Kamis, 26 Juni 2014

Berbeda...



Aku berjalan menyusuri perumahan yang baru beberapa bulan ini aku tinggali. Untuk pertama kalinya aku keluar rumah untuk berjalan-jalan melihat sekitar setelah akhir-akhir ini hanya duduk dikamar berhadapan dengan laptop untuk menyelesaikan skripsi yang masih rampung 50%. Aku melakukan ini karena terpaksa. Pertama, aku sedang mengalihkan pikiranku setelah baru saja bertengkar dengan kekasih tercinta. Kedua, aku sedang malas bertemu Ibu tiriku yang menyebalkan. Ketiga, aku sedang marah pada kehidupanku yang penuh dengan masalah. Kekanak-kanakan? Yah, kadang-kadang kau harus kabur dari beberapa masalahmu, bukan? 

Kuperhatikan rumah-rumah tetanggaku yang cukup mewah dengan berlantai dua bergaya minimalis. Di depan beberapa rumah ada anak-anak SD dalam bentuk kelompok sedang bermain dan ada juga yang hanya sedang membahas tentang guru-guru disekolah mereka yang mengundang tawa. Ahh, kadang-kadang aku merindukan masa-masa menjadi anak kecil. Ketika kita hanya mengenal kata bersenang-senang tanpa perlu begitu khawatir dengan nilai sekolah. Sepasang kaki-ku membawa diriku pada sebuah taman perumahan yang cukup ramai oleh anak-anak sore ini. Tanpa melupakan sepasang kekasih bertetanggayang masih remaja, of course terlihat dimabuk cinta. Aku tertawa dalam hati, sepasang kekasih bertetangga? C’mon. Sounds so dandutan. Aku menghentikan langkahku tidak jauh dari kerumunan remaja SMAkalau aku tidak salah tebak dari postur tubuh mereka. Aku sebut kerumunan karena mereka memang sedang membuat lingkaran yang hanya fokus pada satu pusat ditengah-tengah mereka. Aku sedikit mendekat karena penasaran apa yang menjadi pusat fokus mereka. Ah, ternyata ada satu gadis remaja bersyal yang berusaha menutupi wajahnya. Beberapa dari remaja yang mengurubungi gadis bersyal tersebut mengatakan ‘’Buruk rupa’’ sambil tertawa-tawa tidak jelas. Eh? Ini tindakan bully ya? Aku melongo untuk beberapa saat. Aku tahu bahwa bully hal yang tabu tetapi yang aku tahu tindakan itu hanya berlaku disekolah tidak diperumahan yang dapat ku kategorikan sebagai perumahan elit seperti ini. Apa aku saja yang tidak tahu trend baru bully? (Lupakanlah). Salah satu dari kerumunan mencoba menarik-narik syal yang menutupi sebagian wajah gadis bersyal tersebut. Ckckck... aku berdecak. Mereka sudah cukup dewasa untuk melakukan aksi bully seperti ini. Yang lebih memperhatinkan tidak ada yang peduli dengan kejadian ini seakan apa yang sekarang kuliat adalah hal yang biasa. Aku tidak heran banyak generasi-generasi muda Indonesia yang tidak memiliki moral dan semakin tidak peduli satu sama lain :)
 
Bukan bermaksud menjadi seseorang yang paling benar. Tidak kok. Bahkan aku tidak tahu harus melakukan apa untuk menyelematkan gadis bersyal yang terlihat tetap berusaha mempertahankan syalnya dari gadis yang berusaha merebutnya. Untuk membela diri, aku hanya tidak mau menjadi orang baru yang ikut campur urusan orang lain dan untuk beberapa orang yang disekitar taman ini—yang juga sudah lama tinggal disini— seharusnya mereka mempunyai tindakan (Aku memang pintar ngeles) untuk membantu gadis bersyal itu dong. 

‘’Hentikan!’’

JRENGG...JRENGG...JRENGG

Tiba-tiba saja seorang cowok remaja datang entah darimana(?) menerobos kerumunan gadis-gadis remaja tersebut. Kuperhatikan wajah gadis-gadis remaja itu yang terkejut dan ketakutan, mungkin? Entahlah. Aku tidak begitu pandai mengenali ekspresi wajah seseorang tapi yang kutangkap seperti itulah. Cowok remaja itu memandangi tajam seakan menelanjangi para gadis-gadis remaja tukang bully itu.

‘’Ikut aku’’kata cowok remaja pada gadis bersyal. Gadis bersyal tidak juga beraksi ketika si cowok telah melangkah. Si cowok terlihat mendengus, ia kembali pada gadis bersyal dan merangkulnya. Uhuuuu, aku bagaikan sedang menonton potongan sinetron romantis yang selalu ada di TV. Tau, kan? Adegan ketika pemeran protagonis mulai terdesak dan *simsalabim* muncul-lah penolong seorang cowok tampan dengan mata setajam elang. Asikk! Aku seperti harus menarik perkataanku tentang generasi muda Indonesia yang tidak memiliki moral dan tidak peduli satu sama lain karena sepertinya si cowok ini generasi muda Indonesia yang akan membanggakan tanah airnya :) (Hehehe...)

Si cowok dan si gadis bersyal meninggalkan kerumunan lalu berjalan disudut yang paling sepi dibagian taman tersebut. Loh? Ngomong-ngomong aku ini mengikuti mereka loh. Aku tidak bisa menyalahkan rasa ingin tahuku yang sudah melekat sejak aku baru lahir di dunia ini dan menghirup udara segar yang dinamakan kehidupan (Alah, bahasanya!). Oke, lebih baik kita fokus pada si cowok dan si gadis bersyal yang sekarang duduk berdampingan di bangku taman.

‘’Kenapa kamu membiarkan mereka mengolok-olok mu?’’tanya si cowok pada gadis bersyal yang terus menunduk disampingnya. Aku semakin penasaran, kenapa gadis bersyal itu sangat malu memperlihatkan wajanya pada orang-orang?

‘’...’’

Tidak ada jawaban dari gadis bersyal. Si cowok terlihat berusaha menahan sabar.

‘’Kenapa kau menutupi wajahnmu?’’si cowok pantang menyerah sepertinya.

‘’...’’

Lagi-lagi tidak ada jawaban. Aku memutar bola mataku, jadi aku yang tidak sabaran. Penasaran euyy.
‘’Lepaskan syalmu!’’
Itu perintah, bukan lagi pertanyaan. Kulihat si gadis bersyal menggelengkan kepalanya. Si cowok dengan cepat menarik syal yang menutupi wajah si gadis kemudian saat itu juga si gadis semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam.

‘’Angkat kepalamu!’’
Sekali lagi, si cowok memerintah. Aku jengah mendengar nada bossy itu. Kemudian...

JRENGG...JRENGG...JRENGG... (Again!)

Si gadis memenuhi perintah si cowok dengan mengangkat kepalanya. Aku melongo untuk kedua kalinya dan aku bisa melihat si cowok tampak terkejut. Namun si cowok lebih bisa menguasai dirinya dengan mencoba kembali mengekspresikan wajah datar sementara aku yang menonton mereka berusaha keras untuk kembali menutup mulutku yang menganga selebar-lebarnya sebelum ada lalat yang mampir. Sekarang aku mengerti mengapa tadi ada gadis yang mengatakan ‘’Buruk rupa’’ pada gadis bersyal itu. Bukan bermaksud ikut mengolok-olok tetapi gadis itu memiliki bekas luka dibagian dagu dan pipi kanan yang (ehmm, maaf) cukup mengerikan bagiku. Kutebak itu bukan luka bakar, menurutku penyebab luka itu...bagaimana menjelaskannya ya... hmm.. seperti wajahnya baru saja diparuk di aspal. Nah, berarti itu bekas kecelakaan! Kembali aku memperhatikan keduanya.
Si gadis tersenyum getir, ‘’Jelek, ya?’’
‘’Itu..kenapa?’’tanya si cowok tidak memperdulikan pertanyaan si gadis sebelumnya.
‘’Aku...aku tertabrak ketika menolong adik-ku. Jelek, ya?’’si gadis kembali menanyakan hal yang sama. Si cowok kali ini tersenyum. Tersenyum dengan penuh makna.
Si cowok menggeleng, ‘’Tidak, wajahmu cantik karena wajah itu penolong’’

DUAAAAARRRRR..... (Asli, bosan pake Jrengg...jrengg...jrengg)

Aku bagaikan tertampar, menyadari banyak hal dalam beberapa detik setelah ucapan si cowok. Ahh, Pernahkah aku tidak menilai seseorang dari luarnya? Tidak mungkin. Bahkan dari luarlah semuanya berawal sebelum kita ingin menilai seseorang dari dalam maka itulah alasan mengapa aku tidak menyukai Ibu tiriku yang berpenampilan ‘’waw’’. Pernahkah aku mencoba memahami alasan seseorang ketika berbuat salah padaku dan aku begitu kalap sampai tidak mau mendengarnya? Tidak pernah. Aku bahkan selalu emosi maka dari itu aku suka sekali bertengkar dengan sang kekasih. Lalu kenapa aku harus marah pada kehidupanku yang dinilai dari sudut pandang manapun aku masih lebih beruntung dari gadis bersyal tersebut? Aku tidak pernah di bully dan wajahku baik-baik saja. Aku harus berhenti bersikap bitchy hanya karena masalah sepela dan berhenti mendramatisir hidup sendiri bagaikan hanya satu-satunya manusia dimuka bumi ini yang punya masalah. Aku sadar bahwa diluar sana masih banyak orang yang lebih memiliki masalah lebih serius. Aduhhh, si cowok ini kalau saja seumuran ku sudah aku pacari yaa (Otaknya tetap tidak benar :( hehe). Aku menyadari seharusnya aku mulai berhenti menilai sesuatu dari luarnya saja dan aku harus berhenti tidak mendengarkan alasan-alasan dahulu sebelum menilai atau marah pada seseorang. Aku ini sudah kuliah tetapi otak masih seperti anak kecil. Aku tersenyum kemudian mulai melangkah pulang kerumah. Aku sekarang siap untuk menyelesaikan masalahku satu per satu, tidak lupa berucap syukur dalam hati aku disadarkan dengan cara luar biasa oleh Tuhan.  



p.s : maaf tulisan berantakan.


-Abstrack-

Sabtu, 21 Juni 2014

Berdamai...



Kubiarkan air mata ku mengalir. Kubiarkan orang-orang melihat kelemahanku. Kubiarkan aku terlihat begitu terpuruk. Kubiarkan aku terlihat begitu rapuh. Kubiarkan mereka mendengarkan ceritaku. Kubiarkan aku mengumbar semuanya. Lalu aku membiarkan bibir mereka menilaiku. Baik dan burukku. Itulah hak mereka. Hak semua orang untuk saling menilai. Aku tidak marah, tidak pula tersinggung. Karena yang aku tahu, mereka menilai sesuatu yang sesungguhnya bukan diriku. Mereka mendengarkan ceritaku yang sesungguhnya hanya aku ceritakan bagian paling luar. Mereka belum mengetahui apapun tentangku. Maka tidak apa-apa jika mereka menilaiku. Menilai yang bukan diriku. Aku tidak akan membiarkan mereka mendengarkan ceritaku sampai ke bagian yang terdalam. Aku sudah membiarkan diriku begitu lemah dihadapan banyak orang. Aku tidak ingin membuat diriku tampak lebih lemah lagi. Mereka tidak tahu apa-apa. Jadi yang kulakukan jika tak sengaja dan mendapatkan firasat bahwa mereka telah menilai. Aku hanya diam. Berpura-pura tidak mengetahui apa-apa. 

Sungguh, ingin sekali aku menceritakan semuanya pada seseorang. Ingin kubiarkan seseorang mengertiku pada tahap yang benar-benar mengerti. Bukan hanya dengan ucapan, ‘’Iya, aku mengerti’’ sambil lalu. Aku ingin, ‘’Iya, aku mengerti’’ dari hati. Lalu.. pada hari itu, aku merasa bahwa aku benar-benar perlu menceritakan yang sebenar-benarnya pada seseorang. Aku sudah tidak bisa menampung semuanya sendiri. Aku ingin sekali berbagi. Aku kebingungan. Tidak mengetahui harus menghubungi siapa. Berbagai nama berputar-putar dikepalaku. Ku hapus dengan cepat air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Ku tarik nafas secara perlahan untuk menenangkan diriku. Kemudian hatiku membisikan satu nama dengan lirih. Aku mengangguk, baiklah, mungkin memang aku harus menceritakan padanya. Aku mencoba menghubungi satu nama tersebut. Tidak ada balasan sama sekali. Sekali lagi air mataku tidak ingin berhenti mengalir. Aku hanya punya dia...selain mereka. Beberapa hari yang lalu aku memohon seseorang untuk kembali lalu aku sudah berniat untuk melanggar prinsipku dengan ingin menceritakan semuanya pada satu-satu-nya-seseorang-yang-masih-aku-anggap-peduli-padaku. Tidak ada yang membalas teriakan-ku. Oh, sungguh? Sialan! Aku tidak tahan untuk tidak mengumpat. Bukan untuk kedua-orang-yang-ku-anggap-peduli tersebut tetapi umpatan itu lebih kepada diriku sendiri. 

Aku memejamkan mataku. Mengingat-ingat semua yang terjadi belakangan ini. Tidak lupa aku mengingat-ingat diriku jauh sebelum aku mengenal mereka-yang-peduli-padaku. Ku buka mataku kembali, menemukan sesuatu yang mengejutkanku. Ya ampun, kenapa aku bisa sebegini lemahnya? Padahal jauh sebelum aku mengenal mereka-yang-peduli-padaku. Aku baik-baik saja. Aku adalah orang yang bisa menyelesaikan masalahku sendiri tanpa perlu merepotkan orang lain. Aku adalah seseorang yang menjadi tempat orang lain untuk berlari jika membutuhkan pendapat. Meskipun tetap, aku adalah orang yang begitu mudah meneteskan airmata namun prinsipku untuk tidak menceritakan masalahku kepada seseorang yang juga mempunyai masalah. Aku adalah seseorang yang menyemangati diri sendiri. 

Lalu kenapa sekarang aku tidak bisa? Sudah cukup aku mendapatkan penolakan oleh kedua orang yang aku anggap peduli padaku. Kalaupun aku lagi-lagi jatuh karena menerima kenyataan penolakan mereka disaat aku membutuhkan kata-kata semangat dari mereka. Toh, aku bisa sendiri. Bangkit dan berdiri dengan tegap lagi. Aku baik-baik saja sebelum ada kedua orang itu dan aku pasti akan baik-baik saja tanpa mereka. Ini hidupku. Aku yang menentukan semuanya.
‘’Karena yang bisa menyelamatkan dirimu, hanya dirimu sendiri’’. Hatiku berteriak meminta untuk didengarkan.

Bukan berarti aku tidak butuh orang lain. Hanya saja, semua rasa terpuruk yang selama ini aku rasakan hanya bisa sembuh jika disembuhkan oleh diriku sendiri. Seharusnya sejak awal aku menyadari hal tersebut. Aku harus berdamai. Berdamai pada semua kesalahan yang aku anggap salah dalam diriku dan atas segala kesalahan yang aku lakukan pada orang lain hingga tidak dapat memaafkan diri sendiri. Berdamai. Memang tidak akan mudah, yang perlu ku lakukan adalah percaya pada diriku sendiri.

...Atau lagi-lagi aku menenggelamkan diriku sendiri. Aku bisa dan aku mampu.

Tuhan, terima kasih. 



p.s: all my writing isn't all about myself, as i wrote in my writing entitled ''Mimpi'' that i just want to inspire others. Masih perlu banyak belajar, i know it. Thanks to Laras, for your support. Love you, Yas. And thanks to all my readers though i'm not sure i've got a lot of readers hahahahahahahahahaha


<<<<<<<------------ sudah sok pake bahasa inggris, sok tulisannya banyak yang baca, dan everything ''sok-sok'' is on me hahahahahahaha



-Abstrack-

Rabu, 18 Juni 2014

Mimpi...



Aku ingin sekali menjadi seorang penulis. Terkenal dan cerita yang ku tulis menginspirasi orang lain. Aku masih ragu dengan mimpi yang kumiliki. Bukan apa-apa. Semua orang tahu, kebanyakan seorang penulis senang membaca tulisan orang lain. Aku pun begitu. Sering membaca tulisan orang lain dan beberapa yang kubaca memiliki tulisan yang begitu bagus, yang memikatku, yang membuatku ingin membacanya terus-menurus, dan yang membuatku menjadi tidak percaya diri dengan tulisan yang kumiliki. Banyak sekali inspirasi dalam kepalaku, ku buka laptopku, jemariku menari-nari diatas keyboard namun hanya beberapa kata yang bisa aku rangkai. Aku kebingungan. Kubaca ulang karanganku dan aku ragu dengan diri sendiri. Benarkah aku ingin menjadi penulis? Aku bertanya-tanya pada diri sendiriyang sungguh sia-sia karena harusnya pertanyaan itu ku pertanyakan kepada seseorang agar ada jawaban yang bisa kutemukan namun kepada siapa? Bukannya aku tidak punya teman yang bisa kutanyakan hal tersebut. Aku juga tidak tahu mengapa aku tidak ingin bertanya kepada teman yang kumiliki. Mungkin saja karena aku sudah tahu apa yang mereka jawab. Mungkin.

Hanya satu orang yang ingin ku pertanyaan tentang hal ini. Tentang mimpi yang masih aku ragukan. Tetapi bagaimana? Bukan. Seseorang itu belum meninggal dunia, kalau kau berpikir begitu. Dia masih sehat bahkan seseorang itu juga sedang berjalan meraih impiannya. Hanya saja aku tidak tahu ingin bertanya bagaimana, sudah sejak lama kami tidak berkomunikasi. Lama sekali. Aku bahkan sudah dilupakan. Memang, lucu sekali. Mengapa mimpi yang kumiliki harus bergantung kepada seseorang. Toh itu mimpiku. Aku sendiri yang memutuskannya. Hanya saja, aku jenis orang yang senang sekali diberikan dorongan terdahulu sebelum bergerak maju. Aku juga jenis orang yang ragu dengan diri sendiri sehingga butuh seseorang untuk membuatku yakin. Kau tidak perlu terkejut ketika masuk kedalam kamarku dan mendapati beberapa kata tertempel didinding untuk menyemangati diri sendiri. Itulah yang kulakukan. Cara agar aku tidak mengemis kepada seseorang yang mungkin sudah melupakanku agar memberiku kata-kata ajaibnya yang selalu kusukai. Sekarang... aku sedang butuh keyakinan tentang mimpiku sendiri. Aku sudah bergulat dengan pikiranku sendiri sejak lama tetapi aku masih tidak juga yakin dengan mimpiku sendiri. Lucu. Sungguh lucu. Aku tidak akan berhenti menertawakan diriku sendiri. Terlalu banyak yang berubah sejak kesalahan kecil dimasa lalu itu mengubah hidupku yang tidak akan dimengerti siapapun. Karena mereka hanya mendengar point-nya saja. Jauh didalam hatiku. Aku marah. Marah pada diri sendiri. Aku ragu pada mimpiku sendiri.

Menginspirasi orang lain? Yang benar saja!



-Abstrack-

Jumat, 30 Mei 2014

Unknown~

Mengapa harus sesuatu yang sama dengan memori kebersamaan kita? Mengapa? Mengapa harus disaat seperti itu, disaat yang sama saat aku menandai bahwa pada saat itu kamu menjadi milikku.

Mungkin saatnya aku berlari, menjauh darimu. Mennyadarkan diriku bahwa kamu tak lagi menjadi milikku, tak lagi sepenuhnya kumiliki. Entah penyesalan ini tak berarti apa-apa, andai saja aku menjauhimu sedari dulu, andai saja aku menyadari bahwa selama ini tak pernah kamu lihat diriku. “Berandailah kawan, semua takkan kembali seperti semula” batinku berkata.

Disatu sisi, aku merasa sangat senang bahwa kamu dengan cepat dan mudahnya mendapat penggantiku di sudut terpenting dirimu. Tapi disisi yang lain, aku masih berharap kamu mau kembali kepadaku. Tapi sekali lagi, perasaan senang akan selalu mengiringiku untuk mendoakanmu dengannya. Selamat!

Kini kamu tlah dengannya, dengan orang lain. Sekarang kamu miliknya, milik si dia yang memiliki senyum semanis senyummu. Harusnya sedari dulu..harusnya begitu. Tapi mau dikata apa, sekarang aku merasakan sendiri penyesalan akibat sikap gegabahku sendiri. Harusnya juga aku memikirkan sejak jauh-jauh hari, memikirkan bahwa “Bagaimana rasanya bila kamu menjadi milik yang lain” tapi pemikiran itu tak pernah terlintas di pikiranku belakangan ini. Harusnya aku memikirkan hal ini sejak pertama kali bertemu, membentuk sebuah hubungan, hingga kita memutuskan hubungan yang kita buat sendiri. Oh maaf! Mungkin kata yang tepat bukan “kita” tapi “aku”, karena aku terlalu menginginkanmu, terlalu mendambakan hubungan aku dan kamu yang lalu. Sejak kita berpisah, aku pikir kamu belum bisa lepas sepenuhnya dari bayangku, seperti aku yang hanya bisa termenung, memikirkan kisah aku dan kamu yang lalu dapat kembali menjadi sebuah kata yang indah “kita”.

Aku mencoba mengingat kepingan kenangan yang masih terekam dengan jelas di hati dan fikiranku, 2 bulan yang lalu saat sebelum kita memutuskan untuk kembali menjalankan kehidupan aku-kamu masing-masing tanpa ada kata indah. Akan kuingatkan kembali kebiasaan aku-kamu sebelum peristiwa yang tak kuinginkan menimpa kita, saat tutur sapaan mesra masih menjadi rutinitas utama aku-kamu, saat kekosongan yang kurasakan kini dulu selalu terisi oleh kehadiranmu, saat senyum ini hanya aku tujukan kepada kamu. Jujur kukatakan, perasaan ini masih ada, masih tak tersentu oleh orang lain. Perasaan rindu, cinta, sayang, perasaan untuk memilikimu. Mungkin itu memang sebuah kesalahan fatal yang kulakukan terhadap pria yang telah dimiliki orang lain. Tapi sekarang kepingan kenangan indah itu telah kususun, kusimpan rapi agar tak teringat kembali. Tlah ku sembunyikan kenangan itu ditempat antah berantah yang takkan pernah kuingat kembali posisinya, susunannya, hingga seluruh hal terkecilpun!

Ketika kekosongan melanda, aku menunggumu, menyanyikan kisah tentang kita yang lalu. Denting suara hati memaksaku memutar kembali masa lalu, untaian makna yang tercinta tlah kuabadikan di tempat yang terindah. Tuhan kembalikan seperti sedia kala, izinkan aku memeluknya untuk sekali lagi agar aku dapat mengenang masa ini selamanya. Saat malam dihari jadi kita yang ke 2 tahun,  aku menyadari bahwa kamu takkan kembali.

Aku terlalu sibuk memikirkan hal-hal lain, dan melupakan hal yang paling mendasar saat ini. Dan sekarang aku merasakannya, “Aku belum siap!!!!” hatiku dengan seenaknya menghujat pemikiranku sendiri.  Kurasakan, ada guncangan hebat didalam diri ini yang memaksaku untuk mengeluarkan semuanya  tanpa terkecuali. Entah mengapa, hati ini tidak ingin bekerja sama dengan pikiran untuk mempermudah segalanya. Hati ini membuatnya semakin sukar untuk dijabarkan! “Ugh!” aku membatin.

Selalu celaan dari pikiran ini menghujat hatiku. Ini diluar batas pemikiranku! Tak kusadari bahwa sesulit  ini saat menerima kenyataan bahwa kamu yang dulu menjadi milikku, kini telah memupuk hubungan baru dengan dia. Ahhhh! Batinku memberontak! Memaksaku untuk melakukan yang tak seharusnya kulakukan.
“Apakah dia mencintaimu seperti aku?”, “Apakah dia mengagumimu seperti aku?”, “Apakah dia menginginkanmu seperti aku?”, “Apakah dia mendambakanmu seperti aku?”, “Apakah dia merindukanmu seperti aku?”, “Apakah dia rela membuang air matanya untukmu seperti aku?”, “Apakah dia selalu menghadirkan bayanganmu difikirannya seperti aku?”, “Apakah dia selalu berharap bahwa sosokmu akan muncul di mimpinya setiap hari?”, “Apakah dia selalu bercita-cita membahagiakanmu seperti aku?”, “Apakah dia selalu mengucap namamu setiap dia melakukan sebuah percakapan dengan Tuhan seperti aku? “. Semua pertanyaan itulah yang muncul dibenakku disaat kamu berhasil menggantikan posisiku dengan dia.

Tolonglah aku, tolong lukislah sebuah kenangan buruk di pikiranku yang membuatku membencimu, membuatku muak untuk memikirkanmu. Karena itu tak semestinya kulakukan, tak semestinya aku memikirkan kamu saat kamu telah dimiliki olehnya. Buatkan aku kenangan buruk wahai kamu! Aku tak dapat mendengar jawabanmu, tapi aku harap kamu bisa mempertimbangkannya dan melakukan permintaan terakhirku.


Waktunya aku untuk membuka lembaran baru seperti yang kamu lakukan. Doa akan selalu terucap, baik untukku maupun untuk hubungan kalian.