidak peduli satu sama lain karena sepertinya si cowok ini generasi
muda Indonesia yang akan membanggakan tanah airnya :) (Hehehe...)
Si cowok dan si gadis bersyal meninggalkan kerumunan lalu
berjalan disudut yang paling sepi dibagian taman tersebut. Loh? Ngomong-ngomong
aku ini mengikuti mereka loh. Aku tidak bisa menyalahkan rasa ingin tahuku yang
sudah melekat sejak aku baru lahir di dunia ini dan menghirup udara segar yang
dinamakan kehidupan (Alah, bahasanya!). Oke, lebih baik kita fokus pada si
cowok dan si gadis bersyal yang sekarang duduk berdampingan di bangku taman.
‘’Kenapa kamu membiarkan mereka mengolok-olok mu?’’tanya si
cowok pada gadis bersyal yang terus menunduk disampingnya. Aku semakin
penasaran, kenapa gadis bersyal itu sangat malu memperlihatkan wajanya pada
orang-orang?
‘’...’’
Tidak ada jawaban dari gadis bersyal. Si cowok terlihat
berusaha menahan sabar.
‘’Kenapa kau menutupi wajahnmu?’’si cowok pantang menyerah
sepertinya.
‘’...’’
Lagi-lagi tidak ada jawaban. Aku memutar bola mataku, jadi
aku yang tidak sabaran. Penasaran euyy.
‘’Lepaskan syalmu!’’
Itu perintah, bukan lagi pertanyaan. Kulihat si gadis
bersyal menggelengkan kepalanya. Si cowok dengan cepat menarik syal yang
menutupi wajah si gadis kemudian saat itu juga si gadis semakin menundukkan
kepalanya dalam-dalam.
‘’Angkat kepalamu!’’
Sekali lagi, si cowok memerintah. Aku jengah mendengar nada bossy itu. Kemudian...
JRENGG...JRENGG...JRENGG... (Again!)
Si gadis memenuhi perintah si cowok dengan mengangkat
kepalanya. Aku melongo untuk kedua kalinya dan aku bisa melihat si cowok tampak
terkejut. Namun si cowok lebih bisa menguasai dirinya dengan mencoba kembali
mengekspresikan wajah datar sementara aku yang menonton mereka berusaha keras
untuk kembali menutup mulutku yang menganga selebar-lebarnya sebelum ada lalat
yang mampir. Sekarang aku mengerti mengapa tadi ada gadis yang mengatakan
‘’Buruk rupa’’ pada gadis bersyal itu. Bukan bermaksud ikut mengolok-olok
tetapi gadis itu memiliki bekas luka dibagian dagu dan pipi kanan yang (ehmm,
maaf) cukup mengerikan bagiku. Kutebak itu bukan luka bakar, menurutku penyebab
luka itu...bagaimana menjelaskannya ya... hmm.. seperti wajahnya baru saja
diparuk di aspal. Nah, berarti itu bekas kecelakaan! Kembali aku memperhatikan
keduanya.
Si gadis tersenyum getir, ‘’Jelek, ya?’’
‘’Itu..kenapa?’’tanya si cowok tidak memperdulikan
pertanyaan si gadis sebelumnya.
‘’Aku...aku tertabrak ketika menolong adik-ku. Jelek,
ya?’’si gadis kembali menanyakan hal yang sama. Si cowok kali ini tersenyum.
Tersenyum dengan penuh makna.
Si cowok menggeleng, ‘’Tidak, wajahmu cantik karena wajah
itu penolong’’
DUAAAAARRRRR..... (Asli, bosan pake
Jrengg...jrengg...jrengg)
Aku bagaikan tertampar, menyadari banyak hal dalam beberapa
detik setelah ucapan si cowok. Ahh, Pernahkah aku tidak menilai seseorang dari
luarnya? Tidak mungkin. Bahkan dari luarlah semuanya berawal sebelum kita ingin
menilai seseorang dari dalam maka itulah alasan mengapa aku tidak menyukai Ibu
tiriku yang berpenampilan ‘’waw’’. Pernahkah aku mencoba memahami alasan
seseorang ketika berbuat salah padaku dan aku begitu kalap sampai tidak mau
mendengarnya? Tidak pernah. Aku bahkan selalu emosi maka dari itu aku suka
sekali bertengkar dengan sang kekasih. Lalu kenapa aku harus marah pada
kehidupanku yang dinilai dari sudut pandang manapun aku masih lebih beruntung
dari gadis bersyal tersebut? Aku tidak pernah di bully dan wajahku baik-baik saja. Aku harus berhenti bersikap bitchy hanya karena masalah sepela dan
berhenti mendramatisir hidup sendiri bagaikan hanya satu-satunya manusia dimuka
bumi ini yang punya masalah. Aku sadar bahwa diluar sana masih banyak orang
yang lebih memiliki masalah lebih serius. Aduhhh, si cowok ini kalau saja
seumuran ku sudah aku pacari yaa (Otaknya tetap tidak benar :( hehe). Aku menyadari
seharusnya aku mulai berhenti menilai sesuatu dari luarnya saja dan aku harus
berhenti tidak mendengarkan alasan-alasan dahulu sebelum menilai atau marah
pada seseorang. Aku ini sudah kuliah tetapi otak masih seperti anak kecil. Aku
tersenyum kemudian mulai melangkah pulang kerumah. Aku sekarang siap untuk
menyelesaikan masalahku satu per satu, tidak lupa berucap syukur dalam hati aku
disadarkan dengan cara luar biasa oleh Tuhan.
p.s : maaf tulisan berantakan.
-Abstrack-