Kamis, 20 Februari 2014

abstrack



Kami tertawa bersama seperti kelompok-kelompok remaja lainnya yang bersenang-senang ketika berkumpul kemudian salah satu dari bagian kelompok melemparkan sebuah lelucon yang membuat semuanya tertawa. Aku ikut tertawa bersama mereka. Menyamankan diri pada kelompok. Melupakan masalah-masalah hidup yang tidak bisa lepas dari seorang remaja untuk sejenak. Katanya, kami bersahabat. Aku merasa kami bukan, jujur saja. Memangnya apa arti sahabat? Sedih dan senang selalu bersama? Membantu ketika dibutuhkan? Memberikan solusi ketika ada masalah? Aku tidak mendapatkan apa-apa dari mereka. Kami sekedar mencari kesenangan sementara bersama-sama. Membohongi diri dan bertingkah seolah-olah kami adalah kelompok sahabat. Omong kosong. Dari ketika aku sudah dapat bersosialisasi dengan manusia lainnya dan ketika aku membuat persepsiku sendiri tentang arti sebuah persahabatan, aku belum menemukannya sampai sekarang. Oh, tidak juga. Aku sudah pernah mendapatkannya tapi kau tahu, semua terjadi bukan tanpa alasan. Kadang-kadang kau harus melepaskan sahabatmu untuk sesuatu hal yang lebih baik. Untukmu atau untuk sahabatmu. Orang-orang disekitarku terlalu gengsi untuk bertingkah menjadi seperti sahabat untuk orang lain dengan alasan yang bermacam-macam. Aku tidak mengerti. Sampai sekarang dan entah kapan aku bisa memahami hal yang satu ini. Karena ketika aku sudah merasa bahwa aku memahaminya, ada sesuatu hal yang datang padaku untuk menyadarkanku bahwa aku tidak. Aku sama sekali tidak mengerti apapun disini. Alasan apa yang membuat mereka tidak ingin berbagi? Alasan apa yang membuat mereka tidak ingin saling percaya? Alasan apa yang membuat mereka tidak ingin mengulurkan tangan ketika ada yang terjatuh? Alasan apa yang membuat mereka tidak ingin memberikan kata-kata manis atau menenangkan pada sahabatnya yang sedang dalam masalah dan merasa gelisah?
Malu.
Takut.
Malu.
Takut.
Hanya jawaban itu yang terus berputar dalam kepalaku. Tidak ada jawaban lain. Belum menemukannya, tepatnya. Lagipula tidak ada tempat untuk bertukar pikiran, sahabatku sudah ku biarkan pergi. Ah, aku menyindir diri sendiri ternyata. Aku bukannya tidak ingin memulai persahabatan dengan mereka. Aku sudah mencoba dan lagi-lagi apa yang diharapkan, tidak sesuai dengan kenyataan. Yah, setidaknya aku sudah mencoba. Kadang-kadang aku ingin sekali kami saling bertukar pikiran dan saling menceritakan masalah masing-masing lalu kami akan mencari solusi untuk masalah tersebut. Kadang-kadang aku ingin sekali kami saling menegur jika salah satu dari kami berbuat salah dan tidak menyadarinya tanpa ada rasa bersalah atau tersinggung. Dan kadang-kadang aku ingin sekali kami bermain Truth or Dare ketika Truth dimainkan kami benar-benar berkata jujur dalam menjawabnya.  Keinginan yang ingin sekali ku buat menjadi kenyataan.
                Suasana senyap yang tiba-tiba menyergap diantara kami membuat ku tersadar dari lamunan singkatku. Keningku mengkerut, ku pandangi mereka satu per satu. Ada sisa-sisa tawa beberapa detik yang lalu pada bibir mereka yang masih menyinggungkan sebuah senyuman tipis. Namun benar kata orang-orang, mata tidak dapat berbohong. Mereka terlihat seperti melamunkan sesuatuyang ku tebak adalah masalah yang saat ini menimpa mereka masing-masing.
Aku menghela nafas, menengakkan posisi dudukku. Kemudian menerawang dengan memandangi meja di depanku.
‘’Kupikir kita sudah mempelajari soal setiap makhluk hidup itu saling membutuhkan satu sama lain. Kita sudah bertahun-tahun menghabiskan waktu bersama. Melihat yang lain dalam masalah dan kita hanya berdiri dalam diam menonton. Kupikir, kenapa harus hanya berdiam padahal kita bisa bergerak untuk bertindak? Apa yang membuat kita enggan melakukan hal yang sudah seharusnya sahabat lakukan? Aku sangat senang mengenal kalian semua, menghabiskan waktu menyenangkan bersama-sama. Tetapi serius, sangat hambar. Kita harus belajar untuk menghabiskan waktu bukan hanya untuk kesenangan, tidak ada salahnya kita mencoba untuk bersedih bersama-sama. Kalian juga tahu, bersama-sama semuanya akan terasa ringan’’
Aku memberanikan diri untuk menatap mereka kembali, mereka membalas tatapan ku namun aku tidak tahu apa yang sedang mereka pikirkan. Raut wajah mereka hanya datar.
Aku kembali menghela nafas lalu mengibaskan tanganku, ‘’Jangan dipikirkan kata-kata ku tadi. Aku berlebihan. Aku tahu. Aku tahu’’ku anggukkan kepalaku berulang-ulang. Aku tertawa sendiri, merasa bodoh karena telah mencoba untuk membangun persahabatan diantara kami untuk kedua kalinya. Suara mendominasi suasana diantara kami lagi. Tapi tunggu...
Mereka memang tertawa tapi ada air mata disana. Eh? Ku hentikan tawaku. Mereka berfokus padaku. Kepala mereka mengangguk secara bersamaan kemudian aku disadarkan pada sebuah kenyataan bahwa detik ini harapan-harapan dan keinginan ku telah dikabulkan. Ingin rasanya aku berteriak jika aku tidak mengingat bahwa kami sedang berada ditempat umum. Detik berikutnya mereka menghapus air mata mereka, bergantian mereka saling menceritakan masalah masing-masing. Sungguh, aku dibuat terkejut oleh masalah-masalah mereka. Ternyata butuh hal ‘besar’ untuk sesuatu yang ‘besar’. 




-Abstrack girl-