Semua orang benci menunggu, termasuk aku. Tapi sebisa mungkin aku akan membuat menunggu itu menyenangkan, tidak membosankan dan mungkin aku akan membuat menunggu itu menjadi hobiku. Terlebih jika yang kutunggu itu adalah dia yang berhasil membuatku lupa kalau aku sedang menunggu. Tahukan siapa seseorang yang saat ini aku nantikan? Kamulah orangnya.
Semua orang pasti punya titik lelah, titik dimana mereka mulai lelah, muali capek, mulai bosan apabila mereka selalu mencintai namun terus diabaikan, selalu menjaga namun tidak dipedulikan, selau memaafkan namun selalu disia-siakan. Tapi aku tak ingin memiliki titik lelah tersebut, karena aku ingin tetap mencintai kamu, menjagamu, dan memaafkanmu tanpa batas waktu, batas kesabaran, dan batas usia. Dan karena itulah aku tetap menanti dirimu hingga suatu saat kamu akan sadar, sadar bahwa seberapa berharganya selama ini diriku untukmu yang selalu ada disetiap hari-harimu.
Entah kapan, pernah sekali aku ingin masuk didalam titik lelah tersebut, sebab aku merasa takkan mungkin bagimu untuk dapat menjadikanku sebagai seseorang yang berharga. Aku juga merasa bahwa penantian ini hanya sia-sia belaka, karena penantian yang kualami dihadapkan dengan ke-tidak-anggap-anmu terhadapku. Namun, dengan mudahnya semua niat itu gagal teraplikasikan didiriku dan bahkan jiwa ini semakin mengisyaratkanku untuk semakin tetap menantimu hingga pada akhirnya, Kisah penantian panjang ini tak akan seindah dengan apa yang aku bayangkan. Tapi itu tidak akan menjadi masalah bagiku, karena segala sesuatunya telah menjadi konsekuensi yang harus kuhadapi saat aku telah memantapkan hatiku untuk tetap menantimu di dalam sikap "gantung"mu yang selau kamu sematkan kepadaku.
Belakangan ini, aku menyadari hadirnya seorang wanita lain yang sedang dekat denganmu. Jujur saja, sebagai seseoang yang telah menantimu sekian bulan hingga bertahun lamanya pasti akan merasakan sakit yang teramat dalam. Cemburu, iya! aku sangat cemburu, tapi aku takkan bisa secara terang-terangan memberitahukanmu tentang hal ini, karena aku sadar, siapapun aku pasti akan tak berarti apa-apa bagimu, aku hanya kamu anggap sebagai "adik kecil" yang tak pantas untuk dicintai sedalam kamu mulai memperhatikannya, aku yang menurutmu hanya pantas untu diberikan harapan tanpa adanya kepastian yang membuatku tetap berharap dan berharap lagi. Tetapi tetap saja, untuk saat ini aku takkan rela membiarkanmu pergi bersamanya, dengannya! Karena aku bukan wanita munafik yang dengan mudahnya merelakanmu pergi bersamanya sedangkan aku disini hanya mematung meratapi diriku yang telah menantikanmu sekian lamanya tanpa pernah sedikitpun terpikir dibenakmu untuk melirikku.
Walaupun aku masih tetap menantimu hingga detik ini, aku tetap bersyukur karena Tuhan itu baik, baik banget. Tuhan memberikanku sebuah hadiah yang luar biasa, yang spesial, yang istimewa yaitu kamu. Tuhan juga memberiku kepercayaan untuk menjaga hadiah tersebut, walaupun hanya dari jarak yang cukup untuk dapat memandangimu dengan kedamaian. Jadi sebisaku, sekuatku, dan semampuku, aku akan terus menjaga hadiah itu, sampai tiba saatnya. Tuhan mengambilnya dan menyerahkannya kepada orang lain, iya! Orang yang jika menurutmu dia lebih baik daripada aku, silahkan serahkan kepada dia Tuhan, silahkan pilih diam dan silahkan meninggalkanku. Rela tidak rela, aku harus rela. Mau tidak mau, aku harus mau. Suka tidak suka, aku harus suka. Dan siap tidak siap, aku harus siap. Tapi, kamu cukup mengingat satu hal bahwa "aku takkan pernah baik-baik saja disini tanpamu"
Ketika aku sedang sendiri, sekilas itu pula bayanganmu selau hadir tiba-tiba dipikiranku. Tanpa permisi, tanpa meminnta izin, dan tanpa basa-basi. Sekilas kenangan disaat aku merasakan setiap detik-detik kebersamaan kita selau terulang secara tiba-tiba diotakku. Lagi-lagi tanpa permisi, tanpa meminta izin, dan lagi-lagi tanpa basa basi. Semuanya muncul disaat yang tidak tepat, semuanya hadir sesukanya, semaunya, seenaknya, semuanya tak sadar bahwa dengan kemunculannya dan kehadirannya hanya akan membuatku terdiam, terkadang juga membuatku menangis, terkadang juga membuatku untuk semakin berharap kepadamu, lalu tiba-tiba membuatku merindukanmu, sampai akhirnya perasaan itupun semakin menggila. perasaan yang sama yang dulu hingga sekarang masih tetap kurasakan tanpa tergoyakkan sedikitpun, perasaan yang sama yang selau kuberikan kepadamu, perasaan sayang, belum siap kehilangan dan tak pernah tau dan takkan ingin tau caranya merelakan.
Saat malam menjelang, disaat telah kuistirahatkan tubuh lelah ini dalam menjalankan keseharianku, tak ada habisnya aku berharap sebelum memejamkan mata agar didalam mimpi untuk bertemu dengamu. Tak ada habisnya aku berharap sebelum memejamkan mata agar bisa memelukmu didalam mimpi. Tak ada habisnya aku berharap sebelum memejamkan mata agar aku dapat menatapmu lebih lama. Iya, hanya didalam mimpi aku bisa melakukan itu semua. Iya! hanya didalam mimpi aku bisa berharap itu semua dengan kamu. Sebab didunia nyata, itu semua takkan terwujud. Terlebih lagi, karena aku tak memiliki hak, dan terlebih lagi disini hanya aku yang berharap dalam penantian panjang. Kamu "tidak"
Untukmu wahai seseorang yang selalu kuharapkan kehadiranmu
By : Unknown~