Mengapa harus sesuatu yang sama
dengan memori kebersamaan kita? Mengapa? Mengapa harus disaat seperti itu,
disaat yang sama saat aku menandai bahwa pada saat itu kamu menjadi milikku.
Mungkin saatnya aku berlari,
menjauh darimu. Mennyadarkan diriku bahwa kamu tak lagi menjadi milikku, tak
lagi sepenuhnya kumiliki. Entah penyesalan ini tak berarti apa-apa, andai saja
aku menjauhimu sedari dulu, andai saja aku menyadari bahwa selama ini tak
pernah kamu lihat diriku. “Berandailah kawan, semua takkan kembali seperti
semula” batinku berkata.
Disatu sisi, aku merasa sangat
senang bahwa kamu dengan cepat dan mudahnya mendapat penggantiku di sudut
terpenting dirimu. Tapi disisi yang lain, aku masih berharap kamu mau kembali
kepadaku. Tapi sekali lagi, perasaan senang akan selalu mengiringiku untuk
mendoakanmu dengannya. Selamat!
Kini kamu tlah dengannya, dengan
orang lain. Sekarang kamu miliknya, milik si dia yang memiliki senyum semanis
senyummu. Harusnya sedari dulu..harusnya begitu. Tapi mau dikata apa, sekarang
aku merasakan sendiri penyesalan akibat sikap gegabahku sendiri. Harusnya juga
aku memikirkan sejak jauh-jauh hari, memikirkan bahwa “Bagaimana rasanya bila
kamu menjadi milik yang lain” tapi pemikiran itu tak pernah terlintas di
pikiranku belakangan ini. Harusnya aku memikirkan hal ini sejak pertama kali
bertemu, membentuk sebuah hubungan, hingga kita memutuskan hubungan yang kita
buat sendiri. Oh maaf! Mungkin kata yang tepat bukan “kita” tapi “aku”, karena
aku terlalu menginginkanmu, terlalu mendambakan hubungan aku dan kamu yang
lalu. Sejak kita berpisah, aku pikir kamu belum bisa lepas sepenuhnya dari
bayangku, seperti aku yang hanya bisa termenung, memikirkan kisah aku dan kamu
yang lalu dapat kembali menjadi sebuah kata yang indah “kita”.
Aku mencoba mengingat kepingan
kenangan yang masih terekam dengan jelas di hati dan fikiranku, 2 bulan yang
lalu saat sebelum kita memutuskan untuk kembali menjalankan kehidupan aku-kamu
masing-masing tanpa ada kata indah. Akan kuingatkan kembali kebiasaan aku-kamu sebelum
peristiwa yang tak kuinginkan menimpa kita, saat tutur sapaan mesra masih
menjadi rutinitas utama aku-kamu, saat kekosongan yang kurasakan kini dulu
selalu terisi oleh kehadiranmu, saat senyum ini hanya aku tujukan kepada kamu.
Jujur kukatakan, perasaan ini masih ada, masih tak tersentu oleh orang lain.
Perasaan rindu, cinta, sayang, perasaan untuk memilikimu. Mungkin itu memang
sebuah kesalahan fatal yang kulakukan terhadap pria yang telah dimiliki orang
lain. Tapi sekarang kepingan kenangan indah itu telah kususun, kusimpan rapi
agar tak teringat kembali. Tlah ku sembunyikan kenangan itu ditempat antah
berantah yang takkan pernah kuingat kembali posisinya, susunannya, hingga
seluruh hal terkecilpun!
Ketika kekosongan melanda, aku
menunggumu, menyanyikan kisah tentang kita yang lalu. Denting suara hati
memaksaku memutar kembali masa lalu, untaian makna yang tercinta tlah
kuabadikan di tempat yang terindah. Tuhan kembalikan seperti sedia kala,
izinkan aku memeluknya untuk sekali lagi agar aku dapat mengenang masa ini
selamanya. Saat malam dihari jadi kita yang ke 2 tahun, aku menyadari bahwa kamu takkan kembali.
Aku terlalu sibuk memikirkan
hal-hal lain, dan melupakan hal yang paling mendasar saat ini. Dan sekarang aku
merasakannya, “Aku belum siap!!!!” hatiku dengan seenaknya menghujat
pemikiranku sendiri. Kurasakan, ada
guncangan hebat didalam diri ini yang memaksaku untuk mengeluarkan
semuanya tanpa terkecuali. Entah
mengapa, hati ini tidak ingin bekerja sama dengan pikiran untuk mempermudah
segalanya. Hati ini membuatnya semakin sukar untuk dijabarkan! “Ugh!” aku
membatin.
Selalu celaan dari pikiran ini
menghujat hatiku. Ini diluar batas pemikiranku! Tak kusadari bahwa sesulit ini saat menerima kenyataan bahwa kamu yang
dulu menjadi milikku, kini telah memupuk hubungan baru dengan dia. Ahhhh!
Batinku memberontak! Memaksaku untuk melakukan yang tak seharusnya kulakukan.
“Apakah dia mencintaimu seperti
aku?”, “Apakah dia mengagumimu seperti aku?”, “Apakah dia menginginkanmu
seperti aku?”, “Apakah dia mendambakanmu seperti aku?”, “Apakah dia
merindukanmu seperti aku?”, “Apakah dia rela membuang air matanya untukmu
seperti aku?”, “Apakah dia selalu menghadirkan bayanganmu difikirannya seperti
aku?”, “Apakah dia selalu berharap bahwa sosokmu akan muncul di mimpinya setiap
hari?”, “Apakah dia selalu bercita-cita membahagiakanmu seperti aku?”, “Apakah
dia selalu mengucap namamu setiap dia melakukan sebuah percakapan dengan Tuhan
seperti aku? “. Semua pertanyaan itulah yang muncul dibenakku disaat kamu
berhasil menggantikan posisiku dengan dia.
Tolonglah aku, tolong lukislah
sebuah kenangan buruk di pikiranku yang membuatku membencimu, membuatku muak
untuk memikirkanmu. Karena itu tak semestinya kulakukan, tak semestinya aku
memikirkan kamu saat kamu telah dimiliki olehnya. Buatkan aku kenangan buruk
wahai kamu! Aku tak dapat mendengar jawabanmu, tapi aku harap kamu bisa
mempertimbangkannya dan melakukan permintaan terakhirku.
Waktunya aku untuk membuka
lembaran baru seperti yang kamu lakukan. Doa akan selalu terucap, baik untukku
maupun untuk hubungan kalian.