Kami tertawa bersama seperti kelompok-kelompok remaja
lainnya yang bersenang-senang ketika berkumpul kemudian salah satu dari bagian
kelompok melemparkan sebuah lelucon yang membuat semuanya tertawa. Aku ikut
tertawa bersama mereka. Menyamankan diri pada kelompok. Melupakan
masalah-masalah hidup yang tidak bisa lepas dari seorang remaja untuk sejenak.
Katanya, kami bersahabat. Aku merasa kami bukan, jujur saja. Memangnya apa arti
sahabat? Sedih dan senang selalu bersama? Membantu ketika dibutuhkan? Memberikan
solusi ketika ada masalah? Aku tidak mendapatkan apa-apa dari mereka. Kami
sekedar mencari kesenangan sementara bersama-sama. Membohongi diri dan
bertingkah seolah-olah kami adalah kelompok sahabat. Omong kosong. Dari ketika
aku sudah dapat bersosialisasi dengan manusia lainnya dan ketika aku membuat
persepsiku sendiri tentang arti sebuah persahabatan, aku belum menemukannya
sampai sekarang. Oh, tidak juga. Aku sudah pernah mendapatkannya tapi kau tahu,
semua terjadi bukan tanpa alasan. Kadang-kadang kau harus melepaskan sahabatmu
untuk sesuatu hal yang lebih baik. Untukmu atau untuk sahabatmu. Orang-orang
disekitarku terlalu gengsi untuk bertingkah menjadi seperti sahabat untuk orang
lain dengan alasan yang bermacam-macam. Aku tidak mengerti. Sampai sekarang dan
entah kapan aku bisa memahami hal yang satu ini. Karena ketika aku sudah merasa
bahwa aku memahaminya, ada sesuatu hal yang datang padaku untuk menyadarkanku
bahwa aku tidak. Aku sama sekali tidak mengerti apapun disini. Alasan apa yang
membuat mereka tidak ingin berbagi? Alasan apa yang membuat mereka tidak ingin
saling percaya? Alasan apa yang membuat mereka tidak ingin mengulurkan tangan
ketika ada yang terjatuh? Alasan apa yang membuat mereka tidak ingin memberikan
kata-kata manis atau menenangkan pada sahabatnya yang sedang dalam masalah dan
merasa gelisah?
Malu.
Takut.
Malu.
Takut.
Hanya jawaban itu yang terus berputar dalam kepalaku. Tidak
ada jawaban lain. Belum menemukannya, tepatnya. Lagipula tidak ada tempat untuk
bertukar pikiran, sahabatku sudah ku biarkan pergi. Ah, aku menyindir diri
sendiri ternyata. Aku bukannya tidak ingin memulai persahabatan dengan mereka.
Aku sudah mencoba dan lagi-lagi apa yang diharapkan, tidak sesuai dengan
kenyataan. Yah, setidaknya aku sudah mencoba. Kadang-kadang aku ingin sekali
kami saling bertukar pikiran dan saling menceritakan masalah masing-masing lalu
kami akan mencari solusi untuk masalah tersebut. Kadang-kadang aku ingin sekali
kami saling menegur jika salah satu dari kami berbuat salah dan tidak menyadarinya
tanpa ada rasa bersalah atau tersinggung. Dan kadang-kadang aku ingin sekali
kami bermain Truth or Dare ketika Truth dimainkan kami benar-benar berkata
jujur dalam menjawabnya. Keinginan yang
ingin sekali ku buat menjadi kenyataan.
Suasana
senyap yang tiba-tiba menyergap diantara kami membuat ku tersadar dari lamunan
singkatku. Keningku mengkerut, ku pandangi mereka satu per satu. Ada sisa-sisa
tawa beberapa detik yang lalu pada bibir mereka yang masih menyinggungkan
sebuah senyuman tipis. Namun benar kata orang-orang, mata tidak dapat
berbohong. Mereka terlihat seperti melamunkan sesuatu—yang ku tebak adalah masalah
yang saat ini menimpa mereka masing-masing.
Aku menghela nafas, menengakkan posisi dudukku. Kemudian
menerawang dengan memandangi meja di depanku.
‘’Kupikir kita sudah mempelajari soal setiap makhluk hidup
itu saling membutuhkan satu sama lain. Kita sudah bertahun-tahun menghabiskan
waktu bersama. Melihat yang lain dalam masalah dan kita hanya berdiri dalam
diam menonton. Kupikir, kenapa harus hanya berdiam padahal kita bisa bergerak
untuk bertindak? Apa yang membuat kita enggan melakukan hal yang sudah
seharusnya sahabat lakukan? Aku sangat senang mengenal kalian semua,
menghabiskan waktu menyenangkan bersama-sama. Tetapi serius, sangat hambar.
Kita harus belajar untuk menghabiskan waktu bukan hanya untuk kesenangan, tidak
ada salahnya kita mencoba untuk bersedih bersama-sama. Kalian juga tahu,
bersama-sama semuanya akan terasa ringan’’
Aku memberanikan diri untuk menatap mereka kembali, mereka
membalas tatapan ku namun aku tidak tahu apa yang sedang mereka pikirkan. Raut
wajah mereka hanya datar.
Aku kembali menghela nafas lalu mengibaskan tanganku,
‘’Jangan dipikirkan kata-kata ku tadi. Aku berlebihan. Aku tahu. Aku tahu’’ku
anggukkan kepalaku berulang-ulang. Aku tertawa sendiri, merasa bodoh karena
telah mencoba untuk membangun persahabatan diantara kami untuk kedua kalinya.
Suara mendominasi suasana diantara kami lagi. Tapi tunggu...
Mereka memang tertawa tapi ada air mata disana. Eh? Ku
hentikan tawaku. Mereka berfokus padaku. Kepala mereka mengangguk secara
bersamaan kemudian aku disadarkan pada sebuah kenyataan bahwa detik ini
harapan-harapan dan keinginan ku telah dikabulkan. Ingin rasanya aku berteriak
jika aku tidak mengingat bahwa kami sedang berada ditempat umum. Detik
berikutnya mereka menghapus air mata mereka, bergantian mereka saling
menceritakan masalah masing-masing. Sungguh, aku dibuat terkejut oleh
masalah-masalah mereka. Ternyata butuh hal ‘besar’ untuk sesuatu yang ‘besar’.
-Abstrack girl-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar